HELOINDONESIA.COM -Isu mengenai gelar haji mantan Presiden Joko Widodo atau Jokowi kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Narasi yang beredar mempertanyakan arti huruf “H” di depan nama Jokowi. Bahkan, muncul tudingan bahwa huruf tersebut bukan singkatan dari Haji, melainkan merujuk pada nama lain, seperti “Handoko” atau “Hebertus”.
Polemik tersebut bukan hal baru. Isu serupa pernah muncul saat Pemilihan Presiden 2014 dan kembali berulang dalam berbagai kesempatan. Jokowi sendiri telah menjelaskan bahwa gelar Haji yang melekat pada namanya diperoleh setelah menunaikan ibadah haji pada 2003.
Kali ini, kesaksian mengenai keberangkatan Jokowi ke Tanah Suci disampaikan oleh mantan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru. Melalui video klarifikasi yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada 17 Oktober 2026, ia membantah narasi yang menyebut Jokowi belum pernah menunaikan ibadah haji.
Dalam keterangannya, ia mengaku menjalankan ibadah haji bersama Jokowi pada 2003. Saat itu, Jokowi belum menjadi pejabat negara dan masih berprofesi sebagai pedagang.
"Saya memberikan kesaksian bahwa saya benar pada tahun 2003 melaksanakan ibadah haji bersama Pak Jokowi, yang waktu itu belum menjadi pejabat negara, masih sebagai seorang pedagang," ungkapnya.
Ia kemudian menceritakan pengalaman selama berada di Tanah Suci. Salah satu kenangan yang disampaikan adalah ketika mereka menempati tenda yang sama di Padang Arafah. Momen tersebut, menurutnya, menjadi awal terjalinnya hubungan pertemanan yang berlanjut hingga sekarang.
"Kami tinggal di bawah satu tenda di Padang Arafah. Sejak saat itulah kami berteman dan terus berkomunikasi," ujarnya.
Kesaksian tersebut disampaikan untuk meluruskan informasi yang kembali beredar dan mempertanyakan status haji mantan Presiden tersebut. Ia menilai narasi yang memutarbalikkan keterangannya perlu diklarifikasi agar masyarakat tidak memperoleh pemahaman yang keliru.
Polemik mengenai gelar haji Jokowi menunjukkan bahwa informasi lama dapat kembali menjadi perbincangan ketika beredar di media sosial. Karena itu, masyarakat diharapkan memeriksa sumber informasi dan memperhatikan konteks pernyataan sebelum menyimpulkan kebenaran suatu klaim.
Klarifikasi ini diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai pengalaman ibadah haji Jokowi pada 2003 berdasarkan kesaksian orang yang mengaku menjalankannya bersama.***(Adi)
