Catatan Herman Batin Mangku*
GANJAR Jationo pulang kembali ke habitatnya di dunia kewartawanan. Jabatannya sebagai kepala Diskominfotik Lampung menuntut kemampuannya kembali berselancar di tengah gelombang euforia pers yang sulit diprediksi emosinya.
Gelombang yang kadang adem namun bisa tiba-tiba tsunami. Dan, mantan aktivis mahasiswa ini telah terbukti memiliki kemampuan menghadapinya. Dia mampu tetap tenang saat gelombang lagi tinggi dan tetap waspada saat air tenang.
Apalagi di era kepemimpinan periode 2025-2030), Ganjar agaknya harus semakin ligat dan lincah mengimbangi "Three Musketeers" kepemimpinan Generasi Y: Gubernur Mirza (45), Wagub Jihan (31), dan Sekdaprov Marindo (44).
Namun, bukan Ganjar jika tak banyak jurus silatnya. Apa gendang lawan, dirinya mampu mengikuti iramanya.
Meski selihai-lihainya, Ganjar sempat terjungkal juga ketika tsunami kritik jalan jelek Tiktoker Bima. Ganjar sudah sekuat tenaga menahannya sampai terpelanting ke ruang sempit staf ahli Gubernur.
Walau mendadak dicopot Gubernur Arinal, dia tetap tenang. Ketika suatu hari saya menengok ruang kerjanya, dirinya tak ada di tempat. Lagi ada tugas luar, alasannya meski saya tahu jobnya tak sesibuk sebelumnya.
Ganjar seketika "tenggelam" dari hiruk-pikuk pesta demokrasi Pilkada 2024. Dia baru nongol tipis-tipis di era Pj Gubernur Samsudin dan awal kepemimpinan Three Musketeers.
Setelah jabatannya dikembalikan lagi oleh Gubernur Rahmat Mirzani Djausal (RMD) via Sekdaprov Marindo Kurniawan, Kamis (26/6/2025), Ganjar langsung terlihat sumringah bisa kembali berkumpul dengan para wartawan.
Kedekatan dirinya sejak tiga tahun lalu dengan Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung modal awal membelah gelombang hingga beberapa tahun kedepan. Insya Alloh.
Apalagi, anggota IJP mendadak naik dua kali lipat jadi 100 lebih anggota ketika kepengurusan periode 2025-2028 baru saja dikukuhkan Gubernur Mirza di Balai Keratun, Komplek Gubernur Lampung, Kamis (19/6/2025).
Di bawah komando Abung Mamasa, Gubernur Mirza menitipkan pesan agar wartawan berkolaborasi Bersama Lampung Maju. Baik dan buruknya citra pemerintah, ada campur tangan pers.
Kata orang, satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan wartawan bisa menembus banyak kepala. Nah ini, modal awalnya 100 lebih anggota IJP Lampung, belum yang keleleran di luar.
"Di tangan media, yang baik bisa jadi jelek, yang jelek bisa jadi bagus," sindir Gubernur Mirza pada pelantikan pengurus IJP. Dia minta jajarannya lebih terbuka kepada media. Kritik menjadi bagian dari motivasi untuk Bersama Lampung Maju.
Dan, ada Ganjar Jationo di situ saat ini. Saat periode pertama jadi kepala Diskominfotik, masa-masa komunikasi antara wartawan dengan pemimpinnya bak gelombang turun-naik dan lebih sering memburuk, Ganjar yang jadi jembatannya.
Dengan kepiawaiannya, mantan wartawan grup media besar ini harus lari kesana kemarin meredam polemik liar agar Lampung tetap terjaga kondusifitasnya saat terjadi komunikasi yang memburuk antara pimpinannya dengan pers.
Walau akhirnya, gelombang besar dari Tiktoker Bimo membuat dirinya terjengkal jadi staf ahli gubernur. Ganjar seakan-akan orang yang paling bertanggung jawab atas tak bisa meredam viralnya jalan jelek Lampung ke seantero negeri.
Banyak wartawan yang siap menunggu perintahnya. Sebagian wartawan menilai tak pantas Ganjar jadi seolah "kambing hitam". Namun, sekali lagi, dia minta kawan-kawan wartawannya tenang jika ingin menolongnya dari hempasan tsunami viralnya jalan jelek.
"Bagaimanapun saya ini birokrat," katanya kala itu. Ternyata, rezeki tak lari kemana. Antusiasnya para wartawan menyambutnya kembali ke "habitatnya' usai pelantikan sudah cukup menunjukkan siapa Ganjar. Insya Alloh pilihan tepat jadi penyambung lidah Iyay Mirza.
Usai berhahahihi dengan para wartawan IJP, Ganjar menggetarkan HP saya. Sentuhan hati ala Ganjar yang jarang dimiliki para pemimpin, sapaan hangat kepada kuli tinta. "Selamat ya," kata saya sambil bergumam dalam hati: Ayooo mainkan, saatnya Bersama Lampung Maju.
*Pemred Club
