MALANG, HELOINDONESIA.COM - Setiap tanggal 1 Juni segenap komponen bangsa dan masyarakat Indonesia berkomitmen untuk memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai bentuk tindakan dan pelaksanaan pengarusutamaan Pancasila, sebagai panduan dalam seluruh bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Bertolak dari komitmen itu, Kemahasiswaan Universitas Brawijaya (UB) Malang untuk memperingati Hari Lahir Pancasila Tahun 2023 di Bulan Pancasila, melaksanakan kegiatan berbasis kognitif, afektif dan psikomotorik, sehingga nilai-nilai Pancasila akan tertanam di dalam pikiran, hati dan tindakan.
Sebagai bentuk keprihatinan atas polemik terkait Pancasila yang diembuskan oleh pihak pihak tertentu dan berpotensi memecah belah bangsa, UB mengadakan talkshow dengan tema “Gotong Royong Membangun Peradaban dan Pertumbuhan Global “ dengan tagline “Aktualisasi Pancasila, Energi Pertumbuhan Indonesia”.
Selain talkshow yang disiarkan UBTV, rangkaian agenda Bulan Pancasila yang digelar antara lain lomba essay Pancasila , Kirab Pancasila dan Pagelaran Kesenian.
Talkshow menghadirkan antara lain Mujtaba Hamdi Direktur Ekeskutif Wahid institute , Rachmat Kriyantono (Guru Besar Hubungan Masyarakat UB), Sri Untari Bisowarno (Ketua Umum Dekopin), dan Antonius Benny Susetyo (Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila).
Sebagai narasumber, mereka mencoba mengulik lebih dalam mengenai bagaimana Pancasila sesungguhnya merupakan kenyataan hidup berbangsa dan bernegara dan bagaimana keberadaan Pancasila adalah jawaban dalam menghadapi dari segala permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, baik secara lokal maupun global.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kewirausahaan Mahasiswa UB Setiawan Noerdajasakti, menyatakan bahwa proses ber-Pancasila adalah proses belajar terus menerus yang tidak akan pernah selesai.
''Karenanya berbagi kebaikan adalah bukti paling nyata dari proses pembumian Pancasila, menerapkan nilai pancasila dalam kehidupan sehari hari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa hanya sebatas teori, namun bergerak nyata dengan menyebarkan kebaikan kebaikan dan nilai nilai luhur,'' bebernya.
Dia mengatakan filosofi Brawijaya merupakan raja majapahit adalah filososofi keBhinekaan , karena pada masa itu keberagaman suku,adat dan kepercayaan ada dan berkembang di kerajaan Majapahit.
Perbedaan yang ada justru menjadi sarana memperkaya sudut pandang dalam mengelola kerajaan. Konsep kebhinekaan ini yang menjadi spirit dari Universitas Brawijaya ini dalam mengelola segenap civitas akademikanya, keberagaman yang terbangun diharapkan tidak hanya bersifat lokal namun juga global.
''PR besar bersama bangsa Indonesia adalah pertarungan kebudayaan antara global dan lokal, budaya adiluhung seperti Bhineka tunggal Ika dan Pancasila hendaknya dapat dikembangkan dan senantiasa dibagikan sehingga nilai nilai luhur bangsa tidak hanya dapat bersaing namun dapat memberi pengaruh baik pada peradaban global,'' tandasnya.
Tak Diragukan
Selanjutnya Staf Khusus Ketua Dewan BPIP Antonius Benny Susetyo dalam paparannya menyatakan bahwa Pancasila lahir dari pemikiran Bung Karno dari rahim bangsa Indonesia. Penggalian Pancasila tersebut merupakan buah dari proses dialog dan belajarnya dengan HOS Cokroaminoto di Surabaya, Douwes-Dekker di Bandung, serta Ki Hajar Dewantara dan beberapa tokoh lainnya dalam masa pergerakan, buah pemikiran tersebut kemudian terkristalisasi ketika Soekarno mengalami masa pembuangan di Ende, NTT.
Kisah penggalian Pancasila tersebut kemudian mengalami distorsi ketika terjadi usaha desoekarnoisasi oleh era Orde Baru. Pada masa itu, ada usaha sistematis mengecilkan peran Soekarno di balik penggalian nilai-nilai Pancasila.
Lebih lanjut Doktor Ilmu Komunikasi ini menyatakan sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila yang berpatokan dari tiga momen penting pada 1 Juni 1945, 22 Juni 1945 dan 18 Agustus 1945 membuat Pancasila tak perlu diragukan lagi.
''Meragukan Pancasila berarti meragukan sejarah dan mengkhianati negara dan bangsa ini. Semua unsur dari bangsa Indonesia harus mampu menjadikan Pancasila menjadi living dan working ideology yang diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan sehari hari serta dapat menjadi gugus insting dalam berpikir dan bertindak,'' ujar budayawan.
Stafsus dari Badan yang dikepalai oleh Yudian Wahyudi ini menyatakan bahwa Pancasila terbukti nyata dan efektif dalam menghadapi permasalahan permasalahan baik lokal maupun global.
Secara lokal, sambung Benny, dapat terbukti dengan bagaimana negara berperan aktif dalam upaya penghentian wabah Covid-19 dan dalam upaya pemulihan masalah multidimensional yang dihadapi masyarakat pasca-pandemi.
Jika melihat jauh ke belakang sudah lebih dahulu Indonesia dengan Pancasilanya dapat menjadi jawaban atas problem global saat itu yaitu kolonialisme. Hal ini terbukti dengan gagasan Konferensi asia Afrika 1955 , dimana saat itu Indonesia yang baru berusia 10 tahun berhasil menggalang kekuatan yang memicu merdekanya Negara Negara di Asia dan Afrika.
“Pancasila merupakan modal dasar dan bintang penuntun bagi Indonesia untuk dapat memimpin tatanan dunia baru “ tutup Benny.
Mujtaba Hamdi, Direktur Ekeskutif Wahid institute menyatakan bahwa proses peralihan dan transisi kita walaupun kompleks akan berlangsung damai. Menurutnya, kita satu - satunya negara mayoritas muslim yang berhasil menjalankan demokrasi dengan mulus tanpa intervensi siapapun.
''Kunci keberagaman dan kebersamaan kita adalah Pancasila, konflik yang terjadi walaupun kompleks dan tajam bangsa indonesia selalu mampu melewatinya ini terjadi karena Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 yang menjadi konsensus bangsa sebagai dasar dan pagar dalam bertindak serta bersikap sebagai warga negara,'' tandasnya. (Aji)
