Helo Indonesia

Nasdem: Surya Paloh dan Luhut Binsar Sepakat Soal Cawe-cawe Politik Tidak Bisa Dibiarkan

Winoto Anung - Nasional -> Politik
Jumat, 5 Mei 2023 23:38
    Bagikan  
Ketua DPP Partai Nasdem Sugeng Suparwoto  (paling kiri) saat memberi keterangan pers di Sekretariat
Ketua DPP Partai Nasdem Sugeng Suparwoto (paling

Ketua DPP Partai Nasdem Sugeng Suparwoto (paling kiri) saat memberi keterangan pers di Sekretariat - Ketua DPP Partai Nasdem Sugeng Suparwoto (paling kiri) saat memberi keterangan pers di Sekretariat Perubahan Jalan Brawijaya X Jaksel.

HELOINDONESIA.COM - Ketua DPP Partai Nasdem Sugeng Suparwoto menjelaskan tentang pertemuan Surya Paloh dengan Luhut Binsat Pandjaitan, Menteri Marinves, di Lantai 28 Wisma Nusantara, Jakarta, Jumat 5 Mei.

Menurut Sugeng Suparwoto mengatakan, pembicaraan keduanya sampai masalah cawe-cawe politik yang dilakukan Presiden, dan iu sudah menjadi fakta sosial politik. Menurut Sugeng, baik Surya paloh dan Luhut sepakat  masalah cawe-cawe tidak boleh dibiarkan.

Bahkan ada disebut cawe-cawe dsb, itu fakta sosial politik. Tetapi lantas kedua tokoh Surya Paloh dan Luhut Binsar sepakat, bahwa soal cawe-cawe politik itu tidak boleh dibiarkan. “Karena ini akan juga bisa mengancam, akan menimbulkan dinamika-dinamika yang kadang-kandang tidak perlu,” ujarnya di di Sekretariat Perubahan, Jalan Brawijaya X, Jumat 5 Mei 2023.

Sugeng mengaku dirinya hadir di tempat pertemuan, tapi tidak dekat sekali, karena untuk memberi keleluasaan keduanya, Surya Paloh dan Luhuit Binsar agar bisa bicara leluasa. Tapi, di posisinya dia bisa mendengarkan pembicaraan keduanya.

“Tapi dialog itu masing-masing menyadari, perlunya semuanya ini adalah untuk bersatu, dan itu clear. Bahwa kalau selama ini ada dibaca karena memang sifatnya manifesnya, bahwa sudah ada koalisi ini koalisi itu,” tambahnya.

Dia mengatakan,  masing-masing menghormati keputusan politiknya, termasuk Luhut  menghormati apa yang sudah diputuskan Surya Paloh. “Dalam hal ini nasdem, dalam konteks kontestasi sekaligus, dan menyangkut misalnya Pak Anies, eksplisitnya begitu,” ujar Sugeng Suparwoto.

Kemudian,  yang kedua, sepakat merever yang pertama tadi, harus diciptakan siatuasi yang kondisif bagi kompetisi-kompetisi yang lebih fair, lebih jujur, lebih adil, dsb.

Menurutnya, kedua belah pihak saling mengingatkan hal-hal yang tidak perlu terjadi, seperti misalnya jangan sampai terjadi pemerintah atau Presiden berpihak kepada calon tertentu.

“Tadi saling mengingatkan, Pak Surya juga mengingatkan, kalau kayak gini kayak gini ada sebuah situasi yang menjadi tidak berimbang dalam image bahwa seolah-olah dalam hal ini, misalnya pemerintah atau Presiden yang berpihak kepada calon tertentu dsb, itu seyogyanya dihapuskan, dan iu sepakat di level itu,” katanya.

Ia juuga mengatakan, tentang nama cawapres, memang betul ada diskusi dsb, Luhut memberikan nama.  Namun, dia tidak berkenan untuk menyebut nama cawapres yang disodorkan oleh Luhut Binsar. “Tidak etis, betul Pak Luhut juga mengendorse ini mengendorse itu, tadi menjadi diskusi luar biasa,” katanya.

Dari pihaknya, Surya Paloh juga sempat menyebut, sudah ada lima nama cawapres, dan sudah menngerucut. Lantas Luhut Binsar menanyakan, siapa saja lima nama itu?

“Sempat disebut mengerucut menjadi lima nama. Memang sempat ditanya, siapa saja? Wah itu tim kecil yang menggodok dan akan diserahkan ke calon Presiden,” kata Sugeng Suparwoto mengutip pembicaraan.

Kemudian terkait pendirian Partai Nasdem (iman politiknya Nasdem) apakah masih kukuh mengusung ANies dan tetap berada di Koalisi Perubahan, Sugeng menjawab Nasdem jelas kuat iman politiknya.

“Kalau Nasdem jelas, sampai Pak Surya menyebut, kami sudah firm, sebagai parpol yang berkeputusan tidak semata-semata untuk kepentingan elektoral baik itupartai dan capres, tetapi lebih pada pilihan moral etik yang memang harus dilakukan sebagai parpol yagn punya hak konstitusional bahwa Presiden dan calon presiden dicalonkan oleh parpol atau gabungan parpol,” tandasnya. (*)

(Winoto Anung)