Usul Memoles Pemulung TPA Bakung Jadi Pahlawan Lingkungan Hidup

Jumat, 20 Oktober 2023 16:56
Hary Jiems

Oleh Hary Jiems (Hajim)*

TEMPAT Pembungan Akhir (TPA) Bakung baru saja kebakaran hebat, siang malam hingga sepekan. Kambing hitam pun berseliweran, para pemulung dicurigai sebagai pemantiknya karena paling girang setelah kebakaran panen besi dan tembaga dari dari tumpukan sampah bekas terbakar.

Tapi biarlah, curiga boleh-boleh saja, bebas, tapi untuk menuduh harus ada bukti sesuai azas praduga tak bersalah. Biarlah, hal itu ranahnya kepolisian. Karena, dimana-mana juga kebakaran akibat kemarau panjang. Di provinsi lain juga, TPA-nya rata-rata terbakar.

Sebagai jurnalis yang mengikuti setiap hari kebakaran, saya juga tak mau ikut-ikutan mengorek-ngorek penyebab kebakaran. Saya malah tertarik bagaimana menjadikan peristiwa ini malah menjadi berkah bagi semua stakeholder atas TPA Bakung.

Baca juga: Kejari Mesuji Raih 4 Penghargaan Atas Laporan Kinerja Tahun 2023 Se-Kejati Lampung

TPA Bakung, Telukbetung Barat, memiliki luas 12,5 hektare dengan sampah yang telah membentuk bukit-bukit ribuan ton. Di atas tumpukan sampah itu, 500-an kepala keluarga mengais rezeki. Namun, selama ini, mereka dibiarkan begitu saja.

Akibatnya, antarmereka kerap bergesekan soal lapak sampah hingga gubuk-gubuk liar buat istirahat, teritorial pengumpulan sampah berharga, hingga tempat memasak dan ngopi. Sementara, sampahnya sendiri numpuk sedemikian rupa, tak pernah ada solusi mengatasi apa lagi memanfaatkannya.

Padahal, para pemulung itu dapat menjadi aset sumber daya manusia jika dikelola dari yang selama ini merepotkan petugas malah dapat menjadi penolong pemerintah mengatasi persoalan sampah para pejabat, pengusaha, hingga rakyat kota ini.

Mereka tinggal dipoles para tenaga ahli Wali Kota Bandarlampung yang bejibun dan tak terdengar gagasannya oleh telinga rakyat selama ini, bagaimana menjadikan ratusan orang yang ikhlas mengais di tempat kotor menjadi pahlawan bagi penataan lingkungan hidup.

Baca juga: Pindah ke Nasdem, Hanura Pecat Anggota DPRD Lampura Ali Darmawan

Kawan-kawan penggiat lingkungan hidup juga banyak di Kota Bandarlampung, mereka dapat melakukan pendampingan, pemberdayaan terhadap para pemulung agar mereka dapat menambah pendapatan serta jadi pahlawam bagi rakyat dan Pemkot Bandarlampung.

Bagaimana caranya, silahkan didiskusikan, buka FGD, dan aksi. Saya yakin para pemulung akan riang gembira adanya pengakuan tak langsung keberadaan mereka sekaligus dapat menambah penghasilan.

Sekadar untuk mengispirasi saja, para pemulung didata identitasnya. Mereka lalu dikocok wilayah atau zona-zona lapak sampahnya. Setelah itu didampingi, sambil mencari sampah bernilai ekonomis juga memisahkan sampah organik dengan anorganik.

Targetnya, TPA Bakung ada pemisahan sampah organik dan anorganik. Nah, tinggal, sampah anorganik bagaimaba bisa dibuat menjadi bata, paving blok, dll. Sedangkan sampah organik diolah menjado humus atau pupuk organis yang nilai jualnya lumayan buat menambah kantong para pemulung.

Baca juga: 600 Personel Polres Demak Siap Amankan Pemilu 2024

Kuncinya satu, semangat menata TPA Bakung sekaligus mengelolanya jadi tambang emas bagi lingkungan hidup lainnya. Saya yakin, tenaga ahli, pakar lingkungan hidup, dan para penggiat konservasi lebih jago menjadikan pemulung jadi pahlawan ekonomi dan lingkungan hidup.

Tak perlu predikat semua itu jika yang ditawarkan padat modal. Tapi, bagaimana memberdayakan potensi yang ada dengan konsep sinergisitas dapat mensejahterakan rakyat dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup tak hanya jargon mau pemilu saja.

* Jurnalis Helo Indonesia Kota Bandarlampung.

Berita Terkini