Oleh Prof Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
“SAUDARA-SAUDARA sekalian, saya berdiri di sini membawa tekad yang jelas. Kota ini tidak boleh terus hidup dalam bayang-bayang banjir. Setiap musim hujan datang, rumah warga terendam, jalanan berubah menjadi sungai, dan aktivitas masyarakat lumpuh. Ini tidak boleh terus terjadi. Jika saya diberi amanah memimpin kota ini, saya berjanji akan menuntaskan persoalan banjir sampai ke akarnya.”
Begitulah kira-kira semangat pidato yang dulu menggema di tengah kerumunan warga saat masa kampanye. Kata-kata itu diucapkan dengan penuh keyakinan, disertai tepuk tangan dan sorak dukungan dari masyarakat yang telah lama lelah menghadapi genangan air setiap tahun.
Dalam pidato tersebut, banjir digambarkan bukan sebagai nasib yang harus diterima, melainkan masalah yang bisa diselesaikan dengan kerja serius, perencanaan matang, dan keberanian mengambil keputusan.
Di hadapan warga yang sebagian rumahnya pernah terendam air, janji itu terasa seperti cahaya harapan. Banyak orang percaya bahwa perubahan akhirnya akan datang. Bahwa kota ini akan memiliki sistem drainase yang lebih baik, sungai yang tertata, serta kebijakan pembangunan yang memperhatikan daya tampung lingkungan.
Harapan itu kemudian tumbuh menjadi dukungan politik yang besar. Namun waktu terus berjalan. Musim hujan datang dan pergi. Sementara air yang dulu dijanjikan akan dituntaskan, masih tetap menemukan jalannya kembali ke halaman-halaman rumah warga. Setiap musim hujan datang, kota pesisir di ujung selatan Sumatra itu warganya kembali menahan napas.
Awan hitam menggantung, hujan turun tanpa kompromi, dan dalam waktu singkat jalanan berubah menjadi genangan air keruh. Rumah-rumah terendam, kendaraan mogok di tengah jalan, dan aktivitas masyarakat terhenti. Yang paling menyakitkan bukan hanya air yang meluap, melainkan ingatan warga terhadap janji besar yang pernah disampaikan dengan penuh keyakinan.
Tahun demi tahun berlalu, hujan tetap turun seperti biasa. Alih-alih berkurang, banjir justru terasa semakin sering terjadi di beberapa wilayah. Air datang lebih cepat dan surut lebih lambat. Jalan-jalan utama yang seharusnya menjadi jalur aktivitas ekonomi berubah menjadi genangan luas. Rumah-rumah warga kembali dimasuki air yang keruh, membawa lumpur dan sampah.
Dalam beberapa peristiwa, banjir bahkan menelan korban jiwa. Tragedi semacam itu meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Sebab banjir tidak lagi hanya menjadi persoalan ketidaknyamanan, melainkan sudah menyentuh keselamatan manusia.
Di tengah situasi itu, masyarakat mulai melihat kontras yang mencolok dalam arah kebijakan pembangunan. Di satu sisi, persoalan banjir terasa berjalan lambat. Perbaikan drainase belum merata, normalisasi sungai belum terlihat signifikan, dan perencanaan tata kota masih menghadapi berbagai persoalan lama.
Di sisi lain, berbagai program yang dianggap tidak terlalu mendesak justru terus berjalan. Anggaran publik dialokasikan untuk kegiatan yang lebih bersifat seremonial, proyek yang manfaatnya belum jelas bagi masyarakat luas, serta program-program yang lebih sering terlihat sebagai upaya pencitraan.
Bagi warga yang setiap tahun harus menghadapi air yang masuk ke rumah mereka, situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang prioritas pembangunan. Mengapa dana bisa tersedia untuk berbagai kegiatan yang kurang mendesak, sementara masalah banjir yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat belum terselesaikan?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar kritik emosional, melainkan lahir dari pengalaman sehari-hari masyarakat. Ketika hujan turun deras pada malam hari, warga di daerah rawan banjir tidak pernah benar-benar merasa tenang. Mereka tidur dengan rasa waspada, khawatir air akan kembali masuk ke dalam rumah.
Sebagian orang menyiapkan ember, karung pasir, atau papan untuk menahan air. Sebagian lainnya sudah terbiasa mengangkat barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Anak-anak tumbuh dengan pengalaman melihat rumah mereka tergenang, buku sekolah yang basah, dan aktivitas belajar yang terganggu karena jalan tidak bisa dilewati.
Banjir bukan hanya persoalan air yang meluap dari saluran yang sempit. Ia adalah masalah kesehatan, ekonomi, dan kesejahteraan sosial. Air kotor yang menggenang membawa risiko penyakit. Barang-barang rumah tangga rusak. Pedagang kecil kehilangan penghasilan karena tidak bisa berjualan. Setiap banjir berarti kerugian yang harus ditanggung oleh masyarakat.
Di sinilah sebenarnya kepemimpinan diuji. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari seberapa sering ia muncul di hadapan publik atau seberapa banyak program yang diumumkan. Kepemimpinan sejati terlihat dari keberanian menentukan prioritas yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Ketika sebuah kota menghadapi ancaman banjir yang berulang setiap tahun, maka pengendalian banjir seharusnya menjadi agenda utama yang tidak bisa ditunda. Anggaran, tenaga birokrasi, dan perhatian pemerintah semestinya difokuskan untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara bertahap namun konsisten.
Tanpa prioritas yang jelas, pembangunan mudah terjebak dalam aktivitas yang tampak ramai tetapi kurang menyentuh akar masalah. Kota mungkin terlihat sibuk dengan berbagai kegiatan, penuh dengan acara dan proyek. Namun di balik semua itu, persoalan mendasar tetap ada dan menunggu musim hujan berikutnya untuk kembali muncul.
Kritik yang disampaikan masyarakat sebenarnya adalah bentuk kepedulian terhadap masa depan kota. Warga tidak menuntut sesuatu yang mustahil. Mereka hanya ingin hidup tanpa rasa cemas setiap kali langit mulai gelap dan hujan turun deras.
Mereka ingin anak-anak dapat pergi ke sekolah tanpa harus berjalan melewati genangan air. Mereka ingin rumah yang dibangun dengan kerja keras tidak rusak setiap tahun karena banjir. Mereka ingin kota yang mereka cintai menjadi tempat yang lebih aman untuk ditinggali.
Harapan itu sederhana, tetapi sangat berarti bagi kualitas hidup masyarakat. Banjir yang terus berulang seharusnya menjadi peringatan keras bagi pemerintah kota untuk mengevaluasi arah kebijakan pembangunan. Janji yang pernah disampaikan kepada masyarakat tidak boleh berhenti sebagai slogan politik.
Ia harus diwujudkan dalam kebijakan nyata yang mampu mengurangi risiko banjir secara bertahap. Sebab selama air masih terus datang setiap musim hujan, selama rumah warga masih terendam dan jalanan masih berubah menjadi sungai, maka satu hal akan terus diingat oleh masyarakat: “janji yang pernah diucapkan masih menunggu untuk dibuktikan”.
Salam Waras
