Helo Indonesia

Mengenal Rasul Allah (Bagian 2) Tak Kenal Maka Tak Sayang

Annisa Egaleonita - Opini
Jumat, 3 Oktober 2025 15:20
    Bagikan  
Mengenal Rasul Allah (Bagian 2) Tak Kenal Maka Tak Sayang

GAF

Oleh Ustadz Gufron Azis Fuandi*

“TAK KENAL MAKA TAK SAYANG,” demikian bunyi pepatah lama. Artinya, rasa sayang, peduli, dan cinta hanya akan lahir bila ada proses pengenalan yang mendalam. Sebaliknya, jika kita tidak mengenal sesuatu atau seseorang, maka rasa cinta sulit tumbuh.

Bagi seorang muslim, mengenal Rasulullah SAW adalah kewajiban. Tanpa mengenal beliau, kita tidak akan mampu mengamalkan ajaran Islam dengan benar. Rasulullah bukan hanya sekadar penyampai risalah, tetapi juga pembimbing dan teladan nyata bagaimana ajaran itu harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, jika kita hanya mengandalkan peringatan Maulid Nabi setahun sekali, tentu tidak cukup. Kita perlu meluangkan waktu untuk mempelajari sirah nabawiyah—biografi dan perjalanan hidup Rasulullah SAW.

Mengapa Perlu Mempelajari Sirah Nabawiyah?

Dengan mempelajari sirah, kita akan mengenal Rasulullah SAW lebih dekat: mulai dari nasab, latar belakang, hingga perjuangannya menegakkan Islam. Lebih dari itu, kita juga belajar bagaimana beliau beribadah, berdakwah, mencari rezeki, menegakkan keadilan, memimpin umat, hingga menjadi ayah, suami, tetangga, dan anggota masyarakat.

Rasulullah SAW mengajarkan banyak hal, tidak hanya soal ibadah mahdhah (ritual), tetapi juga kehidupan sosial. Beliau menunjukkan bagaimana berkasih sayang, menghormati sesama, dan bersikap bijak menghadapi berbagai kalangan: kaum munafik, non-Muslim yang hidup damai, maupun mereka yang memusuhi Islam. Sikap beliau berbeda sesuai kondisi—tidak seragam, apalagi membabi buta.

Kebutuhan Manusia untuk Mengenal Rasul

Mengapa kita harus mengenal Rasulullah SAW dengan baik?
Karena manusia diciptakan dengan fitrah: ingin mengenal Penciptanya, beribadah kepada-Nya, dan menjalani hidup dengan tenteram serta teratur. Namun, tanpa petunjuk Allah melalui utusan-Nya, manusia mudah tersesat. Ada yang jatuh pada animisme, dinamisme, bahkan ateisme, agnostisisme, atau syirik.

Islam menegaskan, untuk mengenal Allah dan menjalankan perintah-Nya, kita harus mengikuti Rasulullah SAW. Inilah sebabnya syahadat terdiri dari dua pengakuan: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.

Allah berfirman:

> قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”
(QS. Ali Imran: 31)

Dengan mengikuti Rasulullah SAW, kita akan mengenal Allah lebih baik. Kita pun menyadari betapa besar kasih sayang Allah, yang telah menyiapkan alam semesta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, lengkap dengan pedoman hidupnya (minhajul hayah). (GAF)


---

Kasih Sayang Rasulullah kepada Umat

Di titik ini, kita memahami bahwa kita yang membutuhkan Rasulullah, bukan sebaliknya. Namun, kasih sayang Rasul kepada kita justru jauh lebih besar daripada cinta kita kepadanya.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:

> لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
(QS. At-Taubah: 128)


Bahkan menjelang wafat, ketika menghadapi sakaratul maut yang amat dahsyat, Rasulullah SAW masih memikirkan umatnya. Beliau berdoa:

"Ya Allah, betapa dahsyatnya sakaratul maut ini. Timpakanlah seluruh rasa sakit ini kepadaku, jangan kepada umatku."

Dan di hari kiamat kelak, yang terucap dari lisannya adalah:
“Ummati, ummati...” (Umatku, umatku).

Shallu ‘ala Nabi...
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Gaf)


---

Mau saya lanjutkan sekalian untuk bagian 3 dengan gaya naratif berseri, biar makin runtut seperti tulisan buku atau artikel kolom?