Helo Indonesia

Jelang 81 Tahun, Indonesia Penuh Topeng dan Paradok Lewat Cermin Senjata di Yayasan Pendidikan

Herman Batin Mangku - Opini
Minggu, 9 Agustus 2026 21:46
    Bagikan  
-
HELO LAMPUNG

- - Majid

Penulis Majid Lintang
Jurnalis Senior

MENJELANG peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, bangsa ini kembali dikejutkan oleh kabar yang mengguncang nurani. Di sekolah swasta, seorang pemimpin lembaga pendidikan kedapatan menyimpan hampir 1.000 senjata dan ribuan amunisi di ruangan yang dikuncinya rapat-rapat.

Di saat kita bersiap mengibarkan Bendera Merah Putih lebih tinggi, ketika pintu dibuka, sesuatu yang selama bertahun-tahun tersembunyi di balik gembok akhirnya terkuak. Ada ruang yang dikunci rapat yang dikira banyak orang isinya arsip, buku-buku lama, atau tumpukan meja rusak yang menunggu dilelang.

Namun, ketika pintu itu dibuka, yang keluar bukan bau kapur tulis, melainkan aroma ironi. Senjata, amunisi, alat pembuat peluru, narkotika, hingga VCD porno. Lengkap. Seolah seseorang sedang membangun sebuah peradaban alternatif di balik tembok sekolah—peradaban yang tak mengenal bunyi bel, hanya denting logam.

Sekolah adalah tempat anak-anak belajar mengeja kata masa depan, terlebih di tengah semangat menyambut usia ke-81 kemerdekaan bangsa ini, ketika kita kembali diingatkan tentang cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi selalu ada orang dewasa yang lebih pandai mengeja kata kesempatan.

Kesempatan memanfaatkan jabatan. Kesempatan meminjam nama lembaga yang dihormati. Kesempatan bersembunyi di balik seragam, institusi, dan reputasi yang seharusnya menjadi benteng kepercayaan.
Barangkali kita memang hidup di negeri yang terlalu murah hati kepada topeng.

Kita lebih sibuk mengecat papan nama daripada memeriksa apa yang disimpan di belakangnya. Selama plang bertuliskan "yayasan", orang merasa cukup tenang. Padahal kadang-kadang, yang paling gelap justru bersembunyi di tempat yang paling terang.

Yang menggetarkan bukan semata jumlah senjatanya. Bukan pula banyaknya amunisi.
Yang menggetarkan adalah kenyataan bahwa benda-benda itu bisa berdiam begitu lama di lingkungan yang setiap pagi diawali doa, lagu kebangsaan, dan pengibaran bendera.

Di usia 81 tahun Indonesia merdeka, kita masih harus bertanya: bagaimana mungkin ruang pendidikan bisa menjadi tempat persembunyian sesuatu yang begitu jauh dari nilai kemerdekaan itu sendiri?

Kita rajin mengajarkan murid tentang kejujuran. Tetapi terlalu sering lupa menguji kejujuran orang dewasa yang memegang kunci. Negeri ini memang gemar menciptakan paradoks. Gudang beras kosong, gudang senjata justru penuh. Perpustakaan sepi buku, tetapi ada ruang yang sesak oleh benda yang tak pernah masuk daftar alat peraga pendidikan.

Lalu kita akan kembali terkejut. Seolah-olah kejahatan selalu datang dari tempat asing. Padahal berkali-kali ia lahir dari alamat yang kita hormati. Dari kantor yang kita datangi. Dari lembaga yang kita percayai. Dari ruang yang selama bertahun-tahun tak pernah ada yang berani bertanya:

“Apa sebenarnya isi di balik pintu itu?”

Barangkali masalah terbesar negeri ini bukan kurangnya kamera pengawas. Melainkan terlalu banyak mata yang memilih menutup kelopak.
Kita lebih suka percaya pada gembok daripada pengawasan.

Kita menganggap pintu yang terkunci adalah tanda keamanan, padahal kadang ia hanyalah tirai yang menunggu dibuka oleh keberanian. Dan ketika pintu itu akhirnya terbuka, di tengah usia 81 tahun Indonesia merdeka, kita kembali mengucapkan kalimat paling akrab di republik ini:
“Kok bisa?”

Padahal pertanyaan yang semestinya diajukan jauh lebih memalukan: Mengapa kita baru bertanya setelah semuanya telanjur tersimpan begitu lama? Negeri ini memang gemar menciptakan paradoks. Gudang beras kosong, gudang senjata justru penuh. Perpustakaan sepi buku, tetapi ada ruang yang sesak oleh benda yang tak pernah masuk daftar alat peraga pendidikan.

Lalu kita akan kembali terkejut.

Seolah-olah kejahatan selalu datang dari tempat asing. Padahal berkali-kali ia lahir dari alamat yang kita hormati. Dari kantor yang kita datangi. Dari lembaga yang kita percayai. Dari ruang yang selama bertahun-tahun tak pernah ada yang berani bertanya:

“Apa sebenarnya isi di balik pintu itu?”

Barangkali masalah terbesar negeri ini bukan kurangnya kamera pengawas. Melainkan terlalu banyak mata yang memilih menutup kelopak. Kita lebih suka percaya pada gembok daripada pengawasan. Kita menganggap pintu yang terkunci adalah tanda keamanan, padahal kadang ia hanyalah tirai yang menunggu dibuka oleh keberanian.

Dan ketika pintu itu akhirnya terbuka, di tengah usia 81 tahun Indonesia merdeka, kita kembali mengucapkan kalimat paling akrab di republik ini: “Kok bisa?”
Padahal pertanyaan yang semestinya diajukan jauh lebih memalukan: Mengapa kita baru bertanya setelah semuanya telanjur tersimpan begitu lama?

Sebab mungkin, ruang yang terbuka itu hanya satu dari sekian banyak pintu yang selama ini kita biarkan terkunci.
Di negeri ini, barangkali masih terlalu banyak ruang yang belum dibuka. Terlalu banyak gembok yang kita anggap sebagai tanda keamanan.

Terlalu banyak pintu yang kita hormati hanya karena di depannya terpampang nama lembaga, jabatan, yayasan, kantor, atau institusi yang terdengar begitu terhormat.
Dan di balik pintu-pintu itu, siapa tahu, masih tersimpan ribuan paradoks.

Bisa jadi ada tempat yang dari luar tampak mengajarkan kejujuran, tetapi di dalamnya menyimpan kebohongan. Ada yang berbicara tentang moral, tetapi menyembunyikan perilaku yang tak bermoral. Ada yang setiap hari mengajarkan disiplin, tetapi justru mengakali aturan.

Ada yang berdiri paling depan meneriakkan nasionalisme, tetapi diam-diam menggerogoti kepentingan bangsa.

Itulah Indonesia dengan segala paradoksnya. Negeri yang gemar menampilkan wajah baik di depan, sementara sebagian keburukan disimpan rapat-rapat di belakang. Negeri yang terkadang lebih sibuk merawat citra daripada membongkar masalah. Negeri yang sering baru berani bertanya setelah pintunya didobrak, setelah kasusnya terbongkar, setelah kamera menyala, setelah publik gaduh.

Barangkali yang kita lihat hari ini hanyalah satu topeng yang terlepas. Masih mungkin ada ribuan topeng lain yang belum jatuh. Ribuan ruang yang masih terkunci. Ribuan gembok yang belum disentuh. Ribuan paradoks yang belum terbongkar. Dan mungkin pula, ribuan cerita yang selama ini hidup diam-diam di balik institusi yang kita percaya.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar siapa yang menyimpan senjata, narkotika, atau benda terlarang di balik pintu. Persoalannya adalah berapa banyak lagi pintu yang harus dibuka agar kita benar-benar tahu wajah negeri ini?
Sebab Indonesia tidak kekurangan wajah.

Yang mungkin masih kurang adalah keberanian untuk membuka topengnya. Dan selama kita masih menganggap pintu tertutup sebagai tanda bahwa semuanya baik-baik saja, jangan heran jika suatu hari kita kembali terperanjat.

Sebab di republik yang penuh paradoks ini, yang tampak terang belum tentu tanpa bayangan. Yang tampak bersih belum tentu tanpa noda. Dan yang tampak terhormat belum tentu tak menyimpan sesuatu di balik pintu yang terkunci. ***