Helo Indonesia

Warga Empat Desa di Kendal Kembali Pasang Spanduk Penolakan, Bersikukuh Stockpile Ditutup

Kamis, 10 April 2025 20:33
    Bagikan  
Warga Empat Desa di Kendal Kembali Pasang Spanduk Penolakan, Bersikukuh Stockpile Ditutup

Warga dari empat desa di Weleri kembali memasang spanduk menolak keberadaan stockpile. Foto: Anik

KENDAL, HELOINDONESIA.COM - Warga Empat Desa di Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, melakukan aksi penolakan usaha stockpile dengan memasang sejumlah spanduk bertuliskan "Tolak dan Tutup Stockpile Pasir" di berbagai titik termasuk di depan usaha stockpile, Kamis 10 April 2025.

Sebelumnya warga empat desa yakni Desa Sumberagung, Penyangkringan, Bumiayu, dan Nawangsari juga sudah bersiap melakukan aksi demo ke kantor Bupati Kendal menggunakan dua armada truk, namun berhasil diredam oleh Forkopimcam Weleri melalui mediasi yang langsung dihadiri Kepala Kesbangpol Kendal, Alfebian Yulando.

Baca juga: Kontribusi bagi Negeri, Kaprodi MH USM Luncurkan Buku Hukum dan Sistem Politik Indonesia

Aksi ini dipicu adanya dampak lalu lalang truk dump stockpile yang mengakibatkan jalan rusak parah, udara berdebu hingga menyebabkan sejumlah warga harus dilarikan ke rumah sakit karena terkena penyakit ISPA. Kemudian juga menyebabkan sejumlah tembok rumah warga retak, serta usaha dagang warga sekitar terpaksa ditutup karena tidak laku.

Selain memediasi warga empat desa, Kepala Kesbangpol Kendal dan Forkopimcam Weleri sendiri juga sudah mendatangi satu persatu usaha stockpile di Kecamatan Weleri guna memastikan usaha stockpile tersebut telah berizin.

"Jadi kami menanyakan perizinan apakah perusahaan stockpile ini sudah berizin, apakah sudah legal memenuhi kajian yang sesuai regulasi. Kalau tidak berizin itu risikonya bisa dilakukan penutupan oleh pemerintah daerah melalui Satpol PP selaku penegak Perda," katanya.

Memberikan Solusi

Febi menyebut, kehadirannya ditengah-tengah warga ini sebagai bentuk pemerintah hadir untuk memberikan solusi atas keluhan warga. Dari hasil mediasi pihaknya akan segera melaporkan kepada Bupati Kendal dan segera membentuk tim kajian.

"Nanti juga akan ada tim yang akan mengkaji ulang dan untuk evaluasi, kenapa izin itu bisa hadir disini, kenapa semakin lama volumenya besar, kenapa semakin lama kesini kok akhirnya dampak kepada masyarakatnya semakin tinggi. Nah itu harus ada evaluasi. Nanti Ibu Bupati yang akan memimpin rapat terkait pembentukan tim ini," ungkap Febi.

Baca juga: Upaya Menjaga dan Melestarikan Etnaprana Sebagai Budaya Lokal

Namun sayang, setelah melalui mediasi panjang dan para pengusaha stockpile menyanggupi tuntutan warga terkait pembersihan dan penyiraman jalan, warga empat desa tersebut tetap bersikukuh meminta pemerintah menutup usaha stockpile tersebut.

"Keputusan masyarakat empat desa tetap meminta stockpile ditutup selamanya. Tidak ada negosiasi apapun lagi," ujar Sudarmadji selaku koordinator aksi empat desa.

Ia menegaskan, jika tuntutan warga di empat desa tersebut tidak terpenuhi nantinya warga akan melakukan aksi massa untuk menyampaikan keluhan mereka ke Bupati Kendal dan Gubernur Jawa Tengah.

"Kalau tidak sesuai yang diharapkan ya mungkin kita akan demo. Tadi sudah ada 2 truk yang sudah siap akan bergerak tapi dipending," terangnya. (Anik)