HELOINDONESIA.COM - Gizi yang cukup sangat mempengaruhi kesehatan dan vitalitas orangtua terutama untuk membantu mengurangi risiko penyakit kronis seperti Osteoporosis, penyakit Jantung dan kanker.
Nutrisi penting untuk menjaga kebugaran tubuh, kebugaran tubuh dapat membantu mencegah timbulnya penyakit pada lansia. Salah satu zat gizi yang sangat dibutuhkan oleh lansia adalah protein.
Protein merupakan zat gizi dengan fungsi utama memperbaiki jaringan sel agar dapat bekerja dengan baik. Lansia yang cukup asupan protein memiliki daya tahan tubuh yang baik dikarenakan salah satu fungsi protein adalah menjaga imunitas tubuh.
Lalu seberapa penting protein dan cara mencukupinya?
1. Seberapa Penting Protein?
Wang Yuedan, Wakil Kepala Departemen Imunologi di Fakultas Kedokteran Universitas Peking, pernah menyebutkan bahwa protein adalah “bahan bangunan” bagi sistem imun tubuh.
Baca juga: Cristiano Ronaldo: Masa depan Saya Ada di Bidang Lain
Sel imun dalam tubuh, antibodi untuk melawan virus dan bakteri, sitokin, enzim lisozim, serta protein C-reaktif semuanya terbuat dari protein.
Lalu, apa yang terjadi jika tubuh kekurangan protein dalam jangka panjang?
Yang paling jelas terlihat adalah penurunan daya tahan tubuh. Lansia menjadi lebih mudah sakit dan proses pemulihan mereka melambat, sehingga kondisi tubuh secara keseluruhan menjadi lebih rapuh.
Selain itu, mereka sering merasa lelah, fungsi otot melemah, sulit berjalan, dan lebih rentan jatuh. Risiko ini bisa menjadi serius bagi lansia, karena setelah usia 65 tahun, jatuh bisa menjadi “jatuh terakhir”, yang berisiko menyebabkan komplikasi serius.
Oleh karena itu, untuk hidup lebih sehat dan panjang umur, lansia perlu memastikan asupan protein yang cukup. Jika ada penurunan berat badan, kelemahan otot, kuku rapuh, atau rambut rontok yang semakin banyak, perlu diwaspadai apakah tubuh sedang kekurangan protein.
2. Jangan melebihi jumlah protein ini, jika tidak, diabetes akan menghampiri Anda
Menurut Pedoman Asupan Nutrisi Penduduk Tiongkok, orang dewasa disarankan mengonsumsi 0,8 gram protein per kilogram berat badan setiap hari.
Rekomendasi ini juga didukung oleh organisasi internasional seperti Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Otoritas Keamanan Pangan Eropa.
Misalnya, seseorang dengan berat badan 70 kg membutuhkan sekitar 58 gram protein setiap harinya.
3. Makanan Berprotein Tinggi untuk Lansia
Untuk memastikan kebutuhan protein terpenuhi, bujuklah lansia untuk mengonsumsi beberapa jenis makanan berikut:
1. Telur
Bagi mereka yang tidak suka daging atau vegetarian, telur adalah pilihan yang baik. Satu telur rebus biasa mengandung sekitar 6 gram protein. Selain itu, telur juga kaya akan vitamin dan mineral, seperti vitamin A dan vitamin B kompleks.
2. Kacang-kacangan
Almond, kacang tanah, pistachio, kenari, dan mete tidak hanya mengandung protein, tetapi juga menyediakan asam lemak tak jenuh dan serat makanan yang baik untuk kesehatan.
3. Produk Olahan Kedelai
Kacang-kacangan dan produk kedelai merupakan gudang protein, dan juga kaya akan serat, mineral, vitamin, dan zat lainnya, yang dapat melengkapi tubuh dengan berbagai nutrisi, dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh.
Protein adalah nutrisi esensial yang sangat penting bagi lansia untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Namun, konsumsinya harus sesuai kebutuhan agar tidak menimbulkan risiko kesehatan lain.
Dengan memperhatikan asupan protein dari sumber makanan seperti telur, kacang-kacangan, dan produk kedelai, lansia dapat menjalani hidup yang lebih sehat dan aktif.
Namun, konsumsi protein tidak selalu semakin banyak semakin baik. Profesor Luigi Fontana dari Universitas Sydney, yang ahli dalam bidang kedokteran dan nutrisi, memperingatkan bahwa asupan protein yang berlebihan dapat menimbulkan risiko berikut:
Baca juga: Bertambah, Pemilik Saham Koperasi Gunung Madu Tak Mau Gabung KJGA
1. Meningkatkan Risiko Diabetes dan Penyakit Kardiovaskular
Jika konsumsi protein harian melebihi 64 gram, setiap tambahan 10 gram dapat meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2 sebesar 20% hingga 40%.
2. Meningkatkan Angka Kematian
Sebuah studi National Health and Nutrition Examination Survey di Amerika Serikat yang melibatkan orang dewasa berusia 50 hingga 65 tahun menemukan bahwa pola makan tinggi protein meningkatkan angka kematian total sebesar 75%. Selain itu, risiko kanker dan obesitas meningkat hingga empat kali lipat.
Oleh karena itu, sangat disarankan untuk menyesuaikan asupan protein dengan kondisi tubuh masing-masing agar lebih sehat dan efektif.***