Helo Indonesia

Prof. Bustanul Arifin Kupas Pertanian di Depan Pj Gubernur Samsudin

Annisa Egaleonita - Nasional -> Peristiwa
Jumat, 14 Februari 2025 10:11
    Bagikan  
Prof. Bustanul Arifin Kupas Pertanian di Depan Pj Gubernur Samsudin

Prof. Bustanul Arifin

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Guru Besar FP Unila Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, M.Sc menyampaikan presidential lecture di depan Pj Gubernur Lampung Drs. Samsudin, SH, MH, MPd pada Gala Dinner Kongres XIX & Konfernas XX PERHEPI di Hotel Emersia, Kota Bandarlampung, Kamis (13/2/2025).

Bustanul yang juga ketua umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) menyampaikan tema presidential lecture bertajuk "Produktivitas, Keberlanjutan, dan Kesejahteraan Petani" pada pembukaan kegiatan yang berlangsung hingga Sabtu (15/2/2025).

Kongres yang dibuka oleh Pj Samsudin dan diselenggarakan oleh Komisariat PERHEPI Lampung dengan Ketua Pelaksana Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si., dosen Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

Kongres ini dihadiri oleh ratusan akademisi, peneliti, praktisi, serta pemangku kebijakan dari berbagai wilayah di Indonesia, yang berdiskusi mengenai tantangan dan arah kebijakan ekonomi pertanian ke depan.

KETAHANAN PANGAN

Dalam pidatonya, Prof. Bustanul Arifin menyoroti tantangan besar yang dihadapi sektor pertanian Indonesia, termasuk stagnasi produktivitas, permasalahan keberlanjutan, serta ketimpangan kesejahteraan petani.

Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2024, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,03%, sementara sektor pertanian hanya mencapai pertumbuhan 0,67% (y-on-y). Khusus untuk subsektor tanaman pangan, pertumbuhan bahkan mengalami kontraksi -0,21%, yang memunculkan pertanyaan besar tentang efektivitas berbagai program pemerintah dalam meningkatkan produksi pangan.

“Kinerja sektor pertanian masih terlalu mengandalkan peningkatan luas panen, bukan pada inovasi teknologi yang lebih maju. Ini menyebabkan stagnasi produktivitas selama lebih dari dua dekade,” tegas Prof. Bustanul.

Beliau juga menyoroti penurunan produksi padi yang signifikan pada tahun 2024, yaitu 52,71 juta ton gabah kering giling (GKG) atau turun 2,35% dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, produksi beras mengalami penurunan hingga 730 ribu ton, sementara konsumsi beras meningkat, menciptakan ancaman terhadap ketahanan pangan nasional.

Kondisi ini diperparah oleh minimnya inovasi dalam budidaya dan pascapanen, di mana sebagian besar petani masih bergantung pada metode konvensional.

Prof. Bustanul menegaskan bahwa stagnasi produktivitas ini hanya bisa diatasi melalui peningkatan adopsi teknologi pertanian cerdas, penerapan pertanian presisi, serta reformasi kelembagaan penyuluhan dan riset pertanian agar lebih efektif dalam mendukung petani.

KEBERLANJUTAN

Selain tantangan produktivitas, Prof. Bustanul juga menyoroti pentingnya pembangunan pertanian yang berkelanjutan di tengah ancaman perubahan iklim. Beliau menjelaskan bahwa fenomena El-Nino 2023 telah menyebabkan penurunan produksi beras hingga 800 ribu ton, yang memicu lonjakan harga hingga mencapai Rp15.000/kg.

“Sektor pertanian masih menjadi salah satu penyumbang gas rumah kaca (GRK) terbesar, terutama dari metode budidaya padi dengan sistem genangan, penggunaan pupuk kimia berlebihan, serta pembakaran jerami,” ungkapnya.

Oleh karena itu, diperlukan kebijakan inovatif seperti penerapan pertanian regeneratif, teknologi hemat air, serta optimalisasi pupuk hayati dan organik untuk mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan ketahanan sektor pertanian.

Beliau juga menggarisbawahi pentingnya reforestasi dan praktik agroforestri dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian, serta perlunya regulasi yang lebih tegas untuk menghindari eksploitasi lahan pertanian secara berlebihan yang dapat berdampak negatif terhadap keberlanjutan sumber daya alam.

STRATEGI

Dalam aspek kesejahteraan petani, Prof. Bustanul menyoroti bahwa mayoritas petani Indonesia masih mengalami keterbatasan akses terhadap pasar, teknologi, dan pembiayaan, yang menyebabkan mereka rentan terhadap fluktuasi harga dan perubahan ekonomi global.

Di tingkat makro, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2024 masih mencapai 24,06 juta jiwa (8,57%), dengan mayoritas berada di perdesaan. Ketimpangan pendapatan juga terus meningkat, memperburuk kondisi ekonomi petani kecil yang masih bergantung pada sistem distribusi yang belum berpihak kepada mereka.

Untuk meningkatkan kesejahteraan petani, Prof. Bustanul menawarkan tiga solusi utama:

1. Reformasi kebijakan penyuluhan dan inovasi pertanian agar lebih efektif dalam mendukung petani dalam adopsi teknologi baru.

2. Peningkatan akses pembiayaan bagi petani melalui skema kemitraan inklusif, seperti ekosistem agribisnis berbasis closed-loop antara petani, off-takers, dan industri pertanian.

3. Reformasi kebijakan subsidi pupuk berbasis kesehatan tanah, guna mengurangi penggunaan pupuk kimia berlebihan yang merusak kesuburan lahan.

Menurut beliau, sistem subsidi pupuk yang ada saat ini cenderung tidak efisien, karena masih berbasis kuantitas dan belum mempertimbangkan dampak ekologis. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan berbasis "soil health card", seperti yang diterapkan di India, Uni Eropa, dan China, untuk memastikan subsidi pupuk diberikan sesuai dengan kondisi tanah di setiap wilayah.

KESIMPULAN

Sebagai penutup, Prof. Bustanul mengajak seluruh pemangku kepentingan di sektor pertanian untuk bekerja sama dalam menciptakan kebijakan yang lebih berorientasi pada kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan lama. Kita perlu kebijakan yang lebih inovatif, berbasis riset, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani serta keberlanjutan ekosistem pertanian nasional,” tegasnya.

Kongres XIX & Konfernas XX PERHEPI ini diharapkan menjadi momentum penting bagi akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan dalam merumuskan strategi pertanian yang lebih progresif, inklusif, dan berdaya saing global.

PERHEPI

PERHEPI (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia) merupakan organisasi profesi yang menghimpun akademisi, peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan di bidang ekonomi pertanian. Sejak berdiri, PERHEPI telah berperan aktif dalam memberikan rekomendasi kebijakan bagi pembangunan pertanian Indonesia. (Rls/Miki)