Helo Indonesia

Harga Gabah Tinggi, Tubaba Perketat Pengawasan Distribusi ke Luar Lampung

51 menit lalu
    Bagikan  
Harga Gabah Tinggi, Tubaba Perketat Pengawasan Distribusi ke Luar Lampung
HELO LAMPUNG

TUBABA LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM–
Harga Gabah Kering Panen (GKP) di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Lampung, mencapai Rp8.000 per kilogram. Di tengah tingginya harga gabah dan terbatasnya produksi lokal, pemerintah daerah memastikan belum menemukan gabah asal Tubaba yang dijual atau dikirim ke luar Provinsi Lampung.

Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Tubaba menyatakan kondisi ketersediaan pangan daerah hingga Rabu (30/9/2026) masih aman. Pemantauan dilakukan terhadap distribusi gabah, stok beras, serta perkembangan harga di tingkat penggilingan dan masyarakat.

Kepala Bidang Distribusi Pangan DKP Tubaba, Yanti, mengatakan pengawasan distribusi dilakukan untuk memastikan perdagangan gabah tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.

“Sejauh ini berdasarkan pemantauan di lapangan maupun laporan yang kami terima, belum ditemukan penjualan gabah dari Tubaba ke luar Provinsi Lampung,” kata Yanti.

Menurut dia, pengawasan tersebut mengacu pada Peraturan Gubernur Lampung Nomor 7 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Peraturan Gubernur Nomor 71 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pengawasan dan Pengendalian Distribusi Gabah.

Sesuai ketentuan tersebut, distribusi gabah ke luar Provinsi Lampung tidak diperbolehkan apabila kebutuhan gabah di dalam provinsi belum terpenuhi. Pengeluaran gabah untuk kepentingan tertentu, seperti penelitian, pembibitan, pengendalian dan penanggulangan penyakit maupun hama tanaman padi, dapat dilakukan melalui mekanisme perizinan.

“Kalau ditemukan indikasi pelanggaran atau penyelewengan, akan dikoordinasikan dengan pemerintah provinsi dan Satgas Pangan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Di sisi lain, pasokan gabah yang berasal dari produksi lokal Tubaba tercatat terbatas. DKP menyebut kondisi tersebut bukan disebabkan adanya pengiriman gabah Tubaba ke luar daerah, melainkan dipengaruhi produksi pertanian sepanjang 2026.

Tubaba tahun ini baru melaksanakan satu kali musim tanam padi. Kondisi tersebut turut dipengaruhi faktor cuaca dan ketersediaan air, termasuk mengeringnya jaringan irigasi Way Rarem pada periode El Nino.

“Tubaba tahun ini baru melaksanakan satu kali musim tanam padi. Kondisi tersebut turut dipengaruhi mengeringnya jaringan irigasi Way Rarem pada periode El Nino,” kata Yanti.

Untuk menjaga pasokan bahan baku, sejumlah penggilingan di Tubaba mendatangkan gabah dari wilayah kabupaten tetangga yang masih berada di Lampung, di antaranya Rawa Pitu dan Bratasena di Kabupaten Tulang Bawang.

Langkah tersebut dilakukan agar aktivitas penggilingan tetap berjalan sekaligus menjaga pasokan beras bagi masyarakat.

Berdasarkan pemantauan DKP, harga GKP kualitas terbaik di tingkat penggilingan berada pada kisaran Rp7.900 hingga Rp8.000 per kilogram. Harga Rp8.000 per kilogram tercatat di PP Nyoman Raita, Tiyuh Marga Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Udik.

Sementara sejumlah penggilingan lainnya membeli GKP sekitar Rp7.900 per kilogram.

Yanti menjelaskan, tingginya harga gabah salah satunya dipengaruhi persaingan penyerapan. Pasar di Pulau Jawa disebut masih menyerap gabah dengan harga relatif tinggi sehingga penggilingan di Tubaba harus menyesuaikan harga pembelian.

DKP Tubaba pada September 2026 memantau enam penggilingan, yakni PP Suka Maju, PP Komang dan PP Laros Jaya di Tiyuh Pulung Kencana; PP Nyoman Raita di Tiyuh Marga Kencana; PP Mardis di Kelurahan Daya Murni; serta PP Dewi Sri Jaya di Tiyuh Margo Dadi.

Meski pasokan gabah lokal terbatas, DKP memastikan ketersediaan pangan masyarakat Tubaba masih dalam kondisi aman.

Kepala Bidang Ketersediaan Pangan DKP Tubaba, Eva, mengatakan stok beras Bulog yang disalurkan melalui Kios Pangan mencapai 302,23 ton. Adapun stok beras di tingkat penggilingan dan distributor mencapai 26 ton.

Selain beras, Tubaba memiliki stok 20 ton GKP dan 124 ton Gabah Kering Giling (GKG), sehingga total stok gabah mencapai 144 ton.

“Kalau melihat neraca pangan dan perputaran stok harian, ketersediaan pangan masyarakat masih aman,” kata Eva.

Berdasarkan perhitungan kebutuhan konsumsi DKP, setiap penduduk Tubaba membutuhkan sekitar 0,2588 kilogram beras per hari. Dengan jumlah penduduk sekitar 304.760 jiwa, kebutuhan beras masyarakat diperkirakan mencapai 78,87 ton per hari.

DKP menilai kebutuhan tersebut masih dapat dipenuhi melalui stok yang tersedia serta perputaran pasokan dari penggilingan dan distributor.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap memperketat pemantauan distribusi gabah dan perkembangan harga. Pengawasan juga dilakukan untuk mengantisipasi agar tingginya harga gabah tidak berujung pada gejolak harga beras di tingkat konsumen.

“Kita juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Lampung, Bulog, penggilingan, distributor serta Satgas Pangan untuk mengantisipasi apabila ditemukan indikasi distribusi yang tidak sesuai ketentuan,” pungkas Eva.

(Rohman)