Oleh Herman Batin Mangku *
LAMPUNG, HELOINDONESIA,COM -- Menjelang pertarungan politik 2024, Muhammad Junaidi yang akrab dipanggil Bung Adi menjadi kandidat pergantian antarwaktu (PAW) DPRD Lampung pascakeputusan AHY memberhentikan Wakil Ketua III DPRD Lampung Raden Muhammad Ismail.
Politikus tampan berkulit putih ini, walau berusia relatif masih muda, termasuk sudah matang politik. Politikus yang santun terhadap seniornya dalam maupun luar partai dan tetap berhubungan baik dengan rekan yang berbeda pandangan.
Saat partainya didera "prahara" pacasuksesi kepemimpinan Partai Demokrat (PD) Lampung dari Muhammad Ridho Ficardo (MRF) ke Edy Irawan Arief, dirinya berhasil menitih buih. Bung Adi memilih jalan "damai" tak ngotot maju sebagai ketua DPC Kota Bandarlampung.
Bung Adi (Ist)
Dia mengalah bergeser bertarung jadi ketua DPC PD Kabupaten Lampung Selatan. Padahal, pada saat itu, ada sekitar sembilan PAC PD Kota Bandarlampung di kantongnya.
Namun, dia tetap mempertimbangan nasehat "kiri-kanan" dan akhirnya mulus sebagai ketua DPC PD Lampung Selatan, tak berbenturan sekeras pemilihan ketua DPC Kota Bandarlampung.
Oleh karena itu, bagi saya, sosoknya menarik dikulik sedikit jelang kembalinya ke DPRD Lampung, kursi yang pernah dudukinya (2014-2019). Saat itu, usianya 36 tahun, beda-beda tipis dengan ketua partainya masa itu: MRF.
Melihat jejaknya, wajar. Soal demokratisasi, jiwa partainya, agaknya sudah terasah sejak dirinya kuliah. Orang Lampung "aseley" ini telah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak kuliah semester tiga di Fakultas Hukum Universitas Lampung.
Sejak itu, pengakuannya, menemukan sesuatu yang baru. Dirinya lalu aktif menjadi anggota legislatif tingkat fakultas dan sempat mencalonkan diri sebagai presiden Fakultas Hukum Unila dan terus mengasah jiwa kekritisannya di Dewan Mahasiswa Universitas Lampung.
Di matanya, katanya, aktivis di kampus bukanlah pilihan tetapi keharusan yang harus sebagai seorang mahasiswa. "Bagi saya menjadi mahasiswa itu tidak akan cukup jika hanya mengandalkan keilmuan yang di dapatkan di bangku perkuliahan saja," ujarnya kepada media.
Menurut dia, mendengarkan dosen saat berada di kelas itu hanya sebagian kecil saja yang bisa kita dapatkan. Namun, laboratorium mahasiswa yang sebenarnya itu ada di organisasi sebagai kawah candradimuka bagi seorang mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri.
Tak cukup di HMI, saat mahasiswa, dirinya bergabung di Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Lampung. Pengalaman panjang sebagai aktivis di kampuslah yang membuat saya bergabung di AMPG.
Dari diskusi ke diskusi, dirinya melihat semakin seksi dengan hal-hal politik dan pemerintahan sampai akhirnya terjun bebas ke dalam dunia politik. Di saat kebanyakan anak muda banyak yang menghindari politik, dia memilih jalan tak pasti dan penuh intrik itu.
Tahun 2005, Bung Adi bergabung ke PD. Lima tahun kemudian, 2010, dirinya dipercaya jadi pengurus Biro di DPP PD. Pertarungannya di Pileg 2014 menghantarkannya duduk sebagai anggota DPRD Lampung dari daerah pemilihan Tulangbawang, Tulangbawang Barat, dan Mesuji.
Pada Pileg 2019, dapilnya pindah ke kabupaten kelahirannya, Lampung Selatan. Suaranya kurang sedikit, sehingga dirinya tak duduk kembali di DPRD Lampung. Tak membuatnya jera, dia kembali rajin berkeliling -- mungkin yang paling giat -- menyisir suara buat Pileg 2024.
Setiap ngobrol dengannya, girohnya sangat tinggi dalam memperjuangkan keyakinannya walau dengan "tertatih-tatih" pascatersedot Pileg 2019. Namun, benar istilah rejeki tak lari kemana, walau sudah di penghujung, Bung Adi "come back" ke DPRD Lampung.
Bung Adi di mata saya, walau usia relatif muda, keras dan bersungguh-sungguh meyakinkan masyarakat mengamanahkan keterwakilannya dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat lewat dirinya, partainya.
Yang politikus lain ada yang luput, Bung Adi selalu menjaga kesantunannya, kepada siapa pun, kawan dan lawan, selamat Bung Adi, semoga Alloh SWT meridhoi perjuanganmu menjadi wakil rakyat, jangan lupa "ngupi-ngupi".
* Jurnalis