JAKARTA, HELOINDONESIA.COM ? Kebanyakan pemimpin partai politisi (parpol) saat ini miskin pemikiran, terlebih pemikiran yang sifatnya global. Kini, para pemimpin parpol terjebak menjadi pelayan ambisi-ambisi kekuasaan.
"Tidak ada pemimpin partai politik yang punya pemikiran. Para pimpinan partai politik sekarang sudah terjebak menjadi pelayan ambisi-ambisi kekuasan rendah," kata politisi Partai Gelora Fahri Hamzah, ), Minggu (19/3/2023).
"Sehingga bangsa ini jangankan memimpin dunia sebagaimana mimpi para pendiri bangsa, partai politik sudah terjebak menjadi tempat persengkongkolan kekuasaan, pemilik uang dan pemilik pengaruh yang merampas harta benda rakyat Indonesia," tandasnya.
Fahri Hamzah pun menyemprot para anggota DPR yang dinilainya pada mingkem saja ketika ada kasus yang dinilainya sebagai pesta pora penyimpangan ratusan triliun di lingkungan kekuasaan.
Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini, berharap masyarakat NTB mengamanahkan lagi aspirasi kepada dirinya untuk menjadi wakil rakyat di DPR Senayan seperti tiga periode sebelumnya.
"Sebagai seorang pejabat, khususnya wakil rakyat di legislatif bukan pengantar bansos. Mereka sibuk menjadi pelayan eksekutif. 10 Anggota DPR dari Nusa Tenggara Barat tidak ada yang berbunyi ada kezaliman dan ketimpangan yang terjadi," katanya.
Padahal telah terjadi penyimpangan transaksi mencurigakan hingga Rp300 triliun di Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Ia heran para anggota DPR pada mingkem.
"Masih ingat kasus Bank Century Rp 6,7 triliun, Anggota Dewannya ributnya kemana-kamana. Sekarang ada pesta pora penyimpangan ratusan triliun, 300 triliun, Anggota DPR pada mingkem saja," katanya.
Mereka justru sibuk menjadi pelayan eksekutif, membawa sumbangan ke sana kemari seakan-akan malaikat dari Jakarta.
Untuk itulah, partainya ingin mewarnai kancah DPR untuk menyuarakan apa yang menjadi aspirasi rakyat, dan mengkritisi penyimpangan. Gelora ingin membuat lantang kembali.
"Partai Gelora menang, Insya Allah tidak akan ada lagi Anggota Dewan yang menjadi bebek penguasa. Kami dididik untuk menjadi penyambung lidah rakyat. Sekarang semua anggota dewan dari NTB sibuk jadi pelayan eksekutif, tidak ada yang memperjuangkan kepentingan rakyat," terangnya.
Partai Gelora, kata Fahri, akan menjadikan rakyatnya bersuara keras, menjadikan orang-orang lemah menjadi kuat dan membuat suara-suara yang tidak pernah didengar akan di dengarkan dimana-mana.
"Itulah komitmen Partai Gelora. Kita berhenti mengirimkan antek-antek elit Jakarta menjadi pejabat di Jakarta," katanya.
"Kita akan kirimkan Singa-Singa bersuara. Kita kirimkan , Rajawali yang terbang tinggi, sehingga Nusa Tenggara Barat berhak punya pemimpin yang baik di seluruh jajaran legislatif. Inilah salah satu ikhtiar, bahwa penjagaan reputasi kami yang mendapatkan amanah rakyat tidak sia-sia, karena sambutan kepada Gelora amatlah hebat," imbuhnya.
Saat di NTB, Fahri Hamzah meminta masyarakat NTB tidak lagi memilih Anggota Dewan yang telah mensia-siakan amanah yang telah diberikan.
"Kami ingin agar hati kita panas melihat situasi ini, bergelora dan membara melihat keadaan ini. Kita memerlukan arah baru Indonesia. Indonesia bisa menjadi kekuatan besar di dunia, Indonesia bisa memimpin dunia. Dari rahim ibu pertiwi bisa lahir pemimpin dunia sebagaimana pemimpin dahulu yang membanggakan dan mengispirasi kita," pungkasnya. (*)
(A Winoto)
