LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ---- Lima ribu hektar lebih sawah irigasi teknis di tiga kecamatan Kabupaten Lampung Timur terancam kekurangan air. Dampak itu terjadi akibat menurunnya debit air bendungan setempat.
Kepala Unit Pengelola Bendung (UPB) Danau Way Jepara Irianto menjelaskan, meskipun saat ini musim penghujan dan curah hujan tinggi, tapi persediaan air di danau yang dikelolanya masih tak mampu mengairi sawah irigasi teknis seluas lima ribu hektar lebih yang terhampar di Kecamatan Way Jepara, Braja Selebah dan Labuhanratu.
Guna mengairi ribuan hektar sawah tersebut, dibutuhkan paling tidak 2,6 meter kubik air perdetik. Sedangkan jumlah air yang masuk ke telaga seluas tiga kilo meter persegi itu tak lebih 1,5 meter kubik perdetik. Sedangkan jumlah total debit air yang ada saat ini sekitar 21 juta meter kubik.
"Kondisi ini sudah berlangsung sejak tujuh tahun silam. Meskipun hujan sepanjang waktu, air yang masuk ke danau sangat terbatas,"kata Irianto Rabu (19/2).
Menurunnya debit air di danau yang bersebelahan dengan kawasan hutan Register 38 Gunung Balak itu disebabkan beberapa hal seperti menurunnya debit air tiga daerah aliran sungai yakni DAS Way Abar, DAS Jepara dan DAS Way Jewawai.
Menurunnya debit air tiga sungai besar itu disebabkan selain penyempitan aliran sungai juga diakibatkan cetakvsawah tadah hujan baru seluas 800 hektar lebih. Air yang bersumber dari tiga sungai tersebut dimanfaatkan warga mengairi ratusan hektar sawah mereka.
Selain itu, menurunnya debit air danau diakibatkan pengrusakan hutan register sejak 1998 silam.
"Dua masalah itu sulit untuk dibenahi. Akibatnya, lima ribu hektar lebih sawah sangat terdampak,"tegas Irianto.
Akibat kekurangan air baik pada musim rendeng dan gadu, maka dapat dipastikan hasil produksi petani akan menurun dan akan merugi hingga ratusan juta. Lebih fatal lagi petani akan mengubah lahan sawah mereka jadi alih fungsi seperti membangun rumah, pertokoan dan fasilitas lain.
Sehingga hal itu berakibat luas lahan sawah irigasi teknis akan berkurang.
"Kondisi ini sangat memprihatinkan dan merugikan semua pihak khususnya petani,"pungkasnya.
(Khairuddin)
