Oleh Herman Batin Mangku*
NAMA Alzier Dianis Thabranie (ADT) sulit dipisahkan dari peta kekuatan Partai Golkar di Lampung era pascareformasi. Putra tokoh Lampung, almarhum Thabranie Daud (Wali Kota Bandarampung 1969–1976), Alzier menjelma menjadi figur yang membentuk, menjaga, sekaligus menguji daya tahan “mesin” Golkar di Sai Bumi Ruwa Jurai selama lebih dari dua dekade.
ADT sukses membawa partai beringin mencapai masa keemasannya di era pascareformasi. Capaian yang tak mampu diikuti para ketua setelahnya.Pada Pemilu 2004, dia berhasil meraih 16 kursi DPRD Provinsi Lampung dan menempatkan kadernya sebagai Ketua DPRD.
Setelah kepemimpinannya, suara Partai Golkar merosot tajam. Pada Pemilu 1999, Golkar meraih 13 kursi DPRD Lampung, masih menjadi partai besar meski turun dari era Orde Baru. Setelah kepemimpinan Alzier, suara partai turun hingga pemilu tahun lalu.
Pada 2016, DPP sempat memberhentikan ADT dari jabatan ketua, namun pengaruhnya tak hilang. Hingga 2025, ia masih aktif sebagai Ketua Depidar SOKSI Lampung dan kerap tampil memberi arahan dalam forum konsolidasi kader.
Alzier bukan hanya memimpin, tapi membangun daya tahan organisasi. Itulah yang membuat Golkar di Lampung bertahan dalam tiap gelombang politik,” ujar seorang kader senior Golkar, Sabtu (16/8/2025).
Dari keprihatinan terhadap partainya, Alzier kembali ingin mengembalikan kejayaan partai ini lewat Musda XI Partai Golkar Lampung akhir bulan ini. Dia tinggal menunggu lampu hijau Dari Ketum DPP Golkar Bahlil Lahadalia dua pekan ini. Berikut jejak fakta karir politiknya bersama Partai Golkar.

Dari “Drama” Pilgub ke Panggung Konsolidasi Golkar
Karier politik Alzier menguat di awal 2000-an ketika ia bersama Ansori Yunus memenangkan pemilihan gubernur Lampung melalui mekanisme DPRD. Putusan Mahkamah Agung (MK) No. 437/K/TUN/2004 mengukuhkan kemenangan itu—sebuah babak hukum panjang yang menempatkan Alzier berhadap-hadapan dengan pusat, meski pada akhirnya ia tak pernah dilantik.
“Drama” ini justru memantapkan posisinya sebagai simbol perlawanan politik daerah. Kegagalan dilantik tidak membuatnya surut. ADT memilih jalan konsolidasi—membenahi arsitektur organisasi, merawat jaringan hingga akar rumput, dan mengembalikan kepercayaan pemilih yang kala itu tengah mengalami pergeseran pasca 1998.
Pimpin Golkar Lampung
Di internal beringin, Alzier menorehkan rekor kepemimpinan selama tiga periode di DPD I Golkar Lampung. Di masa inilah banyak kader menyebut Lampung memasuki “masa keemasan” Golkar—stabil secara organisasi, kompetitif dalam pemilu, dan berpengaruh di parlemen daerah. Catatan media lokal pada 2022 menegaskan jejak tiga periode ADT memimpin Golkar Lampung.
Tidak mengherankan, pada Pemilu 2004—pemilu legislatif pertama pascareformasi—Golkar Lampung tampil dominan. Data rilis kala itu menyebut Golkar mengantongi 16 kursi DPRD Provinsi Lampung dan menempatkan kadernya sebagai ketua DPRD. Pencapaian ini menjadi tonggak penting, mengukuhkan Golkar sebagai poros utama pembentukan kebijakan daerah di awal era otonomi.
Jaringan Sayap dan Ormas: Mesin yang Tak Pernah Padam
Salah satu kekuatan ADT adalah kemampuannya mengaktifkan “mesin-mesin” pendukung di luar struktur inti partai—dari ormas pendiri seperti SOKSI hingga paguyuban dan komunitas lokal. Bahkan pada 2023–2025, ketika dinamika elite Golkar Lampung memasuki fase regenerasi, Alzier masih tampil sebagai figur rujukan, memegang amanah sebagai Ketua Depidar SOKSI Lampung dan kerap hadir di kantor DPD untuk mengonsolidasikan kader.
Relasi Pusat
Relasi ADT dengan DPP Golkar tidak selalu mulus. Pada 2016, DPP sempat memberhentikannya dari posisi Ketua DPD I Golkar Lampung—sebuah episode yang memperlihatkan kerasnya politik internal partai besar. Namun, dinamika itu tidak menghapus pengaruhnya di basis; ia tetap menjadi “penjaga memori” sekaligus jembatan lintas generasi kader beringin di Lampung.
Warisan Ketahanan Organisasi dan Kaderisasi
Warisan utama ADT bagi Golkar Lampung bukan sekadar angka kursi, melainkan ketahanan organisasi. Ia membangun kultur kompetitif—kader berani bersaing di kontestasi lokal, namun tetap kembali ke barisan setelah pertarungan usai. Ketika isu klasik elitisme partai menyeruak, figur ADT kerap menjadi “penyeimbang” yang mendorong meritokrasi: siapa pun bisa maju sepanjang bekerja, punya jejaring, dan memahami kultur lokal.
Catatan biografi yang terbit 2011 turut merekam fase-fase pembentukan karakter politiknya yang keras namun komunikatif.
Mengembalikan Era “Keemasan” Golkar Lampung
Kini, di tengah konfigurasi baru Golkar Lampung—nama-nama seperti ketua-ketua harian, tokoh muda, dan kepala daerah berderet di panggung—narasi tentang “masa keemasan” tetap menghantui standar kerja partai. Setiap konsolidasi, setiap Musda, setiap pembicaraan koalisi, selalu ada benchmark: apakah kita sudah setangguh era ADT?
Fakta bahwa ia terus hadir di berbagai forum kader hingga 2025 menunjukkan satu hal: pengaruh politik bisa berganti rupa, namun jejak kepemimpinan yang membekas tak mudah pudar. Kini, agar Golkar Lampung kembali ke masa keemasan, Alzier pilihannya.
Jika jatuh ke kepemimpinan "garak batu", kemungkinan partai ini akan semakin terpuruk. Pemimpin yang didekati ngejepit dan dimakan jadi racun, ujarnya tanpa menjelaska lebih lanjut artinya. Alzier selain petarung juga ceplas ceplos dan humoris. Sisi ini yang makin membuat "menyala" Golkar Lampung
*Pemred Club
