HELOINDONESIA.COM — Innalilahi wainna ilahirojiun, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei, dilaporkan syahid setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyasar kantor kepresidenan Iran pada Sabtu (28/2/2026). Kabar wafatnya Ali Khamenei dikonfirmasi oleh Islamic Republic News Agency (IRNA) serta televisi pemerintah IRIB News, Minggu (1/3/2026).
Sejumlah stasiun televisi Iran secara serentak menyiarkan pengumuman syahidnya pemimpin tertinggi Republik Islam Iran yang menjabat sejak 1989 tersebut. “Yang Mulia Imam Khamenei syahid di Bulan Suci Ramadan,” ujar pembaca berita IRIB News.
Baca juga: Perang AS–Israel versus Iran Dimulai, Saling Kirim Rudal Balistik
Kabar duka itu juga disampaikan melalui akun resmi Ali Khamenei di platform X dengan unggahan bertuliskan: “Dengan nama mulia Haidar (Imam Ali), semoga kedamaian tercurah kepadanya. Tanpa-Nya, tak ada langit maupun bumi.”
Menurut kantor berita Fars, Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta meliburkan aktivitas kerja selama satu pekan. Ali Khamenei, yang lahir pada 19 April 1939, dilaporkan wafat di Mashhad.
Ali Khamenei merupakan tokoh sentral Revolusi Islam Iran 1979 dan memimpin Republik Islam Iran sebagai pemimpin tertinggi sejak 1989. Syahidnya menutup era panjang kepemimpinannya dan membuka babak baru yang sarat ketidakpastian bagi dinamika politik global serta arah ideologi Iran.
Baca juga: Operasi Janji Sejati 4 Iran Rudal Israel dan Basis Militer AS
Penjabat Presiden Republik Islam Iran, Mohammad Mokhber, menyatakan bahwa fase transisi kepemimpinan akan dikelola bersama oleh Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni-Ejei, serta seorang ahli hukum dari Dewan Garda.
Selain Ali Khamenei, sejumlah pejabat tinggi Iran juga dilaporkan syahid, di antaranya Ali Shamkhani, Perwakilan Pemimpin Tertinggi di Dewan Pertahanan Agung, serta Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, Panglima Tertinggi Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Ali Khamenei tewas akibat serangan militer AS. Ia menyatakan bahwa selama hampir 50 tahun Iran telah menargetkan dan membunuh warga Amerika serta terus berupaya mengembangkan senjata paling mematikan demi tujuan radikal mereka.
Trump menegaskan militer AS tidak akan mentoleransi serangan rudal yang mengancam warga Amerika. Rudal-rudal tersebut, menurutnya, akan dihancurkan bersama fasilitas produksi milik Iran. Ia juga memastikan Angkatan Laut Iran akan dilenyapkan.
“Sebagaimana telah saya tegaskan, Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir. Amerika Serikat tidak memulai konflik ini, tetapi kami yang akan mengakhirinya. Jika Anda membunuh atau mengancam warga Amerika di mana pun di dunia,” ujar Trump.
Amerika Serikat kemudian melancarkan Operasi Epic Fury, yang diklaim sebagai operasi udara paling mematikan, kompleks, dan presisi dalam sejarah, dengan target wilayah Iran. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth membenarkan operasi tersebut dilakukan atas perintah langsung Presiden Trump.
“Rezim Iran sebenarnya memiliki kesempatan, namun mereka menolak mencapai kesepakatan—dan kini harus menanggung konsekuensinya,” tulis Hegseth melalui akun media sosial X, Minggu (1/3/2026). (HBM)
