Anshori dan Martinus dari Lampung Narasumber Workshop Fotografi Layangan di Jogja

Selasa, 9 Juni 2026 13:19
Flyer Workshop Kite Aerial Photography (KAP) Jogja Kite Fest 2026 HELO LAMPUNG

YOGYAKARTA, HELOINDONESIA.COM — Ir. Anshori Djausal, M.T. (praktisi dan pengembang Auto Kite Aerial Photography) dan Dr. Ir. Martinus, S.T., M.Sc. (peneliti Auto Kite Aerial Photography berbasis Arduino) jadi narasumber Workshop Kite Aerial Photography (KAP) Jogja Kite Fest 2026 di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta, 7–9 Juli 2026.

Workshop dijadwalkan pada 7 Juli 2026 pukul 13.00 WIB. Workshop yang diikuti peserta dari luar negeri itu juga menghadirkan narasumber Saša Iskrić Smrekar dari Slovenia yang aktif mengembangkan jaringan komunitas KAP internasional, fotografi udara berbasis layang-layang.

Di tengah dominasi penggunaan drone untuk fotografi udara, sebuah teknologi klasik justru kembali mendapat perhatian. Melalui perpaduan seni, teknologi, dan tradisi, Jogja Kite Fest 2026. Kegiatan ini menjadi ajang langka untuk memperkenalkan kembali KAP kepada masyarakat luas.

Selain menampilkan karya foto udara, penyelenggara juga memamerkan berbagai peralatan KAP, kamera khusus, serta teknologi otomatis yang memungkinkan pengambilan gambar dari ketinggian dengan memanfaatkan tenaga angin.

Pameran yang berlangsung di Atrium Agape UKDW tersebut akan menampilkan dokumentasi foto udara, perangkat KAP, hingga perkembangan teknologi yang menggabungkan prinsip aerodinamika, elektronika, dan sistem pencitraan modern.

Menurut Anshori Djausal, sebelum drone berkembang pesat seperti saat ini, KAP memiliki peran vital dalam berbagai kegiatan pemetaan dan dokumentasi wilayah. "Jauh sebelum drone populer, KAP sudah digunakan untuk membantu pemetaan kawasan pesisir, dokumentasi bentang alam, survei lingkungan, hingga penelitian lapangan. Teknologi ini relatif murah, mudah dibawa ke lokasi terpencil, dan mampu menghasilkan foto udara berkualitas baik," ujarnya.

KAP merupakan salah satu metode fotografi udara tertua di dunia. Teknologi ini berkembang sejak akhir abad ke-19, ketika fotografer Prancis Arthur Batut berhasil mengambil foto udara menggunakan kamera yang digantungkan pada layang-layang. Sejak itu, KAP digunakan untuk kepentingan ilmiah, pemetaan, hingga dokumentasi arkeologi.

Di Indonesia, perkembangan KAP beririsan erat dengan tradisi layang-layang yang telah hidup selama ratusan tahun di daerah seperti Bali, Sulawesi, dan pesisir Jawa. Tradisi tersebut bertemu dengan teknologi fotografi digital pada awal 2000-an, melahirkan berbagai eksperimen fotografi udara berbasis layang-layang. Sebelum drone mudah diakses, peneliti dan komunitas memanfaatkan KAP untuk menghasilkan citra udara resolusi tinggi dengan biaya jauh lebih rendah dibandingkan sewa pesawat atau helikopter.

Meski kini berada di bawah bayang-bayang drone, KAP tetap memiliki keunggulan. Teknologi ini ramah lingkungan, nyaris tanpa suara, tidak bergantung pada baterai berkapasitas besar, serta memungkinkan pengguna memahami langsung karakter angin dan kondisi atmosfer.

Perkembangan mikrokontroler seperti Arduino bahkan melahirkan sistem Auto Kite Aerial Photography, yang memungkinkan kamera bergerak dan mengambil gambar secara otomatis saat diterbangkan. Inovasi ini membuka peluang baru bagi pemetaan partisipatif, pendidikan sains, dokumentasi budaya, hingga eksplorasi seni visual.

Peserta workshop akan memperoleh sertifikat, konsumsi, serta kesempatan mengamati langsung praktik penerbangan KAP di lapangan. Biaya pendaftaran ditetapkan sebesar Rp60.000 untuk umum dan Rp35.000 bagi pelajar.

Menurut penyelenggara, kegiatan ini terbuka tidak hanya bagi fotografer dan pegiat teknologi, tetapi juga mahasiswa, pelajar, komunitas layang-layang, pegiat lingkungan, peneliti, hingga masyarakat umum yang ingin mengenal alternatif fotografi udara yang lebih berkelanjutan.

Melalui Jogja Kite Fest 2026, Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai ruang pertemuan kreativitas, riset, dan budaya. Festival ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sebelum baling-baling drone memenuhi langit, sehelai layang-layang telah lebih dahulu membantu manusia melihat bumi dari perspektif yang berbeda. (Christian Saputro)

Berita Terkini