Helo Indonesia

Jeritan Hati Pedagang Pasar Bambu Kuning yang Mati Segan Hidup Tak Mau

Kamis, 3 Juli 2025 20:53
    Bagikan  
Jeritan Hati Pedagang Pasar Bambu Kuning yang Mati Segan Hidup Tak Mau

Salah satu sudut Pasar Bambu Kuning (Foto Hajim)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ----  "Mati segan hidup tak mau". Perumpamaan tersebut pas untuk menggambarkan kondisi pasar tradisional legendaris yang berdiri sejak tahun 1950 di Kota Bandarlampung: Pasar Bambu Kuning.

Menurut Ketua Perhimpunan Bambu Kuning Trade Center Arnita, jumlah pedagang pasar yang dibangun sejak tahun 1960-an tersebut terus merosot dari 500 jadi menyisahkan 300 pedagang saat ini.

undefined

Pendapatan pedagang juga turun drastis. "Kemungkinan, ada kaitannya dengan banyaknya pedagang yang beralih ke medsos dalam menjajaki dagangannya," ujarnya, Kamis.( 3/6/2025).

Tapi, ada juga yang masih bertahan, karena sebagian merupakan pedagang yang tangguhwalaupun sekarang ini trendnya ada di era digital. Arnita berharap Pemkot Bandarlampung turun menggairahkan kembali pasar legendaris ini.

Wali Kota Eva Dwiana sudah sangat membantu pedagang memperbaiki semua sisi gedung ini, tinggal bagaimana pedagang di sini bertahan berjualan dengan kondisi ekonomi dan perubahan cara berdagangnya, ujarnya.

Pasar yang beralamat di Jl Imam Bonjol, Kelurahan Kelapa Tiga, Kecamatan Tanjungkarang Pusat itu dibangun ulang oleh PT. Gunung Pesagi pada tahun 1989 menawarkan pakaian, asesoris, kembang plastik, perhiasan, peralatan rumah, dll.

Pasar Bambu Kuning ini menyisahkan 10 tahun lagi dari HGB yang diberikan Pemkot Bandarlampung.( Hajim).