163 Tahun Sebelum Merdeka, Kalianda Pintu Gerbang Perlawanan Lampung

Kamis, 17 Agustus 2023 13:52
(Foto Ist)

Oleh Muhammad Junaidi *

HARI ini, kita merayakan dengan suka cita HUT ke-78 Kemerdekaan RI. Ratusan tahun sebelum merdeka, para pejuang seluruh pelosok negeri telah berperang menolak Kolonial Belanda (VOC) , termasuk di Pulau Sumatera. Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan menjadi "Pintu Gerbang" perlawanan rakyat provinsi ini dari penjajah yang berpusat di Batavia. 

Pada tahun 1682 , Lampung menjadi wilayah dalam kendali perdagangan VOC. “Hadiah” atas bantuan VOC dalam mematahkan “perlawanan” Sultan Ageng Tirtayasa atau yang biasa Belanda sebut sebagai Sultan Tua yang ketika itu bermarkas di Tirtayasa dan Tanara.

Pascakekalahan Sultan Agung Tirtayasa atas tahta yang direbut anaknya, yakni Sultan Abdul Kahar Abu Nazar atau biasa disebut Sultan Haji, pada bulan Juli 1682, rombongan Komite Banten dan Belanda dikirim ke Lampung di bawah komando Koopman Everhaard van Der Schuur.

Sang komandan didampingi dua menteri utama Kesultanan Banten, yakni Pangeran Aria Nata Negara dan Aria Wangsa Yuda. Sehubungan dengan pengiriman komite ini, Herbert de Jager menyusun deskripsi rinci tentang wilayah Lampung.

Baca juga: Upacara HUT ke-78 RI, Dico Serahkan Remisi kepada 232 Napi Lapas IIA Kendal

Pada tanggal 30 Agustus 1682, rombongan tiba di Tanjung Tiram selanjutnya menuju pelabuhan tua Majapahit di Semaka bernama Karang Kandang. Mereka memanggil semua penguasa Lampung agar tunduk pada Sultan Haji dan VOC guna mendapatkan pasokan lada.

Bermodalkan Surat dari Sultan Haji yang berisi aliansi VOC dan Sultan Haji dalam mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa sehingga VOC diperkenankan untuk secara langsung membeli lada pada penguasa penguasa Lampung, maka Pangeran Nata Negara memanggil semua penguasa Semaka ( DR 1682; Hal 1040).

Surat Sultan Haji ini ditujukan kepada seluruh penguasa Lampung yang oleh Pangeran Nata Negara disalin dan ditujukan ditujukan kepada Radja Ngombar, pengganti Pangeran Pourba Nagara di Semaka: Tomongong Santa Baija di Betong ; Dipati Anum, Dipati Mawoes Pati ; Dipati Raja Nagara di Beloe ; Tommongong Sienga Wiedeka di Poetih ; Dipati Wangsa Radja di Tellokbetong ; Depattij Alleen Padang di Calagoeran; Tomongong Soera Dzjaja di Minanga; Aria Soera di Laga di Saboe ; Dipattij Singa Jouda di Ponduh; Tomongong Tawong Alon di Pidada;
Dipattij Dzjaja Negara,Dipattij Soera Taroena, Dipattij Ingewanti, di negeri negeri Sakampung ; Aria Tjendra Sana di Pubian ; Nagabei d’Zjagentaka, Nagabeij d’Zjagapattij di Dente; Aria Nietip Radzja di Pagar Dewa; Aria Zatsja Natta di Toelangbawang; Aria Siera Nawa di Rate. (Daght Register 1682; hal; 1045)

Pada tanggal 3 September 1682, Pangeran Nata Nagara bersama-sama dengan Aria Wangsa Jouda pergi ke daratan untuk memanggil para bupati Lampung ke Karang Kandang. Koopman Everhard van der Schuur, submerchant Holscher, nakhoda Meppel dan pemegang buku kapal, bergabung juga dalam pertemuan tersebut.

Baca juga: Pemkot BL Beri Waktu 3 Hari K5 Tak Jualan di Tempat-Tempat Ini

Para penguasa yang hadir, yaitu Raden Bangsa Luwa, wakil Raja Ngombar, Adipati Ongar, kepala di Tenga; Adipati Karadjan kepala di Goenoeng Raya; Menak Sonkadja kepala Moulong maya; Menak Demang dan Ki Maas Karta Wisesha, kepala Beton, Raden Benauakalin menggantikan Angabei Pourba kepala di Agon; Tumenggung Singa Widacka kepala Negori Pouti; Singa de Raja dari Djaallang; Angabei Kalakantons bupati Madan dan Nachoda Lebih, kepala beberapa orang Melayu yang tersebar. ( DR 1682; Hal;1150)

Dari pertemuan ini diketahui bahwa sebelumnya Sultan Ageng telah memerintahkan penguasa Minanga yang bernama Aria Sura Jaya dengan membawa 40 buah pencalang berisi prajurit-prajurit dari Merak, Jo, Pangkul, Rajabasa, Telukbetung, Keteguhan, Menanga Ratai dan Pedada untuk menyerbu daerah Semangka, menangkap penguasa Semaka Raja Ngoembar pengganti pangeran Purbanegara dan menahan 2000 orang penduduk Semaka.

Selain itu penduduk Semaka dikenakan denda sebesar 5 Ringgit per kepala. Tindakan ini sebagai konsekuensi atas keberpihakan Pangeran Purba Negara penguasa Semaka kepada Sultan Haji.

Everhaard van Der Schuur dalam catatan nya menyatakan ” en den 30en des voorleden maants ontrent Carang Candon, de strand- en tholplaats van Madjapaijt (zijnde de voornaamste negorie in dat lantschap) ten anker gekomen en verstaan dat de inwoonders gereet stinden uijt vreese voor d’onse naar ‘t geberghte te vlughten en dat Radja Ombar, de successeur van Pangeran Pourba Nagara, met meer andere De pattijs naar Minange was vertrocken en dat eenen Radin Bangsabuwa sijn steede bewaarde, denwelken op de ontbiedinge en gedaane verseekeringe aan ons boort was verscheenen met beright dat den Aria Souroudjaja de wapenen voor den ouden Bantamsen Sulthan opgevat en een getal van 40 welbemande vaartuijgen bijeen vergadert, waarmede veele insolentien en roverijen bedreven, de inwoonders ijder 5 Rd” afgeperst en ruijm 2000 der selver met sigh naar Minange weggevoert hadde “.( DR 1682; Hal; 1150)

Baca juga: Bupati Tanggamus Dewi dan KBPP Bagikan Bendera Merah Putih

Aan Kiaij Zoera Dzjaja op Minanga resideerende, gelast was geworden om met een versamelde maght van Lampong Tellock en Lampong Pasisir het lant van Samangka te bestoken en den Hoofd-Gouverneur aldaar nevens de andere mindere regenten, die zig daartegen stelden, om ‘t leven te brengen, dat aldus op ijder van dese volgende plaatsen als Merak, Dzjok, Pangkul, Radzjabasa, Tellocq Betong, Katagohan, Minaangarate en Pidade een patsjalang uijtgerust wesende, de voornoemde Kiaij Aria met die macht voor Samangka gekomen en Radzja Ngombar, oom en successeur van Pangiran Pourbanegara, die een weijnig tijt te voren overleden was, in sijn resi dentieplaats belegert en ook eijndelijck, alsoo van de zijne verlaten wierd, in handen gekregen ende ‘t hooft afgekapt had, brengende hij met de voor schreven 10 patsjalangs het oorlapjen van dien Radja, ( DR 1682; hal ; 1264)

Catatan ini menjelaskan bahwa Kehadiran armada VOC di Karang Kandang tidak disambut dengan baik dikarenakan penduduk Semaka melarikan diri ke gunung-gunung, akibat serangan yang dilakukan sebelumnya oleh Aria Suradjaya dan pasukannya.

Penguasa yang tinggal di Karang Kandang hanyalah wakil dari Raja Ngumbar yang bernama Radin Bangsa Buwa. Setelah pertemuan dilakukan di Karang Kandang atas saran para penguasa di Semaka armada Van Der Schuur bersama Menteri Kesultanan Banten dan perahu perahu dari semaka berlayar menuju Sabo ke Negeri Ratai.

Dalam perjalanan menuju Ratai, armada ini bertemu dengan Raja Ngombar yang sebelumnya ditangkap oleh Aria Surajaya, Penguasa Semaka ini ditinggalkan di Pulau Legundi. Sedangkan Adipati Surajaya melarikan diri menuju pedalaman hutan bersama dengan 16 peerahu dan 400 pasukannya.

Setibanya iringin iringan Kapal ini di Ratai mereka disambut dengan bendera putih oleh para penguasa atau Adipati dari pidada, Punduh, Sabu, Menanga dan Ratai. “komende daarop de regenten uijt de omleggende negorijen Padade, Pondo, Ratte, Saboe en Menanga met witte vaantjes aan ons boort om des Conings gesanten te verwellekomen”

“Datang kemudian para bupati dari negeri Pidade, Pondo, Ratte, Saboe dan Menanga dengan panji-panji putih untuk menyambut pejabat kesultanan” (DR 1682; hal 1151)

Tampaknya kehadiran armada ini dan dengan diserahkannya surat dari Sultan Haji membuat penguasa penguasa ini berbalik mendukung Sultan Haji, sama halnya dengan Kapal kapal Lada milik Kesultanan Selebar yang sebelumnya telah bersiap berperang dengan menempatkan 1200 orang pasukan dengan 40 meriam dan 200 senjata api dihulu sungai di daerah Menanga Ratai namun setelah mendengar penjelasan dari seorang ulama bernama Tuan Mashor disertai surat Sultan Haji kepada penguasa Selebar, kapal kapal Melayu ini dengan sukarela menjual ladanya kepada Van Der Schuur. (DR 1682; hal 1151)

Baca juga: Polda Lampung Turut Apel Kehormatan dan Renungan Suci HUT ke-78 RI

Berbeda dengan penguasa penguasa di pesisir Teluk Betung, orang orang pesisir Batu Andak atau orang orang Kalianda enggan untuk menghadap ke Pangeran Nata Negara sebagai wakil dari Kesultanan Banten, hal ini dicatat dalam laporan Pangeran Nata Negara kepada Sultan Banten.

Voorts zoo is al het volcq van Tellok Betong met haren Dipati Wiera Radzja oock al bij mij, sijn slaaff, verscheenen, dog het volck van Kalianda met haar Dipati Wangsa Radzja ende degeene, die sijn sude houden en sijn nog niet voor mij, sijn slaaff, gekomen en heb ick, sijn slaaff, een Dipati Wira Radzja daarop naar Kalianda afgevaardigt“.

Semua kepala penguasa di daerah Tellok Betong dengan Dipati Wira Radzja-nya juga telah muncul bersama tetapi orang-orang Kalianda dengan Dipati Wangsa Radzja-nya mereka tetap semangat melawan dan belum datang menghadap. Untuk itu ia mengirim Dipati Wira Radja ke Kalianda( DR 1682; Hal ; 1251)

Keengganan orang orang Kalianda untuk bekerjasama dengan VOC dan Sultan Haji dinarasikan oleh Anhar Gonggong sebagai berikut ” Van Der Schuur melaporkan bahwa para penguasa di Batu Andak, tidak bersedia datang untuk berdamai, karena mereka menganggap Belanda sebagai musuh.

Mereka bertekad untuk bertempur terus dan tidak mau berunding. Ternyata mereka kemudian menyerbu Telukbetung dan membumihanguskannya. Sementara itu para duta Banten mulai berusaha mengirimkan kurir ke daerah Lampung Utara dengan perantaraan anak buah ulama Tuan Masyhur.

Mereka rneminta agar para penguasa di Lampung Utara segera berpihak pada Sultan Haji” (sejarahPerlawanan thd Imperialisme di Lampung; P dan K 1993; hal 26)

Penyerahan monopoli lada Lampung kepada VOC oleh Sultan Haji agaknya tak berjalan mulus. Selain penyerangan Aria Sura Djaya di Semaka ternyata sesaat setelah kedatangan VOC di Semaka, Negeri Kiam yang terletak di timur Sungai Semaka diserang.

Penyerangan ini mungkin dikarenakan negeri ini berada langsung dibawah pengawasan Pangeran Nata Negara. Untuk memadamkan pemberontakan serta meneguhkan kekuasaan Sultan Banten maka dilakukan penyerangan ke Negeri Siam, Ada 96 orang pejuangv ditangkap. (DR 1682; hal 1372)

Sementara itu perburuan atas pasukan Adipati Sura Jaya dipedalaman hutan terus dilakukan oleh Rangga Mas Pati/Nuwas Pati dan Singa Baraja dengan 50 orang pasukannya. Tak diketahui apa hasilnya, sebab Pangeran Nata Negara dalam laporan kepada Sultan Haji hanya menuliskan ” Maka aku dan pasukanku menyebabkan Arija Sura Jaya melarikan diri di hutan, selanjutnya Ranga Mahus Pati dan Shenga Baradja bersama 50 orang dari kaumnya pergi ke sana”. (DR 1682 ; hal; 1251)

Alih alih meciptakan situasi kondusif, penangkapan 96 pemberontak di Negeri Kiam dan perburuan atas pasukan Adipati Aria Surajaya malah membuat situasi semakin memanas. Hal ini dikarenakan pada tanggal 11 November 1682, orang orang Melayu bersama orang Lampung dari pegunungan dengan pasukan sejumlah 450 orang melakukan serangan ke Negeri Sabu.

Raja Ngombar terluka dan melarikan diri ke kapal VOC dan penyerangan ini dapat dihentikan oleh serangan meriam dari kapal kapal VOC. (DR 1682 ; hal 1372)

Selain itu dalam laporannya Pangeran Nata Negara menyampaikan bahwa Pangiran Coelon dan Ratoe Bagust Zouria Nata, kepala Tanara Banten, telah bepergian dengan 500 orang untuk melawan Lampung Samanka yang berpihak pada VOC dan Sultan Haji dan bahwa mereka sudah berada di Lampung Watu Anda/Kalianda.

“De reden, die sij gehad hebben om sig absenteren, is een gerugt die daar gelopen heeft, dat Pangiran Coelon en Ratoe Bagust Zouria die Nata, opperhooft van Tanara, onderweegs waren met 500 man om Lampon Samanka te beoorlogen en dat se alree op Lampon Watoe Anda aan lant waren getreden“.( DR 1682; hal 1374)

Baca juga: Pengamat: Pidato Jokowi Tak Bahas Masalah Krusial Pemberantasan Korupsi, Netizen: Mana Berani

Tak diketahui bagaimana kelanjutan dari perlawanan ini, namun berdasar catatan Dagh Register Batavia Casteel tertanggal 15 Desember 1682, Sultan Banten menganugerahkan gelar kepada Raja Oembar dengan Gelar Baru yakni Aria Raja Manggala, kemudian Ki Mas Anum putra dari Pangeran Purba Negara mendapat gelar Dipati Santa Prana dan terakhir Rangga Maspati/Rangga Nuwaspati mendapat gelar Tumenggung Soedarsana. (DR; hal 1371)

Situasi panas di Lampung saat itu belum dapat dipadamkan dikarenakan armada Van der Schuur pada tanggal 21 November 1682 harus meninggalkan Lampung dengan alasan bahwa kapal kapal mereka telah dipenuhi dengan lada.

Meskipun demikian Pangeran Nata Negara dalam laporannya menyatakan “tegenwoordig kan men niet meer peper van de Lamponders koopen, die onse vijanden sign geworden” “tidak mungkin lagi membeli lada dari Lampung yang telah menjadi musuh kita” (DR 1682; hal 1374).

WILAYAH LAMPUNG

Herbert de Jager membagi Lampung dalam dua wilayah, yakni Lampung Selatan dan Lampung Utara. Lampung Selatan dibagi menjadi tiga lanskap utama, yakni Semaka, Teluk, dan Lampong Pasisir atau Batoe Andak sedangkan Lampung Utara adalah Sekampung, Nibung, Penet, Seputih dan Tulang Bawang serta lainnya.” (Dagh Register 1682; Hal:1046)

"Het Zuijder Lampong dan wert in 3 hooftlandschappen verdeelt als Samanca, Tellocq en Lampong Pasisir of Batoe Andack, verstaande onder ‘t Noorder Lampon de quartieren van Sacampong, Inbong , Penat, Poetig en Toelang Bawang etc".

Untuk daerah Batu Andak sendiri tak banyak menyebutkannya, Jager memulai dengan kalimat setelah ini dilanjutkan ke Lampong Batoe Andok atau Lampong Pasisir, kita akan menemukan di sana sebuah tempat bernama Kali Oerang, menghiasi Kalianda dengan area kecil di sana, di mana setiap tahun sebanyak 4 hingga 500 bhar lada kering diperoleh.

Setelah itu bertemu Tanjung Kalianda, kemudian Koetzij Tanko/Tengkujuh, kemudian Djo Betong Besar dimana tinggal penguasa bernama Surah Brata dan Betong Kitsji tempat tinggal dari kepala negeri yang bernama Demang Shenga Wiloja, mereka memiliki tiga pulau yang terletak di seberangnya yang disebut Poeloe Tjondang, pulau yang penuh dengan pohon kelapa.

Yang paling barat disebut Pulau Hoven di Peta Sunda, melampaui negeri Tjanggoeng dan lebih jauh ke tempat bernama Tjanti, tepat di seberang sebuah pulau kecil disebut Poeloe Moencaq dan Poeloe Sabalang. Sedikit lebih jauh terletak Sombosa/ Soempok, kemudian Banding, selanjutnya akan tiba di Rajabasa tempat utama dan ibu kota wilayah Lampung, tempat tinggal Adipati Wangsa Radja.

Baca juga: Pemprov Lampung Gelar Apel Kehormatan dan Renungan Suci Memperingati HUT RI ke- 78 di Taman Makam Pahlawan

Batu Andak adalah daerah yang nyaman dimana berbagai keperluan dapat di temukan seperti yang disebut dalam Peta Sunda, dari tempat itu terlihat gunung yang tinggi dan juga ada gunung di daratan yang disebut Boekiet Hoedjong, juga terdapat tiga pulau yang disebut Poeloe Tiga atau Satiga.

Di sudut dataran berada negeri Pangcull, Negeri Lambus dan Negeri Merak selanjutnya Koenjer. Tentang dua pulau yang dekat dengan pantai di peta, penduduk asli menyebutnya Poeloe Manckoedoe.

Di seberang tebing laut Pulau Sakapel terdapat negeri Batoe Wara, Kahe Besar dan Kahe Kecil. Disudut sebelah barat disebut Tandjong Batarah, berlayar kearah timur di sisi utara sungai sekitar 14 mil ke atas terletak negeri Gatungan/pegantungan, tempat lada utama di distrik itu diperoleh.

Selanjutnya Negeri Bako/Bakau karena ada tempat berlabuh yang baik, dan menurut laporan dari Sura Derpa, 15 kapal dengan merica yang ingin ke Batavia tergeletak disana, karena takut akan kapal pemangsa Sulthan Ageng. Selanjutnya ke utara terdapat negeri Sumur dan hanya melewati sudut sana tempat Loegocq/ Roegoek berada, di mana ini adalah pemisahan Lampong Pasisisier atau batu Andak.

Perlu dicatat bahwa seluruh sisi selatan memiliki cuaca yang baik namun memiliki ombak yang besar, juga memiliki pegunungan yang sangat curam, di dalam negeri yang tidak berpenghuni atau hampir tidak berpenghuni, termasuk tidak ada daerah yang dapat cukup dimasuki atau dapat berlayar jauh ke atas untuk membawa lada ke tempat paling pedalaman ini.


* Pemerhati sejarah
* Ketua DPC Partai Demokrat Lampung Selatan

Berita Terkini