LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - “Serdam: The Death Whistle” karya Movie Lab, yang disutradarai oleh Dede Safara Wijaya, menjadi film pendek asli Lampung pertama yang tayang di Bioskop Online (www.bioskoponline.com). Hal ini dinyatakan pada konferensi pers yang diadakan oleh Movie Lab pada Jum’at, 14 Juni 2024 di Dewan Kesenian Lampung. Mereka yang hadir antara lain, Iswadi Pratama (pemeran Hamdan), Bagus S. Pribadi (Produser Eksekutif, Sekretaris Dewan Kesenian Lampung), Razi Al Farisi (Founder Movie Lab), Iin Zakaria (Produser, Penulis), dan Dede Safara (Sutradara).
Bukan sekadar menyoroti karya dari Lampung, film ini juga mengangkat isu tentang kepunahan alat musik tradisional Lampung, Serdam. Karenanya, Bagus S. Pribadi, Produser Eksekutif dan Sekretaris Dewan Kesenian Lampung, memberikan dukungan terbaiknya untuk film ini, “Kami sebagai lembaga yang menaungi kesenian di Lampung berkomitmen untuk mendukung berbagai bentuk kesenian, termasuk juga film. Apalagi film ini membahas tentang alat musik Lampung, yang kita ketahui bersama, hampir punah, lalu proses syuting ini juga dilakukan di Pesisir Barat dengan menampilkan alam Lampung yang indah disana. Maka tidak ada alasan untuk tidak mendukung produksi film ini karena film ini selain menjadi hasil atau produk kesenian, juga menjadi kendaraan bagi penyebaran informasi mengenai kegelisahan kita tentang kepunahan alat musik Serdam, serta berpotensi memperkenalkan Lampung di sektor pariwisata.”, ungkapnya.
Selain menawarkan cerita yang kental dengan budaya Lampung, film ini juga dibalut dengan cerita drama keluarga, khususnya relasi Ayah-Anak yang sangat dekat dengan kehidupan. Film ini memberikan pengalaman lain untuk aktor teater kawakan, Iswadi Pratama, yang berperan sebagai Hamdan. Dalam film ini, ia harus menjadi seorang Ayah dari anak laki-laki, sementara dalam kehidupan nyata ia memiliki seorang anak perempuan, “Ini pengalaman keaktoran yang menarik karena saya harus menjadi Ayah bagi seorang anak laki-laki padahal anak saya perempuan. Namun ini tidak menjadi sulit karena dalam keseharian di Teater Satu ada banyak murid laki-laki saya yang sudah sangat dekat dengan saya dan saya anggap seperti anak sendiri. Tantangannya justru pada aspek lainnya, yaitu alih wahana dari teater ke film yang memang membutuhkan beberapa penyesuaian. Namun dengan kerjasama tim yang baik, semua bisa dilalui dengan baik juga,” ungkapnya.
Selain aspek cerita dan isu yang dikandungnya, film ini juga merupakan bukti nyata bahwa kolaborasi komunitas khususnya film, jika diberi bimbingan dan dukungan yang tepat, dapat memberikan hasil yang baik dan membanggakan bagi Lampung. Iin Zakaria, Produser dan Penulis dari film “Serdam: The Death Whistle” mengungkapkan, “Tujuan awal Movie Lab membuat film ini adalah untuk membentuk ekosistem perfilman dan industri mikro film di Lampung. Karena itu kami berupaya membuka peluang seluas-luasnya untuk film ini ditayangkan dan menjadi kendaraan kami untuk berkelanjutan, agar sineas-sineas muda di Lampung bisa memproduksi film lagi. Membicarakan perjalanan film ini, pada tahun 2022 kami selesai produksi, dan mulai menayangkan film ini di beberapa pemutaran alternatif komunitas. Lalu pada tahun 2023, film ini menjadi perwakilan Lampung di festival film internasional Kenduri Serumpun Melayu Film Festival. Festival ini kemudian bekerjasama dengan Jogja-NETPAC Asian Film Festival untuk menayangkan film-film Sumatra di Bioskop Online dalam program Sajian Film Sumatra”, ungkapnya.
Sang sutradara, Dede Safara Wijaya mengaku sangat terharu dengan perjalanan panjang yang apresiasi yang besar untuk film “Serdam: The Death Whistle”. “Saya sangat terharu, bangga, dan berterima kasih kepada seluruh rekan komunitas, anak-anak muda berbakat yang memproduksi film ini bersama saya. Ini produksi kolaborasi pertama kami dan perjalanannya begitu jauh dan luar biasa. Tentu juga saya berharap, karya sederhana kami dari Movie Lab ini dapat diterima dengan baik oleh penonton dari seluruh Indonesia, khususnya masyarakat Lampung”, ungkapnya.
Pernyataan ini juga dilengkapi oleh Razi Al Farisi, Founder Movie Lab dan representatif dari Komite Film Dewan Kesenian Lampung yang juga menyampaikan harapannya, “Karena ini uji coba atau laboratorium pertama, kami sadar bahwa film ini masih punya beberapa kekurangan. Akan tetapi, mendapatkan apresiasi sebesar ini sampai di titik ini, harus kami akui ini diluar dari apa yang kami prediksi sebelumnya. Kami sangat bangga dan berharap film-film yang kami produksi kedepannya juga bisa memiliki perjalanan seperti
“Serdam: The Death Whistle”, atau bahkan melampaui film ini”, ungkapnya.
“Serdam: The Death Whistle” dibintangi oleh Iswadi Pratama, Aditya Panoet, Deddy Sulaimawan, Erika Novalia, Farid Masda, dan Haikal Arifin. Bercerita tentang Hamdan, seorang maestro Serdam asal Lampung yang harus kembali membuat alat musik Serdam dengan cara tradisional untuk memenuhi permintaan Pun Ibrahim, Tetua Adat setempat. Dalam prosesnya, Hamdan mengalami hambatan untuk memenuhi syarat pembuatan Serdam, yaitu menancapkan Serdam pada makam bujang/gadis yang meninggal dengan tidak wajar. Di sisi lain, Hamdan juga tengah mengalami konflik dengan anaknya, Jaya, yang enggan menjadi penerus dirinya sebagai ahli pembuat Serdam.
Film pendek asli Lampung ini sudah dapat disaksikan di Bioskop Online (www.bioskoponline.com). Hanya dengan Rp 7.000,-, kita dapat mengetahui lebih dalam tentang Serdam dan mendukung perfilman dan melestarikan kebudayaan Lampung kedepannya. Informasi terbaru mengenai film ini dapat diikuti melalui akun media sosial resmi @movielab_official. Tunggu apa lagi, yuk tonton sekarang!
***