LAMPUNG-HELOINDONESIA.COM----
Musibah rumah ambruk menimpa seorang warga Tiyuh Bandar Dewa, Suku 3, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Lampung. Mulyadiana (40), korban dalam peristiwa tersebut, kini harus menjalani perawatan medis di RSUD setempat.
Peristiwa terjadi pada Senin malam (16/4/2026) sekitar pukul 21.30 WIB.
Rumah milik korban yang terbuat dari bilik geribik bambu roboh diduga akibat kondisi bangunan yang sudah lapuk dan tidak lagi layak huni. Beruntung, kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
Merespons cepat musibah itu, Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Tubaba bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) langsung melakukan kunjungan kemanusiaan ke RSUD pada Selasa (17/4/2026).
Ketua Lazismu Tubaba, Bambang Wiyono, didampingi relawan MDMC Baris Sustanto, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap korban.
“Kami hadir untuk memastikan korban tidak merasa sendiri. Bantuan ini adalah amanah dari para donatur yang kami salurkan langsung kepada yang berhak,” ujar Bambang.
Dalam kunjungan tersebut, Lazismu juga menyerahkan santunan tunai guna membantu meringankan beban keluarga selama masa perawatan korban.
Bambang menegaskan, aksi tanggap ini dilakukan segera setelah pihaknya menerima laporan dari warga terkait kejadian rumah ambruk yang menimpa Mulyadiana, yang akrab disapa Acik Mul.
Ia berharap bantuan yang diberikan dapat membantu proses pemulihan korban sekaligus mempercepat pembangunan kembali rumah yang roboh.
“Musibah ini menjadi pengingat pentingnya solidaritas sosial, khususnya dalam membantu warga kurang mampu yang rentan terdampak bencana seperti rumah roboh,” tambahnya.
Sementara itu, suami korban, Bambang Irawan (37), menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian yang diberikan oleh Lazismu dan relawan MDMC.
“Kami sangat berterima kasih. Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami,” ucapnya.
Di sisi lain, pihak keluarga juga mengungkapkan kekecewaan terhadap pemerintah daerah. Kerabat korban berinisial SM (53) menyebut, sebelumnya keluarga korban sempat diajukan sebagai penerima program bedah rumah, namun akhirnya dicoret.
“Dulu sudah didata untuk bantuan bedah rumah, tapi di tengah jalan namanya dicoret dengan alasan tidak masuk database pemerintah pusat,” ungkapnya.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya validasi data penerima bantuan sosial, serta perhatian pemerintah terhadap kondisi rumah tidak layak huni yang masih banyak ditemui di wilayah Tubaba.
(Rohman)
