Helo Indonesia

Serakahnomic

Prty - Opini
Kamis, 28 Agustus 2025 19:09
    Bagikan  
Serakahnomic

Gufron Azis Fuandi

Oleh Gufron Azis Fuandi

PRESIDEN Prabowo dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR, DPR, dan DPD RI, Jumat (15/8/2025), kembali mengangkat istilah “serakahnomic”. Sebuah istilah yang menggambarkan praktik bisnis rakus: pengusaha yang mengeruk keuntungan besar dengan mengabaikan penderitaan rakyat.

Dalam pidatonya, Presiden menyoroti sejumlah contoh nyata. Salah satunya adalah kelangkaan minyak goreng di Indonesia. Ironis, karena negeri ini adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia, tetapi rakyatnya justru kesulitan mendapatkan minyak goreng.

Fenomena ini mengingatkan pada pepatah lama: “Ayam mati di lumbung padi”—sebuah ungkapan tentang ketidakadilan dan kesia-siaan di tengah kelimpahan.

Serakahnomic dan Sistem yang Rusak

Ketidakadilan semacam ini bukanlah hasil perbuatan individu semata, melainkan bagian dari sistem yang cacat—diperkuat oleh regulasi, aparat, bahkan pihak-pihak yang diuntungkan dari pola serakah tersebut.

Karena itu, publik berharap Presiden tidak berhenti pada retorika belaka. Pidato lantang tanpa tindakan tegas justru akan memunculkan kesan pepatah: “Kakehan gludug, ora ono udan” (banyak guntur, tak ada hujan). Bahkan lebih berbahaya lagi jika para pelaku serakahnomic melihatnya sebagai “Asu njegog ora nyokot” (anjing menggonggong tapi tidak menggigit).

Dua Akar Serakahnomic

Para pengamat menyebut ada dua sumber utama dari praktik serakahnomic:

1. Ekonomi ekstraktif – usaha yang mengeksploitasi sumber daya alam tanpa pembudidayaan berkelanjutan. Misalnya penambangan, penebangan hutan, hingga penangkapan ikan secara berlebihan. Orientasinya hanya menguras sumber daya alam, tanpa memikirkan keberlanjutan maupun kesejahteraan masyarakat.


2. Perilaku koruptif – sifat tamak yang membuat pelaku berusaha meraih keuntungan pribadi, baik melalui kekuasaan maupun celah hukum.


Hakikat Keserakahan

Serakah adalah sifat manusia yang tidak pernah puas. Menurut KBBI, kata “serakah” adalah asli bahasa Indonesia, padanannya “tamak” berasal dari bahasa Arab thoma’un. Menariknya, dalam penjelasan huruf Arab, kata thoma’ disusun dari huruf-huruf yang melambangkan “perut besar, perut kecil, dan mulut terbuka”—simbol manusia yang selalu merasa kosong dan ingin diisi tanpa henti.

Keserakahan bukan hanya soal harta. Ia juga merambah kekuasaan, bahkan kehidupan pribadi. Sejarah memperlihatkan ada penguasa yang ingin memperpanjang masa jabatan melebihi batas, atau tokoh seperti Arjuna dalam kisah pewayangan yang tak pernah puas dengan satu istri.

Peringatan Agama

Islam menegaskan keserakahan adalah sifat tercela. Al-Qur’an menyinggungnya dalam banyak ayat, antara lain:

“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)

“Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya. Dan manusia itu memang sangat kikir.” (QS. Al-Isra: 100)


Rasulullah SAW juga mengingatkan:

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, ia pasti menginginkan lembah ketiga. Dan tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam selain tanah (kematian).” (HR. Bukhari-Muslim)

“Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan.” (HR. Al-Baihaqi)


Akar Konflik Dunia

Banyak orang sering mengingatkan bahaya perang antaragama. Namun sejarah menunjukkan, perang besar seperti Perang Dunia I dan II justru berakar pada perebutan sumber daya—bukan perbedaan iman. Jika Perang Dunia ketiga benar-benar terjadi, hampir pasti penyebab utamanya tetaplah keserakahan.

Penutup

Keserakahan adalah ujian bagi manusia. Bila dibiarkan, ia bukan hanya menciptakan penderitaan bagi orang lain, tetapi juga menghancurkan diri pelakunya. Pepatah Jawa berkata: “Jalma angkara mati murka”—orang yang hidup dengan angkara murka akan binasa oleh keserakahannya sendiri.

Wallahu a’lam bish-shawab.
(Gaf)