Helo Indonesia

Mengukur Chemistry Antara Aku dan Kau

Herman Batin Mangku - Opini
Kamis, 14 Agustus 2025 16:21
    Bagikan  
R
R

R - Gufron Azis Fuandi

OLEH GUFRON AZIS FANDI*

KITA semua pasti pernah mengalaminya: bertemu seseorang, ngobrol sebentar, lalu entah kenapa langsung nyambung. Rasanya akrab, enak diajak cerita, bahkan tanpa perlu basa-basi panjang. Nah, orang sering bilang, “Ini nih, chemistry-nya dapat.”

Awalnya, chemistry itu istilah anak IPA—soal atom, molekul, dan rumus yang dulu bikin kita hafalan mati-matian di sekolah. Contohnya dua atom hidrogen (H) dan satu atom oksigen (O) yang akhirnya menikah dalam ikatan sah menjadi H₂O alias air. Dalam dunia sains, ikatan ini bisa kuat meski jenis atomnya berbeda. Dalam hidup, prinsipnya sama—kadang orang yang berbeda latar belakang justru bisa klop banget.

Dari dunia laboratorium, istilah ini pindah ke dunia sosial. Awalnya untuk cinta-cintaan, tapi lama-lama meluas: pertemanan, keluarga, organisasi, bahkan hubungan profesional. Chemistry artinya nyambung, nyaman, dan bisa kerja bareng tanpa banyak drama.

Tapi, jangan salah paham — chemistry itu bukan sesuatu yang turun dari langit seperti hujan gerimis romantis di drama Korea. Dia bisa dibangun. KH. Ma’ruf Amin pernah memberi nasihat di pernikahan Kaesang dan Erina: hubungan itu butuh rukun usrah— saling mengenal, saling memahami, dan saling menolong. Tanpa itu, chemistry cuma jadi kesan sesaat yang mudah menguap.

Di dunia organisasi, chemistry memang penting. Tim yang saling nyambung biasanya lebih kompak. Tapi, dia bukan satu-satunya kunci. Ada faktor lain yang kadang lebih menentukan: kemampuan mengelola kepentingan semua pihak. Dalam bahasa teori, ini namanya agregasi kepentingan—menggabungkan berbagai suara dan kepentingan menjadi kesepakatan bersama.

Lihat saja sejarah. Khalifah Utsman bin Affan RA. terkenal memilih orang-orang yang punya chemistry kuat dengannya untuk posisi strategis. Tapi, keputusan ini ternyata memicu masalah, karena kurang memperhitungkan kelompok lain yang juga punya kepentingan. Hasilnya, stabilitas terganggu.

Itulah sebabnya, presiden yang bijak tidak hanya memilih menteri yang “nyambung ngobrolnya”, tapi juga yang bisa membuat kursinya tetap kokoh. Kursi berkaki empat jelas lebih stabil daripada kursi berkaki satu. Kursi berkaki satu sih asik kalau mau gaya-gayaan sambil main gitar, bisa muter ke kanan-kiri, tapi coba duduk lama-lama… siap-siap jatuh.

Pada akhirnya, kita harus ingat: manusia itu makhluk solider, bukan soliter. Kita butuh hidup bersama, saling bantu, dan merasakan suka-duka bareng. Kehilangan seseorang pasti menimbulkan rasa sepi—mirip yang diceritakan dalam lagu “Duda Merana”:

Baru sekarang oh aku rasakan
tak punya istri rasanya kesepian…

Dan mungkin di situ, ustadzah Ning Umi Laila akan nyeletuk, “Pret!”—seolah mengingatkan kita, jangan baper berlebihan, tapi jangan juga meremehkan arti kebersamaan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Gaf)

 -