LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Atensi publik, heboh warganet merespon statemen spontan Kepala BNPB Suharyanto diminta Kasad Jenderal Maruli Simanjuntak bantu jawab kisaran harga keekonomian biaya pembangunan sumur bor di lokus bencana Sumatra "Rp100 juta sampai Rp150 juta per unit" demi menjawab pertanyaan Presiden Prabowo yang juga spontan bilang "termasuk murah", kini masih terus ramai.
Sadar melebar kemana-mana, Mabes TNI AD melalui Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono, cepat-cepat menjernihkan aneka persepsi yang timbul lantaran penjelasan spontan itu.
Kadispenad Donny menjelaskan, estimasi rencana anggaran biaya pembangunan sumur bor Rp100 juta-Rp150 juta per unit itu merupakan angka penghitungan pengadaan proyek skala komunal yang bisa melayani ratusan kepala keluarga (KK) dengan sistem penyediaan air bersih lebih luas. Bukan RAB satu sumur bor di satu rumah saja.
Dijelaskan, program pembangunannya dirancang untuk memenuhi kebutuhan air bersih kolektif, dilengkapi teknologi pompa yang bisa juga dipakai untuk irigasi, bukan sekadar pengeboran individual residensial (per rumah).
Hal besaran anggaran yang dikomunikasikan itu bagian upaya memastikan layanan air bersih berkelanjutan tersedia bagi rakyat di wilayah terdampak bencana.
Ujar Donny, biaya hingga Rp150 juta per unit atau per titik, tak mahal. Dia mencontohkan biaya pembangunan sumur bor dikerjakan personel TNI AD dengan teknologi pompa hydraulic ram pump (hidram) di Desa Tipar, (desa lahir Panglima Gerilya Jenderal Besar Soedirman), Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah; jangkau 500 KK, saluran airnya jua bisa dimanfaatkan untuk dukung irigasi. Kisarannya di angka itu.
(Info penyelia, meminjam keterangan Kasad Maruli sebelumnya, saat meresmikan hasil program peningkatan kesejahteraan rakyat antaranya pembangunan sumber air bersih dan rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di wilayah Kodam Diponegoro, kerja sama dengan Astra Internasional, dipusatkan di Lapangan Glempang Desa Tipar ini, 27 Februari 2024 lewat, program pembangunan fasilitas air bersih garapan TNI AD hingga saat itu mencapai 1.900 titik se-Indonesia termasuk 100 titik di Jateng, dari total target 3.000 titik di seluruh pelosok Tanah Air)
Donny mahfum, publik laju berspekulasi macam-macam merespons pernyataan Kasad soal biaya Rp150 juta itu. Walau demikian, pihaknya siap membuktikan di lapangan jika biaya pembuatan sumur bor komunal itu relatif terjangkau.
Adapun pengingat, Kasad Jenderal Maruli Simanjuntak dalam dialog Rapat Terbatas Penanganan Darurat Bencana Alam Banjir Bandang dan Longsor di Provinsi Aceh, beberapa hari lalu menyebut, terkait estimasi biayanya yang bisa mencapai hingga Rp150 juta, tergantung kondisi tanah.
Presiden Prabowo bergegas menimpali, dengan menyebut menganggap biaya sebesar itu sangat terjangkau. "Menurut saya Rp150 juta itu murah," sahut Presiden.
Sejak itu hingga kini, perbincangan publik tiada henti ulas tuntas ragam sudut opini.
Angka disebut, sejurus menjadi kontroversi.
Ada yang "mbanding-mbandingke" dengan biaya pembuatan sumur bor rumah tangga biasa yang lazimnya berkisar antara Rp3,5 juta hingga Rp60juta per titik tergantung kontur tanah, kondisi air bawah tanah, spesifikasi teknis peralatan, rerata upah pekerja berlaku setempat, dan sejumlah estimasi prediktif lumrah lainnya.
Lainnya, ulah menilik selisih besar rupiah harganya, ada yang bilang itu harga tak masuk akal, ada yang mencak-mencak, dan adapula yang laju tawarkan diri "sini saya aja yang ngebor, biayanya cukup sekian (Rp)".
Tak sedikit pula, yang setengah bertanya separuh curiga: "itu betul habisnya segitu", jejangan di-mark up pula.
Yang mencari tahu, jawabannya antara lain menyebut kelaziman harga keekonomian satuan pekerjaan pembangunan sumur bor dalam program penanggulangan bencana pun proyek pemerintah umumnya, diklaim disesuaikan dengan pemenuhan standar biaya spesifikasi teknis yang beda dengan skala rumah tangga.
Baik misalnya terkait target kedalaman air, seperti sumur bor artesis dengan rerata kedalaman air dibutuhkan antara 100-250 meter demi dapatkan air bersih berkualitas.
Bukannya sok yakin, tetapi sebut saja yang akan dibangun ini dipastikan bukan sumur pantek biasa atau sumur rumahan (jetpump) yang lazimnya berkedalaman 7-45 meter. Melainkan artesis (deep well) yang proses pengeborannya butuh mesin rig besar, pipa casing khusus tahan tekanan tanah, beban risiko lebih tinggi.
Publik sumur bor jua mahfum, berlaku pula di sini: beda kedalaman beda fungsi. Seperti turut disinggung di Ratas, sumur bor yang akan dibangun TNI AD dan BNPB memang didesain untuk kedalaman ekstrem demi cari sumber air yang steril (siap minum).
Sekadar pembeda misal, dengan sumur bor buatan Polri berkedalaman 20-30 meter, yang selain berbiaya lebih murah, airnya jua disarankan hanya untuk kebutuhan MCK.
Atau terkait sistem filtrasinya. Lazimnya pascabencana terutama hidrometeorologi basah, gempa bumi vulkanik, dan likuifaksi (pergerakan tanah), acap ditemui air di area terdampak dalam kondisi tercemar. Ini misal butuh sentuhan teknologi penyulingan dan penjernihan berbasis filter industri (Reverse Osmosis/RO), dan asesmen lokus tangki penampungan kapasitas besar.
Berikut misal terkait pengadaan infrastruktur penunjang, dari kebutuhan pemasangan instalasi listrik atau genset, sistem perpipaan (pipa distribusi) sesuai kapasitas debit dan kebutuhan lapangan dengan banyak jalur titik kran umum, pompa celup (submersible) berkapasitas besar, dan tandon (tower air).
Belum lagi medan bencana lokus sumur bor bakal dibangun, yang butuh pencermatan khusus ihwal estimasi biaya mobilisasi alat berat ke lokasi tersebut. Serta, lainnya.
Setidaknya gelombang "kepo massal" publik pun warganet tampaknya cukup beralasan, misal beranjak dari faktor trust, kepercayaan publik yang memang punya kanal perkuatan rasionalisasi tersendiri, entah itu musabab asumsi minor 'mahalnya' transparansi publik atau akuntabilitas publik dari segala macam yang berbau proyek negara/daerah yang inisiatifnya datang dari unsur pemerintah.
Lainnya bisa jadi dipengaruhi rasa kapok, atau trauma memori kolektif terkait rekam jejak rasuah proyek infrastruktur seperti banyak terjadi. Serta, upaya kritis second opinion, cari perbandingan harga pasar.
Namun, hasil penelusuran Selasa (6/1/2026), pewarta turut menemukan data penjelasan rincian RAB proyek pembangunan massal sumur bor di titik lokasi wilayah terdampak bencana Sumatra ini khususnya di Aceh.
Data tersebut mengambil contoh ilustrasi bakal lokus titik lokasi pembangunannya berada di wilayah salah satu Gampong (desa) di Kabupaten Aceh Besar, dengan medan berbukit dan akses jalan setapak.
Disebutkan, dengan estimasi kedalaman sumur direncanakan 120 meter, dengan diameter lubang 6 inci, menggunakan casing PVC 5 inci kelas AW. Waktu pelaksanaannya diperkirakan 15 hari kerja termasuk proses mobilisasi dan demobilisasi peralatan.
Dirincikan, ada enam lingkup pekerjaannya meliputi persiapan dan mobilisasi peralatan; pengeboran hingga kedalaman target; pemasangan casing, screen, dan semenisasi annular; instalasi pompa submersible serta sistem kelistrikan; uji fungsi, pengambilan sampel air, dan sertifikasi; dan pembersihan lokasi serta serah terima otoritas/pengguna.
Estimasi perhitungan biaya persiapan dan mobilisasi peralatan, butuh Rp17.500.000. Meliputi komponen surveilans geolistrik dan perizinan Rp3,5 juta, mobilisasi alat bor (moda transportasi truk dan trailer) Rp12 juta, pembuatan basecamp (tenda, toilet) Rp2 juta.
Tahap pengeboran, butuh Rp64.500.000. Meliputi pemboran 6 inci, dalam 120 meter, estimasi Rp250 ribu per meter hingga total dibutuhkan Rp30 juta. Lalu, lumpur bor (bentonite dan aditif) sebanyak 2.500 liter (Rp12 ribu/liter), dibutuhkan Rp30 juta. Dan estimasi biaya peralatan tambahan (tripod, pompa lumpur, lainnya) Rp4,5 juta.
Tahap pemasangan casing dan penutup, butuh Rp39.700.000. Mencakup, belanja casing PVC AW 5 inci 20 batang @Rp1,2 juta per batang (total Rp24 juta). Lalu belanja screen filter 5 batang @Rp1,5 juta (total Rp7,5 juta). Lalu semen grout 4.000 Kg @Rp1.800 per Kg (total Rp7,2 juta). Dan belanja penutup kepala sumur Rp1 juta.
Tahap instalasi pompa dan sistem kelistrikan butuh Rp21.950.000. Mencakup belanja pompa submersible 3 HP Rp9,5 juta, kabel listrik NYY 4 mm² kurang lebih 150 meter @ Rp45 ribu total Rp6.750.000, panel kontrol dan proteksi Rp3,2 juta, dan komponen upah pekerja instalasi listrik Rp2,5 juta.
Tahap pengujian dan sertifikasi, Rp5,5 juta. Mencakup komponen biaya uji pompa (flow rate, tekanan) Rp1,8 juta, analisis kualitas air laboratorium Rp1,2 juta, sertifikasi sumur dari Badan Geologi Rp2,5 juta.
Terakhir, tahap pembersihan dan serah terima butuh Rp2,3 juta. Meliputi biaya pembersihan lokasi dan pembuangan lumpur Rp1,5 juta, dokumentasi foto akhir guna ragam kebutuhan Rp800 ribu.
Rekapitulasi total estimasi biaya per unit sebesar Rp151.450.000 ini, dengan catatan harga bersifat pagi indikatif dan fleksibel tergantung ketersediaan stok, vendor, kurs mata uang, harga satuan setempat, serta kondisi lapangan. Kita mengenal "biaya tak terduga", pun data ini jua memuat saran agar pelaksananya menambah kontingensi sekitar 5 persen (Rp7,5 juta) dari total pagu yang dipakai jika terjadi hal‑hal tak terduga.
Catatan lainnya, dengan asumsi teknis bahwa kontur tanah berupa lempung pasir tanpa batuan keras lebih dari (>) 30 MPa; air tanah muncul pada kedalaman 30‑40 meter dengan debit 2‑3 liter per detik; kualitas air sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO); apabila diperlukan filter tambahan.
Dari itu, direkomendasikan agar pelaksana "lakukan tender terbatas kepada kontraktor berpengalaman di Aceh, jangan lupa minta jaminan performa (performance bond) 10 persen dari nilai kontrak, dan terus pantau progres harian dengan foto geotagging untuk menghindari klaim biaya tambahan."
"Semoga penjelasan ini membantu dalam perencanaan pembangunan sumur bor yang efisien dan sesuai anggaran," terang data.
Dan sebagai wujud sense of belonging, publik terutama di wilayah terdampak bencana, lokus pembangunan sumur bor ini secara bersama-sama turut mengawasi jalannya eksekusi pembangunan unitnya. Yang mesti diyakini, dibangun yang terbaik.
Belum lekang dari ingatan, momen pilu warga penyintas bencana banjir bandang dan longsor di 52 kabupaten/kota tiga provinsi terdampak: Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, 21-26 November 2025 lewat, yang mengeluhkan deraan lapar akut juga kehausan sangat, hingga terpaksa meminum air hujan atau air saringan banjir bercampur lumpur pekat berbau, bahkan hingga sekian hari pascadimulainya masa tanggap darurat. Terutama di daerah terdampak terparah dan relatif paling terisolir.
Sebagai penutup, pengingat transedental; dalam Islam, sebagaimana disebut dalam banyak ayat dalam Al-Qur'an lebih dari 200 kali, Allah SWT memfirmankan keutamaan dan peran penting air bagi sekalian makhluk.
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” ujar firman Allah dalam QS. Al-Anbiya' ayat 30, air merupakan sumber kehidupan bagi seluruh makhluk, elemen fundamental eksistensi kehidupan di Bumi. Semata-mata bagian tanda kebesaranNya.
Dalam firman lainnya, Allah pun bilang air sebagai rahmat dan pembawa berkah. Dia
menjelaskan bagaimana air (melalui hujan) diturunkan sebagai rahmat guna hidupkan bumi, tumbuhkan tanaman. Sebagaimana Firman-Nya dalam QS. Al-Furqan ayat 48: “Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.”
Lewat hujan, Allah berikan kemudahan dan rezeki bagi kehidupan manusia dan makhluk lainnya. “Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang dapat dipanen.” (QS. Qaf ayat 9)
Firman Allah lainnya (QS Al-Mu'minun: 18): “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.”
Di sini, Allah sebut mekanisme penyimpanan air di dalam tanah itu sebagai bagian sistem kehidupan yang seimbang. Melalui ayat ini, Allah menunjukkan fungsi biologis fungsi ekologis siklus air yang rumit dan terencana, di mana air hujan yang turun lalu diserap dan disimpan dalam akuifer di dalam Bumi.
Dirusak itu, murkalah Dia. Dari itu, terhadap kesemua mereka di mana tuding telunjuk biang kerok bencana ekologis Sumatra November 2025 diarahkan, masih pada mau kualat? Sungguh Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya. (Muzzamil)
