Helo Indonesia

Meriah, Religius, dan Bikin Terpukau: MTQ Nasional XXXI di Jateng Banjir Pujian

Ajie - Nasional
58 menit lalu
    Bagikan  
Meriah, Religius, dan Bikin Terpukau: MTQ Nasional XXXI di Jateng Banjir Pujian

Suasana merih defile kontingen dalam pembukaan MTQ Nasional di Jateng

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI di Lapangan Simpang Lima, Kota Semarang, Sabtu malam 12 September 2026, sukses mencuri perhatian publik.

Perhelatan akbar ini bukan hanya menjadi ajang kompetisi, melainkan menjelma menjadi pesta rakyat yang memadukan syiar agama, seni budaya, hiburan kelas atas, serta semangat persaudaraan yang membekas di hati para pesertanya.

Kemeriahan malam itu pun langsung menuai banjir pujian, baik dari para pembina kafilah, peserta, maupun warga yang memadati jantung Kota Semarang.

Baca juga: Dari Semarang, Pesan Damai MTQ Nasional XXXI Dipancarkan ke Seluruh Indonesia

Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Blitar, Muhlasin, menjadi salah satu pihak yang mengapresiasi kualitas penyelenggaraan tahun ini. Menurutnya, pelaksanaan MTQ Nasional di Jawa Tengah mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Kegiatan MTQ di Jawa Tengah ini saya kira lebih meriah daripada yang sebelumnya. Fasilitasnya begitu luas dan audionya sangat kencang," puji Muhlasin, menilai lokasi Simpang Lima sangat strategis dan nyaman untuk acara skala nasional.

Kesan mendalam turut dirasakan oleh Pelatih dan Pembina MTQ Cabang Maluku Utara, Drs H Umar Mukhtar. Ia mengaku terpesona dengan kehangatan sambutan masyarakat Jawa Tengah sejak pertama kali rombongan tiba di bandara. Nuansa religius yang kuat serta menjamurnya masjid yang mengumandangkan syelawat dan azan membuat mereka merasa seperti di rumah sendiri.

“Dari sisi kulinernya juga sangat luar biasa sekali, tidak beda jauh dengan Ternate. Itu membuat kami ingat terus Ternate,” ungkap Umar dengan senyum sumringah.

Sportivitas dan Pesan Persaudaraan

Dari sudut pandang Pimpinan Kafilah Lampung, Haji Makmur, kemeriahan pembukaan harus diiringi dengan semangat sportivitas yang tinggi. Ia mengingatkan bahwa perebutan gelar juara bukanlah satu-satunya tujuan utama dari perhelatan akbar ini.

“Masing-masing provinsi mengirim utusan ke sini untuk berlomba dengan sportif. Juara memang diharapkan, tetapi persaudaraan dan bagaimana nilai-nilai Alquran terpatri dalam kehidupan para qari dan qariah adalah yang utama,” ujar Makmur. Ia bahkan menyambut positif wacana agar MTQ Nasional dapat digelar secara rutin setiap tahun demi menjaga kesinambungan pembinaan talenta muda.

Kemegahan acara pembukaan ini tak lepas dari arahan langsung Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, yang menginginkan agar para kafilah dari 37 provinsi merasa nyaman dan membawa pulang kenangan manis.

Baca juga: Polisi Membagi 3 Kluster, dalam Penanganan Kerusuhan di Gedung DPR/MPR

Pesan tersebut terwujud nyata lewat lautan manusia yang memadati Simpang Lima. Bahkan, tingginya antusiasme membuat warga rela menggelar alas dan duduk di jalan raya demi menyaksikan rangkaian acara secara langsung melalui videotron raksasa yang disebar di berbagai sudut lapangan.

Kemeriahan malam itu semakin lengkap berkat suguhan seni kolosal yang memukau: Tari Rato Jaroeh yang dibawakan secara apik oleh siswa-siswi SMAN 4 Semarang.

Tari Kolosal Kisah Tanah Jawi yang memadukan kekayaan budaya lokal ke atas panggung utama. Penampilan spesial dari penyanyi religi Opick yang sukses menghipnotis ribuan penonton lewat lantunan lagu-lagu syiarnya.

Puji, seorang perantau asal Lampung yang tinggal di Semarang, mengaku takjub dengan skala acara tersebut. "Keren banget, baru kali ini melihat acara sekeren ini," ucapnya antusias. Senada dengan Puji, Fida asal Blora berharap konsep acara megah seperti ini bisa lebih sering dihadirkan di Jawa Tengah.

Dengan perpaduan apik antara syiar Islam, kemegahan seni budaya, dan kehangatan warga lokal, pembukaan MTQ Nasional XXXI di Semarang sukses membuktikan diri bukan sekadar seremoni pembuka kompetisi, melainkan sebuah ruang perjumpaan agung yang memancarkan kedamaian untuk Indonesia. (Aji)