LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ------ - Penata busana asal London Inggris, Alexander Perry, memikat perhatian publik fesyen setempat atas inovasi yahudnya memproduksi celana dalam alias "CD", dan juga penutup payudara: bra, atau yang akrab di lidah Indonesia, 'BH' berbahan rumput laut: Alexander Clementine.
Berani ambil risiko, berani keluar dari zona nyaman, Alexander resign dari pekerjaannya di pusat kota London demi untuk bisa rekat bin tekun dengan passion dan minat modenya lantas mempelajari biokimia dan kimia biologi.
Alexander memutuskan buka usaha sendiri. Jadi perancang busana dan produsen utama seaweed underwear. Dia memulainya dengan membuat "pakaian berkelanjutan", istilah bagi produk jenama fesyen ramah lingkungan, dari rumput laut dan kayu putih di London utara.
Seperti dilaporkan BBC, disitat diakses ulang pada Rabu (29/1/2025), keberhasilan Alex memproduksi "CD dan bra rumput laut" ini lahir dari pengalaman pribadi. Ibunda Alex, penyintas, menderita ketidaknyamanan saat ia pulih dari kanker payudara.
Situasi ini memaksa Alex berpikir keras hingga kemudian sukses membantu Alison, sang ibu.
Disebutkan, rumput laut menarik perhatian beberapa tahun terakhir sebagai sumber bahan pakaian ramah lingkungan. Alex yang pelajari biokimia dan mencintai tata busana sekaligus ini, kini sukses berinovasi mengubah pakaian dalam berbahan rumput laut yang berfokus pada kesehatan jadi cuan.
BBC melaporkan, proses kerja Alex mulai dari mengumpulkan, menyortir, mengolah rumput laut menjadi bubuk. Bubuk rumput laut ini lalu dicampur dengan "Selulosa ekaliptus" baru kemudian diolah menjadi serat sebelum kemudian dipintal menjadi kain.
Inovasi ini, lahir dari dedikasi dan kepedulian terhadap kaum perempuan. "Saya belajar biokimia, dan selalu mencintai tata busana. Sehingga proyek ini seperti menggabungkan dua elemen menjadi satu," ujar Alex.
"Awalnya kami mulai dengan membuat jenama pakaian ramah lingkungan. Kemudian kami menerima ulasan dari banyak orang mengalami menopause, perimenepouse, kanker payudara, cidera jaringan syaraf, penyakit kulit. Mereka bilang, setelah memakai busana ini, bekas luka mereka terasa nyaman dan sembuh," ungkap dia.
"Saat itulah saya memutuskan mengubah perusahaan ini untuk kemudian fokus pada kesehatan perempuan," tandas Alex, di masa itu pula ibunya didiagnosa terkena kanker dan harus dioperasi. Alex merawatnyi.
Setelah ibunya dirawat dua kali karena kanker payudara dan juga menerima ulasan positif dari wanita yang mengalami perimenopause, menopause, dan herpes zoster, Alex akhirnya mengembangkan lini pakaian yang berfokus pada kesehatan wanita, saat sama dia masih terus produksi pakaian dalam tradisional.
Bukannya tanpa aral, inovasi dia juga memicu silang pendapat komunitas ilmiah. Perbedaan pendapat berkutat pada efektivitas rumput laut pada tubuh dan sifat antiperadangannya.
"Beberapa penelitian menunjukkan rumput laut kaya vitamin dan mineral, hingga memberi karakteristik yang dapat membantu mengurangi peradangan dan meredakan gatal. Namun, yang lain menyatakan efeknya terbatas dan diperlukan penelitian lebih lanjut," tulis jurnalis BBC, Frankie McCamley.
Dan usai riset berbulan-bulan, melakukan wawancara, membuat prototip, Alex mulai merancang dan memproduksi pakaian dalam tersebut bekerja sama dengan dokter bedah.
Soal alasan kenapa harus menggunakan celana dalam rumput laut, seperti dilaporkan Emily Warner dari Country & Town House, penelitian terkini menunjukkan rumput laut dapat berperan penting mengurangi imbas perubahan iklim karena kemampuannya menyerap karbon dioksida dari udara laut.
"Rumput laut di seluruh dunia diperkirakan menyerap hampir 200 juta ton karbon dioksida setiap tahunnya –jumlah yang sama dengan yang dihasilkan negara bagian New York setiap tahunnya. Jadi, penggunaan rumput laut sebagai alternatif katun atau poliester dapat menjadi pilihan yang tepat untuk masa depan pakaian dalam," tulis Emily.
Alex menggunakan campuran unik rumput laut Islandia dan kayu putih untuk membuat pakaian dalam yang lembut dan nyaman. Dia pertama kali menemukan bahan tersebut saat pakaian bekas mulai populer, dan "satu hal yang tidak dapat dibuat dari barang bekas adalah pakaian dalam," ujar Alex menjawab wawancara Emily.
"Pakaian dalam adalah salah satu barang yang paling sering dibuang, jadi kami memutuskan untuk menggunakan rumput laut untuk membuat pakaian dalam," tetapi keinginan bukanlah satu-satunya manfaatnya.
Alex menemukan kain uniknya efektif dalam meringankan gejala menopause, kerusakan saraf, herpes zoster, dan kanker payudara.
Dia berkata, "Ibu saya sendiri menderita kanker payudara. Ia menjalani lumpektomi, diikuti oleh radioterapi, lalu mastektomi, diikuti oleh kemoterapi. Yang benar-benar menyenangkan bagi saya, di saat Anda merasa tidak berdaya, adalah bahwa [celana dalam rumput laut] adalah satu-satunya hal yang dapat dikenakan yang tidak mengiritasi lokasi operasi dan memungkinkan lukanya bernapas dan sembuh. Pada saat itulah saya memutuskan untuk mengubah perusahaan agar fokus pada kesehatan wanita."
"Rumput laut yang kami gunakan berasal dari Fjord Islandia dan dipanen tiap empat tahun sehingga dampaknya terhadap ekosistem laut sangat minim. Rumput laut dikeringkan, dihancurkan, digiling menjadi bubuk halus yang dicampur dengan selulosa dan kayu putih, dipintal menjadi benang, lalu ditenun menjadi kain," beber Alex, itu berarti serat mempertahankan sifat ekologis rumput laut.
Bagaimana Cara Kerja Celana Dalam Rumput Laut?
Rumput laut kaya akan asam amino, mineral, vitamin A, B12, C, E, serta zat besi dan tirosin. Zat-zat ini penting untuk fungsi tiroid yang sehat dan regenerasi sel, yang menjelaskan bagaimana pakaian dalam berbahan rumput laut meredakan peradangan kulit dan menenangkan luka terbuka. Kandungan antioksidannya yang tinggi juga melindungi kulit dari kerusakan akibat faktor lingkungan.
Kain dibuat menggunakan dua bahan utama: rumput laut (SeaCell), bubur kayu (Tencel). Rumput laut ini diambil langsung dari Fjord Islandia, yang berarti tak ada polusi atau kontaminasi dan tetap pertahankan semua khasiatnya yang bermanfaat.
Seperti Alex sebutkan, rumput laut ini juga hanya dipanen setiap 4 tahun, sehingga area itu dapat beregenerasi selama masa tersebut.
Bubur kayu mengalami proses untuk mengubahnya menjadi serat selulosa, yang merupakan proses yang efisien dan ramah lingkungan. Serat ini juga dibuat dari kayu yang bersumber secara berkelanjutan hingga pelanggan dapat merasa yakin pilihan busana mereka tak berkontribusi terhadap krisis iklim.
Alex menjelaskan bagaimana 'rumput laut dikeringkan, dihancurkan, digiling menjadi bubuk halus yang dicampur dengan selulosa dan kayu putih, dipintal menjadi benang, lalu ditenun menjadi kain. Itu berarti serat rumput laut mempertahankan sifat ekologis rumput laut.'
Celana dalam berbanderol antara £20 dan £40 ini antibakteri, antibau, hipoalergenik, dan dapat mengatur suhu, sehingga cocok untuk wanita yang mengalami hot flushes atau mereka yang berkulit sensitif.
Memang, Alexander Clementine bukan satu-satunya jenama yang memasukkan rumput laut ke dalam produknya. Lainnya, "Pangaia" misal, memasukkan rumput laut ke dalam koleksi pakaiannya pertama kali pada 2019. "Ishiga UK", merek perawatan kulit asal Skotlandia, memanen rumput laut Hebridean dari area pesisir Skotlandia untuk digunakan dalam koleksinya. 'Osea', menjadikan rumput laut bahan utama perawatan kulit mereka.
"Saya sangat beruntung, bangga karena kami dapat membantu orang melewati masa-masa sulit. Misi kami, membantu sebanyak mungkin orang. Seperti yang saya katakan, ibu saya adalah inspirasi di balik merek ini dan jika merek ini dapat membantunya, kami memiliki kesempatan membantu wanita lain juga dan saya sangat bangga dan bersyukur atas kesempatan itu," ujar Alex.
Sukses menolong sang ibunda juga para perempuan penyintas lainnya, Alexander geber merancang, mengembangkan produk pakaian dalam pria dengan problem medis.
Jika Anda cukup berani, celana dalam rumput laut ini mungkin layak dicoba. Siapa yang tahu bahwa menyelamatkan kulit Anda, dan planet ini, dapat dimulai dengan celana dalam Anda? (Muzzamil)
