Helo Indonesia

Imam Ghozali “Speak Up” Sehari Tak Lagi Jabat Direktur RSUDAM

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
58 menit lalu
    Bagikan  
RSUDAM
HELO LAMPUNG

RSUDAM - Bung Ghoz

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM --Sehari setelah tak lagi menjabat Direktur RSUD Abdul Moeloek (RSUDAM), Dr. dr. Imam Ghozali, Sp.An., KMN., M.Kes., akhirnya “speak up”. Bukan untuk mempertanyakan pergantian dirinya, melainkan berpamitan sekaligus menitipkan pesan agar roda pelayanan rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Lampung itu terus berjalan.

Imam menyampaikan penghormatan dan dukungannya kepada Lukman Pura yang kembali dipercaya memimpin RSUDAM. Baginya, pergantian kepemimpinan bukan alasan untuk menghentikan fondasi pelayanan dan budaya kerja yang selama ini telah dibangun bersama.

Baca juga: Lukman Balik Jadi Direktur RSUDAM, Imam Ghozali Terbang Jemput Tugas Nasionalkah?

“Dengan rasa syukur, saya sampaikan bahwa masa pengabdian sebagai direktur telah selesai,” kata Imam kepada HeloIndonesia.com, Rabu (7/10/2026). Ia mengatakan fondasi PUAKHI sebagai budaya kerja seluruh insan RSUDAM telah mulai terbangun. PUAKHI merupakan akronim dari Profesional, Unggul, Adil, Kompeten, Harmonis, dan Ikhlas.

Imam berharap nilai-nilai tersebut tidak berhenti bersamaan dengan berakhirnya masa jabatannya sebagai direktur. “Saya berharap sistem dan kecintaan yang telah terbangun dapat terus berkelanjutan,” ujarnya.

Bagi Imam, yang berakhir hanyalah jabatan. Pengabdian sebagai dokter dan bagian dari keluarga besar RSUDAM tetap melekat. “Saya pamit dari jabatan. Tetapi sebagai praktisi yang berjiwa PUAKHI, tetap melekat,” katanya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama memimpin RSUDAM terdapat kekhilafan, kekurangan, maupun keputusan yang belum sepenuhnya memenuhi harapan semua pihak.

undefined

Di saat yang sama, Imam menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membersamai, membimbing, mendukung, dan memberikan kepercayaan kepadanya selama menjalankan amanah sebagai direktur.

“Setiap pelajaran, dukungan, dan kebersamaan akan menjadi bekal berharga,” tuturnya.

Menurut Imam, jabatan boleh berganti, tetapi hubungan kemanusiaan tidak seharusnya ikut berakhir. “Pengabdian boleh selesai, silaturahmi jangan pernah putus,” katanya.

Setelah tak lagi menjadi direktur, Imam juga tetap menjadi dokter spesialis anestesi di RSUDAM. Artinya, ia tidak benar-benar meninggalkan rumah sakit yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan profesionalnya.

Puakhi, Warisan yang Ditinggalkan

Imam Ghozali mulai memimpin RSUDAM setelah menggantikan Lukman Pura pada 26 Mei 2025. Dalam masa kepemimpinannya, ia mencoba meletakkan sejumlah fondasi baru, bukan hanya pada fasilitas, tetapi juga pada sistem pelayanan dan budaya kerja.

Salah satu yang paling menonjol adalah upaya mendorong digitalisasi sistem pelayanan rumah sakit. Di tengah tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang cepat, transparan, dan mudah diakses, digitalisasi menjadi bagian dari upaya membawa RSUDAM mengikuti perubahan zaman.

Di atas sistem itu, Imam mencoba membangun budaya kerja melalui PUAKHI.

Bagi seorang direktur rumah sakit, budaya kerja bukan sekadar slogan yang terpampang di dinding. Ia harus diterjemahkan dalam cara dokter melayani pasien, perawat memperlakukan keluarga pasien, tenaga administrasi memberikan informasi, hingga petugas kebersihan menjaga kenyamanan lingkungan rumah sakit.

Di situlah PUAKHI diuji: apakah sekadar menjadi semboyan atau benar-benar menjadi perilaku sehari-hari.

Imam juga meninggalkan sejumlah gagasan pengembangan RSUDAM. Salah satunya penataan parkir melalui rencana pembangunan gedung parkir untuk mengurai persoalan kepadatan kendaraan yang selama ini menjadi salah satu persoalan rumah sakit.

Ada pula gagasan pengembangan layanan fertilitas atau kesuburan bagi pasangan yang membutuhkan layanan tersebut, serta penguatan fasilitas deteksi dini dan pelayanan terkait stroke maupun pembuluh darah otak.

Gagasan-gagasan itu menunjukkan bahwa Imam tidak sekadar melihat RSUDAM sebagai tempat pelayanan ketika orang sudah sakit. Rumah sakit juga harus bergerak ke arah deteksi dini, layanan yang lebih spesifik, teknologi kesehatan, dan kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

Namun, seperti perjalanan sebuah organisasi, tidak semua gagasan dapat diselesaikan oleh satu periode kepemimpinan. Kini Imam harus mengerem langkahnya sebagai direktur. Sejumlah rencana yang sebelumnya masih berada di meja kerja harus dilanjutkan oleh kepemimpinan berikutnya.

Ada rasa yang mungkin tidak mudah dijelaskan ketika seseorang diminta berhenti di tengah perjalanan, sementara banyak gagasan belum sampai pada garis akhir. Tetapi barangkali, di situlah makna pengabdian diuji.

Seorang pemimpin tidak selalu dapat menyaksikan sendiri seluruh benih yang ditanamnya tumbuh menjadi pohon. Ada kalanya ia hanya menanam, menyiram, lalu menyerahkan perawatannya kepada orang lain.

Dan bagi Imam, mungkin itulah yang sedang terjadi di RSUDAM. Ia telah meninggalkan jabatan, tetapi belum tentu meninggalkan gagasan. PUAKHI yang ia tanam kini menjadi pekerjaan rumah bersama: apakah akan terus tumbuh sebagai budaya pelayanan atau berhenti sebagai slogan dari sebuah periode kepemimpinan.

Karena pada akhirnya, ukuran sebuah kepemimpinan bukan hanya berapa lama seseorang duduk di kursi direktur, melainkan apa yang tertinggal setelah ia meninggalkan kursi tersebut. Imam memilih pergi dengan pesan sederhana: jabatan selesai, pengabdian tidak.

Dan ketika pintu RSUDAM kembali terbuka bagi kepemimpinan Lukman Pura, tantangannya pun kembali kepada hal yang paling mendasar: memastikan rumah sakit terbesar milik Pemprov Lampung itu semakin kuat sistemnya, semakin manusiawi pelayanannya, dan semakin dipercaya masyarakat.

Sementara ke mana langkah Imam Ghozali berikutnya? Belum ada jawaban pasti. Namun, pengalaman, kompetensi, dan gagasan yang telah ia bawa selama memimpin RSUDAM tentu menjadi modal untuk pengabdian berikutnya. Bisa jadi tetap di RSUDAM sebagai dokter, bisa pula mendapat ruang pengabdian yang lebih luas.

Kalau kelak perjalanan itu membawanya ke panggung yang lebih besar, bahkan ke level nasional, barangkali masyarakat Lampung akan kembali mendengar namanya. Untuk sementara, Imam memilih menutup bab sebagai direktur dengan satu kalimat yang jauh lebih penting daripada sekadar perpisahan: jabatan boleh berakhir, tetapi pengabdian tidak pernah benar-benar selesai. (HBM)