LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Dugaan hubungan asmara gelap yang melibatkan seorang oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, mulai terungkap setelah seorang pejabat berinisial A memberikan klarifikasi resmi kepada wartawan.
Isu yang sebelumnya hanya menjadi perbincangan internal sesama ASN kini berkembang menjadi sorotan publik setelah wartawan mendatangi Kantor Inspektorat Tubaba untuk menelusuri dugaan pelanggaran etika birokrasi.
Pejabat A akhirnya memutuskan untuk memberikan penjelasan langsung. Ia menegaskan bahwa klarifikasi tersebut merupakan inisiatif pribadinya untuk menghindari bias informasi dan memperjelas duduk perkara.
“Saya akui pernah ada kedekatan, tapi itu sebatas teman dan rekan kerja. Karena dia dulu pernah jadi staf saya, satu ruangan. Mungkin karena terlihat selalu bersama, tapi bukan berduaan. Menurut saya itu wajar saja, karena kami sedang menjalani tugas,” ujar A, Senin 24 November 2025.
Menurut A, sifat komunikatif staf yang diduga dekat dengannya bisa saja disalahartikan oleh rekan-rekan kerja lainnya.
“Menurut saya, orang yang bersangkutan memang welcome, enak diajak berbicara. Mungkin karena itu anggapan teman-teman saya punya hubungan sama dia,” ungkapnya.
A juga mengungkapkan bahwa persoalan ini sempat ditangani oleh Inspektur. Untuk mencegah kesalahpahaman lebih jauh, staf tersebut dipindahkan dari ruang kerjanya.
“Yang bersangkutan langsung dikeluarkan dari ruangan saya. Setelah itu sampai sekarang ini. Yang saya rasa, saya tidak pernah melakukan hal-hal yang melanggar norma,” tegas A.
Pejabat A menyatakan bahwa ia sangat memahami batasan sebagai ASN, terlebih ia memiliki keluarga.
“Saya punya keluarga jadi saya tahu batasan-batasan dalam berbicara. Jadi saya dengan yang bersangkutan tidak ada apa-apa. Itu menurut saya, tapi kita tidak tahu menurut orang,” jelasnya.
Dalam klasifikasi tersebut, A juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak di lingkungan pemerintah yang mungkin merasa terganggu dengan isu ini.
“Ini menjadi pelajaran buat saya. Terima kasih kepada teman-teman. Atas nama pribadi saya mohon maaf, atas nama institusi saya juga mohon maaf apabila selama ini saya telah membuat resah di kantor,” ujarnya.
Pasca isu mencuat, A mengaku menjaga jarak dari staf tersebut untuk menghindari kesalahpahaman baru.
“Saya sudah tidak mau lagi membantu. Bahkan walaupun dia saya ketemu di jalan, saya tidak mau lagi dekat-dekat karena nanti niat saya baik, pandangan orang beda,” ucapnya.
A menambahkan bahwa klarifikasi ini disampaikan untuk menghentikan spekulasi yang berkembang dan agar kasus tidak melebar ke ranah yang lebih jauh. Ia juga membenarkan bahwa pemindahan staf dilakukan sebelum isu muncul.
“Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, beliau langsung keluarkan dari ruangan saya. Sejak itu sampai sekarang, saya tidak merasa melanggar norma apapun,” katanya.
Secara terpisah, Inspektur Inspektorat Tubaba yang juga menjabat sebagai Pj. Sekda Tubaba, Perana Putera, membantah bahwa dirinya pernah menyelesaikan atau menangani dugaan hubungan asmara tersebut.
“Tadi A klarifikasi ke saya. Kata A, dia tidak pernah bilang begitu. A cuma bilang memang dulu dia pernah jadi staf, betul. Tapi kalau karena ada isu seperti itu makanya stafnya dipindahkan. Saya tanya, ‘Pernah nggak bilang begitu?’ Dia bilang tidak pernah,” ujar Perana saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Perana menegaskan bahwa dugaan “hubungan” yang berkembang tidak pernah ditangani olehnya.
“Saya tidak pernah menyelesaikan hubungan itu karena memang tidak ada,” ungkapnya.
Sementara itu, staf berinisial I yang diduga dekat dengan A , belum berhasil dimintai keterangannya. Saat media mendatangi ruang kerjanya, yang bersangkutan diketahui sudah tidak berada di kantor.
(Rohman).
