Helo Indonesia

Kerok, Jokowi Malah Panen Algoritma dan Viralitas di Lampung

Herman Batin Mangku - Opini
Selasa, 30 Juni 2026 17:42
    Bagikan  
-
HELO LAMPUNG

- - HBM

Penulis Herman Batin Mangku
Jurnalis

DALAM politik, ukuran keberhasilan sebuah kunjungan bukan semata berapa banyak tangan yang disalami atau berapa kilometer yang ditempuh. Ukurannya jauh lebih sederhana: seberapa lama ia bertahan dalam percakapan publik. Pada ukuran itu, safari politik perdana Presiden ke-7 Joko Widodo ke Lampung dapat disebut berhasil. Sangat berhasil.

Hanya tiga hari berada di provinsi ini, Jokowi berhasil merebut kembali ruang perhatian nasional. Ia datang bukan lagi sebagai kepala negara, melainkan sebagai mantan presiden yang sedang mengawal langkah politik partai yang dipimpin putranya.

Namun, yang terjadi jauh melampaui agenda kepartaian. Lampung berubah menjadi panggung politik, panggung budaya, sekaligus panggung perdebatan. Banyak yang terang-terangan tak menyukainyanya, namun "keroknya", hal itu malah jadi bahan bakar makin menyalanya algoritma dan viralitasnya. 

Begitu pesawat yang membawanya kembali ke Solo lepas landas, sesungguhnya pertunjukan belum usai. Justru di situlah babak berikutnya dimulai. Perbincangan terus bergulir di ruang-ruang diskusi, grup WhatsApp, media daring, TikTok, Instagram, YouTube, hingga warung kopi.

Jokowi telah pergi, tetapi jejak politiknya masih tinggal di Lampung. Ia seperti aroma parfum yang telah meninggalkan ruangan, tetapi wanginya masih memenuhi udara.

Hampir setiap episode kunjungan itu melahirkan percakapan baru. Mulai dari pembagian uang kepada warga di sejumlah daerah, prosesi penerimaan gelar adat Lampung, ritual menginjak kepala kerbau hitam, duduk bersila dalam prosesi adat, hingga sosok lima tokoh adat yang mendampinginya.

Tak satu pun luput dari sorotan. Semua menjadi bahan tafsir, pujian, kritik, bahkan olok-olok. Ironisnya, kritik yang datang justru memperbesar gaung kunjungan itu.

Dalam hukum komunikasi politik modern, perhatian jauh lebih berharga daripada kesepakatan. Politik tidak selalu membutuhkan tepuk tangan; ia cukup membutuhkan orang terus membicarakannya.

Karena itu, hujan kritik dari sebagian tokoh adat maupun masyarakat bukanlah penghalang. Dalam banyak kasus, kontroversi justru menjadi bahan bakar paling efektif untuk memperpanjang umur sebuah isu.

Perdebatan mengenai layak atau tidaknya pemberian gelar adat kepada Jokowi bahkan menjelma menjadi isu nasional. Adat yang selama ini identik dengan kesakralan tiba-tiba memasuki arena politik yang riuh.

Di titik inilah Lampung tidak lagi hanya menjadi lokasi kunjungan, melainkan menjadi pusat diskursus tentang relasi antara tradisi, legitimasi, dan kekuasaan.

Menariknya lagi, kunjungan ini berhasil menggeser isu-isu lain yang sebelumnya mendominasi pemberitaan. Polemik ijazah Jokowi yang tahunan memenuhi ruang publik seolah kehilangan momentum.

Perhatian publik berpindah ke Lampung. Dalam politik, menguasai agenda sering kali lebih penting daripada memenangkan perdebatan.

Fenomena ini memperlihatkan satu kenyataan. Jokowi mungkin telah lengser dari kursi kepresidenan, tetapi ia belum lengser dari panggung politik. Ia masih memiliki kemampuan menciptakan efek kejut, memancing reaksi, dan mengendalikan arah percakapan nasional.

Sedikit tokoh politik Indonesia yang memiliki daya magnet seperti itu setelah tak lagi memegang kekuasaan formal.

Di era media sosial, viralitas adalah mata uang baru politik. Setiap kritik melahirkan unggahan, setiap unggahan memancing komentar, setiap komentar memperpanjang umur isu.

Algoritma tidak pernah membedakan antara pujian dan kecaman. Yang dihitung hanyalah perhatian. Dan perhatian itulah yang berhasil dipanen Jokowi dari Lampung.

Apakah semua orang setuju dengan langkahnya? Tentu tidak. Apakah semua pihak menerima prosesi adat yang dijalaninya? Juga tidak. Namun justru di situlah letak paradoks politik modern. Seorang tokoh tidak harus disukai semua orang untuk tetap menjadi pusat gravitasi percakapan publik.

Tiga hari di Lampung membuktikan satu hal: Jokowi masih memiliki kemampuan mengubah sebuah kunjungan menjadi peristiwa nasional. Ia datang membawa agenda politik, pulang membawa gelombang diskusi yang belum juga surut.

Politik memang sering diibaratkan panggung sandiwara. Tetapi di Lampung beberapa hari lalu, panggung itu tidak hanya dipenuhi aktor. Ia juga dipenuhi penonton yang terus berdebat tentang makna setiap adegan.

Dan selama perdebatan itu belum berakhir, safari politik Jokowi belum benar-benar usai. ***