HELOINDONESIA.COM - Prabowo Subianto memang berpeluang besar untuk maju sebagai Capres 2024 dari Partai Gerindra.
Ada analisa bahwa Partai Gerindra terbuka berkoalisi dengan PKS atau beberapa partai lainnya.
Tapi bukan berarti Prabowo Subianto tidak memiliki batu sandungan ketika sudah maju bersaing di Pilpres 2024.
Dari catatan redaksi, dalam beberapa survei Prabowo menempati urutan pertama sebagai Capres potensial dengan elektabilitas kuat.
Baca juga: Deretan HP Harga 1 Jutaan RAM 6GB Dengan Spek lengkap
Namun belakangan, beberapa manuver Ketua Umum Partai Gerindra itu bisa membuat elektabilitasnya goyah.
Di antaranya gagalnya Prabowo Subianto mengajukan proposal perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
Ditolaknya proposal tersebut menunjukan kegagalan Prabowo Subianto yang berkebalikan dengan pencitraannya sebagai tokoh yang disebut berpengaruh di dunia internasional.
Baca juga: Keuntungan Pertemuan Puan dan AHY, Partai Demokrat Lolos dari Jebakan Anies Baswedan
Belum lagi beredar kabar kalau pengajuan proposal perdamaian itu sejatinya tidak mendapat "restu" dari Presiden Jokowi.
Kegagalan itu karena tidak diikuti komunikasi politik yang efektif sehingga berpotensi menjadi kontra produktif terhadap elektabilitasnya.
Tak hanya itu, langkah Prabowo Subianto sebagai Menhan yang membeli pesawat bekas menjadi gorengan sedap lawan-lawan politik untuk menyerangnya.
Baca juga: Eva Dwiana dan Wiyadi Beda Pandangan Pemicu Geng Motor
Meski demikian, dikutip dari political Brief Baskara, pencapresan Prabowo Subianto memiliki empat karakteristik.
Pertama, Prabowo Subianto adalah kandidat dengan kantong suara terbanyak.
Kantong suara Prabowo Subianto berasal dari pemilih 2019, pendukung Orba, militer, bahkan pemilih Jokowi 2019 lalu.
Kedua, Prabowo merupakan capres tertua. Dengan kondisi kesehatannya membatasi gerak politiknya sehingga cawapres menjadi critical.
Baca juga: Waduk Cengklik Boyolali Tempat Kece Wisatawan untuk Abadikan Sunrise dan Sunset
Ketiga, Prabowo Subianto memiliki catatan hitam di era reformasi yg belum dieksploitasi lawan politik.
Keempat, Prabowo Subianto merupakan capres yang paling sering mengikuti Pemilu sehingga paling dikenal dan berpotensi bangun simpati.
