Mengaku Tak Memukul, Tapi Panti Qoroba Damai di Kantor Polisi

Jumat, 2 Mei 2025 22:51
Salah seorang korban (Foto Hajim/Helo)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ----- Pengurus Yayasan Panti asuhan Qoroba Mulya membantah aniaya dan usir empat anak asuhnya. Yayasan menyerah mendidiknya dan minta para orangtuanya menjemput anaknya.

Kamis (1/5/2025), keempat anak sempat keluar berikut semua pakaian dan minta orangtuanya menjemputnya. Ke Helo Indonesia, mereka menceritakan dan menunjukkan bekas penganiayaan.

Menurut mereka, pelakunya Abi Alarof. Salah seorang anak inisial DS mengalu kena gebuk, jambak, dan digampar. "Saya dipukul bagian perut dan ditampar juga," ujar DS (17) kepada Helo Indonesia.

"Kita juga sudah melakukan mediasi di kantor polisi, termasuk ditandatangani perdamaian keempat anak asuhnya serta paman dari DS dan disaksikan Bhabinkamtibmas Waydadi Baru Aipda Arie," ujarnya.

NGAKU DIANIAYA

Sehari sebelumnya, keempat remaja mengaku mendapatkan kekerasan fisik. Mereka diusir dan ditemui Helo Indonesia saat ini berada di gardu depan yayasan tersebut berikut tas-tas yang berisi pakaian dan perlengkapan sekolah mereka.

Keempat remaja itu adalah DS, ME, IL, dan JY. Menurut mereka, pelaku kekerasan ketua pengurus yayasan tersebut. "Saya dipukul bagian perut dan ditampar juga karena nyambi jadi tukang parkir," ujar DS (17) kepada Helo Indonesia.

Mereka mengaku melakukan pekerjaan parkir lantaran untuk membantu biaya sekolah dan mengurangi beban orangtuanya di kampung. Pelakunya Abi Af, terang DS yang kena gebuk, jambak, dan digampar, katanya.

Menurut DS, temannya juga ditendang, dijambak, kena tinju perut, dan uang parkirnya diambil sama Umi, panggilan isteri Af, ungkap siswa kelas XI.

Lain lagi dengan ME, dirinya mengalami kekerasan fisik karena telat melaksanakan ibadah shalat Isya. "Saya telat shalat karena ketiduran, tanpa basa basi saya langsung dipukuli," tuturnya.

Budi Utomo, paman dari DS menyampaikan bahwa kekerasan seperti ini pernah dialami sama anaknya juga, nah sekarang keponakannya yang mengalami lagi kekerasan fisik ini. Dia menuntut keadilan karena keponakannya mengalami luka memar di bagian wajah.

"Pada saat itu pernah ada perjanjian, kalau ada anak yang memang tidak bisa diatur ya dikeluarkan tapi tidak dengan disertai kekerasan, namun ini diulang lagi," katanya.

Para korban sudah melakukan visum di RS Airan Raya,untuk kelengkapan laporan ke pihak kepolisian

Sementara salah satu warga,yang juga merupakan alumni dari yayasan tersebut mengaku bahwa dirinya kerap menerima curhatan dari anak-anak yayasan Qoroba Mulya dan sudah menjadi rahasia umum kalau pihak yayasan kerap melakukan tindakan kekerasan ketika anak-anak melakukan kesalahan.

“Mereka sering jajan di warung saya dan curhat selain dipukul bantuan sekolah seperti KIP yang mereka terima dipotong oleh Yayasan Qoroba Mulya atau kalau dapat bantuan dari donatur dipotong dengan alasan untuk membeli beras," katanya.

“karena anak-anak ini sudah tidak memiliki uang lagi, anak-anak ini minta solusi ke saya, muncul lah ide untuk parkir agar mereka bisa mencari uang tambahan untuk ongkos sekolah.

Salahnya mungkin mereka tidak izin ke pihak panti saat mau keluar parkir sehingga malam pada saat ketahuan mereka dipukuli dan diusir, ujarnya. (Hajim).

Berita Terkini