Helo Indonesia

Lukman Balik Jadi Direktur RSUDAM, Imam Ghozali Terbang Jemput Tugas Nasionalkah?

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
1 jam 27 menit lalu
    Bagikan  
RSUDAM
HELO LAMPUNG

RSUDAM - Dadaaaaghhh

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Ada yang datang kembali, ada pula yang pergi membawa tanda tanya. Selasa (6/10/2026), ketika dr. Lukman Pura kembali dilantik sebagai Direktur RSUD Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM), dr. Imam Ghozali justru memilih terbang meninggalkan Lampung.

Hanya sekitar 20 menit sebelum pelantikan Lukman Pura yang berlangsung pukul 14.00 WIB, Imam Ghozali terpantau berada di Bandara Radin Inten II, Lampung Selatan. Ia bersama sang istri menaiki penerbangan Lion Air menuju Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Imam duduk di kursi 2-B, sementara istrinya berada di kursi 2-A. Pemandangan sederhana itu menjadi menarik karena terjadi tepat pada hari ketika kursinya sebagai orang nomor satu di RSUDAM berpindah tangan.

Ke mana Imam Ghozali terbang? Belum ada keterangan resmi yang mengaitkan penerbangannya dengan penugasan baru. Pemerintah Provinsi Lampung juga belum mengumumkan secara terbuka ke mana Imam akan ditempatkan setelah tidak lagi memimpin RSUDAM.

Yang sudah pasti, Pemprov Lampung melantik Lukman Pura sebagai Direktur RSUDAM berdasarkan Keputusan Gubernur Lampung Nomor 800.1.3.3/3466/VI.04/2026 tertanggal 5 Oktober 2026. Lukman sebelumnya menjabat Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia.

Sementara nasib penempatan Imam Ghozali masih menjadi tanda tanya. Sejumlah pemberitaan menyebut posisi barunya belum diumumkan setelah pelantikan Lukman Pura.
Di titik inilah perjalanan Imam Ghozali di RSUDAM menjadi menarik untuk dibaca lebih jauh.

Ia bukan sekadar menempati kursi direktur. Sejak dipercaya memimpin rumah sakit milik Pemprov Lampung itu, Imam membawa sejumlah gagasan untuk mengubah cara rumah sakit melayani pasien.

Filosofi Puakhi ciptaannya menjadi salah satu ruh yang ia dorong. Pelayanan tidak cukup hanya cepat dan tepat secara medis, tetapi juga harus membuat pasien merasa dihargai sebagai manusia.

Dalam sejumlah kesempatan, Imam menyampaikan bahwa pasien harus diperlakukan seperti saudara. Bahkan ketika kritik datang dari relawan, ia menyebut kritik tersebut sebagai "cermin" untuk melihat kekurangan pelayanan yang mungkin tidak terlihat dari dalam rumah sakit.

"Puakhi" kemudian tidak berhenti sebagai slogan. Pada Juli 2026, RSUDAM meluncurkan SIGER PUAKHI, layanan pengantaran obat kepada pasien rawat jalan. Inovasi ini memungkinkan pasien yang memilih layanan antar untuk meninggalkan rumah sakit tanpa harus menunggu obat selesai disiapkan di instalasi farmasi.

Ada pula rencana penataan kawasan rumah sakit, termasuk pembangunan gedung parkir lima lantai berkapasitas sekitar 500 mobil dan 300 sepeda motor. Lantai teratas direncanakan menjadi rumah singgah dengan 29 kamar bagi keluarga pasien.

Gagasan lainnya bergerak ke arah penguatan layanan spesialistik. Imam pernah mendorong RSUDAM agar semakin mampu menangani penyakit jantung, stroke dan paru, termasuk pengembangan kemampuan layanan jantung agar pasien Lampung tidak selalu harus dirujuk keluar daerah.

Bahkan pada 2025, RSUDAM mulai memperkenalkan sejumlah layanan baru seperti Klinik Berhenti Merokok, Klinik Nyeri dan Paliatif serta shuttle bus Lamban Tuppak Puakhi untuk membantu mobilitas keluarga pasien.

Semua itu menunjukkan bahwa periode Imam di RSUDAM bukan ruang yang kosong. Ada gagasan, ada program, ada pekerjaan yang sudah berjalan, dan ada pula mimpi yang belum seluruhnya selesai. Karena itu, pergantian direktur pada 6 Oktober 2026 terasa seperti rem mendadak bagi sebuah kendaraan yang sedang melaju.

Bukan berarti pekerjaan RSUDAM berhenti. Bukan pula berarti gagasan Imam ikut berhenti. Sebab sebuah institusi sebesar RSUDAM tidak boleh bergantung kepada satu nama.

Tetapi bagi orang yang ikut menyusun peta jalan perubahan, meninggalkan sebuah pekerjaan sebelum seluruh cita-cita selesai tentu menyimpan rasa yang tidak sederhana.

Ada pekerjaan yang belum selesai. Ada gagasan yang mungkin belum sempat diwujudkan. Ada janji pelayanan yang masih harus diteruskan oleh tangan berikutnya.
Dan di situlah makna sebuah pengabdian diuji.

Seorang pejabat boleh berganti meja. Boleh berpindah ruangan. Bahkan boleh meninggalkan kota. Tetapi jejak pengabdiannya tidak otomatis ikut pergi.

Jika kelak Imam Ghozali benar-benar mendapat tugas baru di tingkat nasional, maka penerbangannya dari Lampung pada Selasa siang itu mungkin bukan sekadar perjalanan dari Radin Inten II menuju Soekarno-Hatta.

Bisa jadi itu adalah penerbangan menuju babak lain dari pengabdian. Namun untuk saat ini, "menasional" masih sebatas pertanyaan. Informasi mengenai penugasan Imam ke tingkat nasional, termasuk kabar tentang posisi tertentu di lembaga nasional, belum memperoleh konfirmasi resmi dari pihak yang berwenang.

Yang pasti, sehari ketika Lukman Pura kembali ke kursi direktur RSUDAM, Imam Ghozali berada di udara. Seolah hidup sedang memperlihatkan satu adegan sederhana: ketika satu pintu ditutup, seseorang tidak selalu tahu pintu mana yang akan terbuka berikutnya.

Barangkali memang demikian jalan seorang abdi negara.
Kadang ia diminta membangun sebuah rumah, lalu pergi sebelum rumah itu selesai. Kadang ia diminta menanam pohon, tetapi orang lain yang kelak menikmati teduhnya.

Dan mungkin, itulah arti paling sunyi dari pengabdian: tidak semua yang kita mulai harus kita selesaikan sendiri, tetapi apa yang kita tanam harus cukup baik untuk diteruskan orang lain.

RSUDAM kini kembali memiliki nahkoda baru.

Lukman Pura mendapat amanah untuk meneruskan pekerjaan besar rumah sakit rujukan milik Lampung itu. Sementara Imam Ghozali meninggalkan sebuah tanda tanya: ke mana langkah berikutnya?

Pesawatnya sudah terbang.
Tetapi jawabannya belum.
Mungkin masih di landasan.
Mungkin sedang menunggu keputusan. Atau mungkin, jika kabar tentang tugas nasional itu kelak benar, penerbangan Selasa siang tersebut memang menjadi awal dari sebuah perjalanan yang lebih jauh.

Satu hal yang pasti: jabatan bisa selesai dalam hitungan menit, tetapi pengabdian tidak pernah sesingkat itu. Mudah-mudahan Om Ghoz mendapat tugas lebih mulia di tingkat nasional yang kelak membanggakan masyarakat Lampung kelak. (HBM)