Helo Indonesia

Memotret MB Jelang Konferda PDIP Lampung, Banteng dan Benteng 25-30

Herman Batin Mangku - Opini
Selasa, 26 Agustus 2025 13:19
    Bagikan  
PDIP
HELO LAMPUNG

PDIP - MB

Oleh Herman Batin Mangku*

DALAM hiruk pikuk politik di Provinsi Lampung, nama Mukhlis Basri (MB) kerap muncul sebagai figur kader PDI Perjuangan yang dianggap paling layak memimpin partai berlambang banteng tersebut di tingkat provinsi.

Ia bukan sosok yang ujuk-ujuk muncul secara instan di panggung politik, tapi kader banteng yang menyeruak dari lingkungan marhaenis yang kemudian meniti jalan politiknya dari kerja-kerja kerakyatan hingga menduduki jabatan strategis.

Anggota DPR RI dua periode ini dilahirkan dari suasana kebatinan PDIP yang berfondasi pada ideologi Marhaenisme, pemahaman sosial yang diciptakan, Presiden Sorkarno yang menekankan kerakyatan dan keadilan bagi kaum kecil.

Mukhlis Basri mengawali kiprah politiknya dari basis desa dan organisasi akar rumput. Ia dikenal dekat dengan masyarakat, terbiasa turun langsung mendengar aspirasi, serta berjuang bersama rakyat kecil. Dia bangga lahir dari anak petani. 

Karakter kepemimpinan inilah yang membuatnya mendapatkan tempat istimewa di hati konstituen maupun kader partai. Melalui rekam jejaknya yang panjang, dia menitinya karier politik yang dibangun lewat kerja keras, loyalitas, dan dedikasi.

Mukhlis Basri pernah menjabat sebagai Bupati Lampung Barat dua periode (2007–2017). Dia berhasil menorehkan ainfrastruktur desa, program pendidikan yang lebih merata, serta penguatan ekonomi berbasis pertanian dan potensi lokal adalah sebagian warisan yang dirasakan masyarakat hingga kini.

Karakter kepemimpinan yang sederhana, merakyat, dan bersih membuatnya dihormati bukan hanya di Lampung Barat, tetapi juga di lingkup provinsi. Gaya kepemimpinannya yang tegas, bersih, dan merakyat semakin menegaskan kualitasnya sebagai pemimpin.

Sebagai kader sejati, loyalitasnya kepada PDIP tidak pernah diragukan. Mukhlis Basri adalah tipe politisi yang tidak mudah tergoda pindah haluan, meskipun politik kerap menawarkan jalan pintas. Dalam situasi politik yang penuh tawaran dan kompromi, ia tetap teguh bersama PDI Perjuangan.

Mukhlis Basri dikenal sebagai kader yang setia pada garis perjuangan partai. Dalam situasi politik yang penuh tawaran dan kompromi, ia tetap teguh bersama PDIP. Loyalitas semacam ini adalah modal penting bagi seorang pemimpin partai.

Dirinyq menunjukkan kesetiaan bukan hanya pada simbol banteng moncong putih, tetapi juga pada ideologi dan perjuangan wong cilik yang diwariskan Bung Karno.

Ia tetap setia mengibarkan bendera partai dan menjaga marwah organisasi, sebuah sikap yang sejalan dengan semangat gotong royong dan ideologi kerakyatan Bung Karno.

Kini, ketika PDIP Lampung menghadapi tantangan konsolidasi, regenerasi, dan penguatan mesin partai menghadapi pemilu mendatang, sosok seperti Mukhlis Basri menjadi sangat relevan.

Ia punya pengalaman birokrasi, rekam jejak politik yang bersih, akar kuat di kalangan masyarakat, serta kapasitas untuk menyatukan kader di tingkat bawah dan elit partai.

Dengan latar belakang sebagai kader yang tumbuh dari bawah, Mukhlis Basri dipandang banyak kalangan sebagai figur paling pantas untuk memimpin PDI Perjuangan Lampung.

Kehadirannya diyakini mampu menghadirkan energi baru, memperkuat soliditas partai, sekaligus menjaga kemenangan PDI Perjuangan di Bumi Ruwa Jurai.

Kini, ketika PDI Perjuangan Lampung membutuhkan figur pemersatu, berpengalaman, dan punya akar kuat di masyarakat, pilihan yang paling rasional jatuh pada Mukhlis Basri.

Kepemimpinan partai di Lampung jelas memerlukan sosok yang mampu merangkul semua faksi, memperkuat soliditas kader, serta meneguhkan PDI Perjuangan sebagai partai rakyat.

Mukhlis Basri memenuhi kriteria itu. Ia membawa pengalaman, loyalitas, dan kedekatan dengan basis, yang membuatnya paling pantas memimpin PDI Perjuangan Lampung ke depan.

Tapi, saya lupa mengkonfirmasi apakah dia bersedia untuk maju memimpin PDIP Lampung? Tahu saja, meski kerap tampil percaya diri dengan rekam jejak keren, Mukhlis Basri yang saya kenal selalu hati-hati, melihat kiri-kanan, terutama soal kursi kekuasaan di tubuh partainya. Sory Panglima, senghaja mak tabayun. Merdeka!

*Pemred Club


 -