Negara Kehilangan Wajahnya di Jenazah Bocah Kurus Sakit di Tepi Jalan

Minggu, 24 Mei 2026 11:43
Prof. Sudjarwo HELO LAMPUNG

Penulis Prof. Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati

BEBERAPA waktu lalu media yang digawangi Herman Batin Mangku (HBM) ini menerbitkan berita kemanusiaan yang banyak orang meminggirkannya, yaitu ditemukannya jasad anak perempuan di dalam kardus di tepi jalan, di wilayah provinsi ini bagian selatan.

Membaca berita itu hati menjadi pilu, entah…kepiluan itu muncul karena peristiwanya atau karena cara HBM menulisnya; bisa jadi dua-duanya. Tergerak hati ingin menulis peristiwa itu dari sisi lain, sisi sunyi atasnama kemanusiaan.

Berdasarkan informasi yang tertulis pada berita itu; ditemukan mayat seorang bocah perempuan berusia sekitar dua belas tahun. Tidak ada kartu identitas, tidak ada alamat rumah, tidak ada tanda yang menjelaskan siapa dirinya.

Baca juga: Jenazah Bocah Ditutup Kardus dengan Secarik Surat Menyayat Hati

Hanya secarik kertas lusuh yang menyatakan bahwa anak itu mengidap diabetes melitus, bahwa keluarganya telah tiga hari ditipu orang, dan sebuah permohonan sederhana kepada siapa pun yang menemukan jasadnya agar sudi menguburkannya.

Dalam tragedi yang tampak kecil di mata statistik, sesungguhnya tersembunyi pertanyaan besar tentang kemanusiaan, keadilan, dan keberadaan negara itu sendiri.
Kematian anak tersebut bukan sekadar peristiwa biologis. Ia adalah simbol dari keruntuhan perlindungan sosial yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama.

Ketika seorang anak sakit harus berakhir di pinggir jalan tanpa identitas, maka yang mati bukan hanya tubuhnya, melainkan juga rasa aman warga terhadap sistem yang mengaku hadir untuk melindungi mereka.

Negara sering berbicara tentang pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan infrastruktur, tetapi tragedi semacam ini menunjukkan bahwa kemajuan dapat kehilangan makna ketika manusia paling lemah justru tercecer dan terlupakan.

Secarik kertas yang ditemukan di dekat jasad itu terasa lebih jujur daripada pidato-pidato resmi yang disertai gebrak gebrak podium. Dalam kalimat sederhana tersebut tersimpan keputusasaan yang mendalam.

Ada keluarga yang kemungkinan sudah tidak memiliki tenaga, uang, dan harapan. Mereka mungkin berjalan dari satu tempat ke tempat berikutnya untuk mencari pertolongan, tetapi yang ditemukan justru penipuan.

Tiga hari ditipu orang berarti tiga hari kehilangan waktu, tenaga, dan kesempatan hidup bagi seorang anak yang membutuhkan pengobatan. Dalam kondisi demikian, kemiskinan tidak lagi sekadar soal kurangnya uang, melainkan tentang hilangnya akses terhadap martabat manusia.

Secara filosofis, negara lahir dari kesepakatan untuk melindungi kehidupan. Kekuasaan diberikan agar tidak ada manusia yang dibiarkan menghadapi penderitaan sendirian. Namun ketika seorang anak sakit harus meninggal di tepi jalan, pertanyaan tentang legitimasi moral negara menjadi relevan. Untuk apa hukum dibuat jika rakyat kecil tetap tidak mampu menjangkau layanan kesehatan?

Untuk apa lembaga sosial dibentuk jika warga miskin masih merasa lebih dekat dengan kematian daripada pertolongan? Untuk apa banyak LSM yang hanya menjadi residu sosial Tragedi ini menunjukkan bahwa keberadaan negara tidak cukup hanya diukur dari banyaknya aturan, melainkan dari seberapa jauh perlindungan benar-benar dapat dirasakan oleh mereka yang paling rentan.

Kasus ini juga memperlihatkan betapa rapuhnya posisi orang miskin di tengah masyarakat modern. Penyakit kronis seperti diabetes membutuhkan pengobatan rutin, kontrol kesehatan, dan biaya yang tidak sedikit. Bagi keluarga berada, penyakit mungkin hanya menjadi persoalan medis. Namun bagi keluarga miskin, penyakit dapat berubah menjadi hukuman sosial yang menyeret seluruh anggota keluarga ke jurang penderitaan.

Ketika pengobatan menjadi mahal dan akses kesehatan sulit, maka tubuh manusia perlahan berubah menjadi arena ketidakadilan yang memperlihatkan jarak antara hak dan kenyataan hidup sehari-hari.

Lebih menyakitkan lagi adalah kenyataan bahwa masyarakat sering kali baru tersentuh setelah kematian terjadi. Saat jasad ditemukan, rasa iba bermunculan, berita menyebar, dan orang-orang mulai bertanya tentang siapa yang salah.

Namun pertanyaan paling penting justru sering terlambat diajukan: mengapa penderitaan itu harus menunggu kematian agar terlihat? Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang miskin hidup seperti bayangan.

Mereka ada, tetapi tidak sungguh-sungguh dipandang. Mereka berjalan di tengah kota, namun nasibnya tidak pernah masuk dalam percakapan besar tentang masa depan bangsa.

Di sisi lain, tragedi ini memperlihatkan ironi masyarakat modern yang semakin maju secara teknologi tetapi semakin tumpul secara empati. Informasi bergerak cepat, media sosial dipenuhi slogan kemanusiaan, tetapi di dunia nyata masih ada anak yang meninggal tanpa pertolongan memadai.

Kemajuan ternyata tidak otomatis melahirkan belas kasih. Bahkan dalam banyak keadaan, manusia justru menjadi terbiasa melihat penderitaan sebagai sesuatu yang biasa. Ketika tragedi terus berulang, masyarakat perlahan mengalami kelelahan moral.

Kita sedih sesaat, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing tanpa benar-benar memperbaiki akar persoalan yang menyebabkan penderitaan itu hadir kembali.

Padahal jika kita mau jujur, bahwa ukuran peradaban tidak ditentukan oleh tingginya gedung atau canggihnya teknologi, melainkan oleh bagaimana sebuah bangsa memperlakukan manusia paling rentan.

Anak kecil yang sakit seharusnya menjadi prioritas tertinggi perlindungan sosial. Ketika mereka gagal diselamatkan, maka sesungguhnya ada yang salah dalam cara negara dan masyarakat memahami kemanusiaan.

Sebab anak-anak tidak memiliki kuasa ekonomi, kekuatan politik, ataupun akses untuk memperjuangkan dirinya sendiri. Mereka sepenuhnya bergantung pada kepedulian orang dewasa dan sistem sosial di sekitarnya.

Pada akhirnya, jasad bocah itu mungkin sudah dimakamkan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya. Namun pertanyaan yang ditinggalkannya akan terus hidup: apakah negara benar-benar hadir bagi mereka yang paling membutuhkan?

Secarik kertas di samping tubuh kecil itu seolah menjadi gugatan sunyi terhadap dunia yang terlalu sibuk berbicara tentang kemajuan tetapi gagal menjaga kehidupan paling sederhana.

Dan mungkin, yang paling mengerikan bukanlah kematian anak itu sendiri, melainkan kemungkinan bahwa masyarakat akan segera melupakannya, lalu membiarkan tragedi serupa kembali terjadi di sudut jalan yang lain tanpa perubahan berarti bagi kemanusiaan bersama.

Terimakasih kepada Herman Batin Mangku yang selalu berbuat untuk memanusiakan manusia.
Salam Waras

Berita Terkini