LAMPUNG,HELOINDONESIA.COM–
Kekayaan sejarah dan budaya masyarakat Pagar Dewa, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), mulai dilirik sebagai potensi strategis untuk pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal.
Pemerintah Provinsi Lampung mendorong pemerintah kecamatan dan masyarakat setempat menggali serta memetakan warisan budaya yang masih bertahan, mulai dari kampung tua, rumah-rumah tradisional, makam bersejarah, kuliner khas, hingga tradisi dan bahasa Lampung yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Dukungan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Ir. Tony Ferdinansyah, S.T., M.T., saat melakukan kunjungan dan koordinasi pengembangan potensi wisata budaya di Tiyuh Pagar Dewa, Kecamatan Pagar Dewa.
Tony menegaskan, pengembangan pariwisata tidak harus selalu dimulai dengan membangun objek wisata baru. Kekayaan sejarah, arsitektur tradisional, adat istiadat, dan kehidupan masyarakat justru dapat menjadi daya tarik yang membedakan suatu destinasi dari daerah lainnya.
Menurutnya, Pagar Dewa memiliki modal budaya yang perlu diinventarisasi, dijaga, dan dikembangkan secara serius agar mampu menjadi destinasi wisata yang memiliki karakter kuat.
“Jangan berpikir bahwa wisata itu harus alam atau buatan. Budaya yang kita miliki juga merupakan potensi wisata. Kalau masih ada rumah-rumah lama, jangan cepat-cepat dibangun menjadi rumah tembok semua. Yang lama itu harus kita pertahankan karena memiliki nilai sejarah,” ujar Tony.
Ia menilai, bangunan lama dan jejak sejarah yang masih ditemukan di tengah masyarakat bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan aset budaya yang dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan pariwisata.
Karena itu, sejarah kampung tua, asal-usul masyarakat, serta berbagai cerita yang diwariskan secara turun-temurun perlu digali dan didokumentasikan agar tidak hilang seiring perkembangan zaman.
Tony juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara keterbukaan terhadap dunia luar dan pelestarian identitas lokal.
Menurutnya, bahasa Lampung, kuliner tradisional, adat istiadat, dan aktivitas keseharian masyarakat merupakan bagian dari warisan budaya yang dapat dikemas menjadi pengalaman wisata autentik.
“Bagaimana kita membuka diri terhadap dunia luar dan perkembangan teknologi, tetapi tetap mempertahankan budaya yang kita miliki. Itu yang harus kita bangun bersama,” katanya.
Ia berharap pengembangan wisata budaya di Pagar Dewa tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga warisan leluhur sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Camat Pagar Dewa, Deswanto, S.H., M.H., menyambut positif perhatian Pemerintah Provinsi Lampung terhadap pengembangan potensi wisata budaya di wilayahnya.
Menurut Deswanto, kunjungan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen pemerintah kecamatan bersama masyarakat dalam mengidentifikasi berbagai potensi yang selama ini belum tergarap secara optimal.
“Kami dari Pemerintah Kecamatan Pagar Dewa bersama masyarakat menyambut baik dan sangat mendukung perhatian Pemerintah Provinsi Lampung terhadap pengembangan wisata budaya di Pagar Dewa. Kami memiliki niat dan komitmen untuk menjadikan potensi yang ada sebagai kekuatan wisata berbasis sejarah dan budaya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejumlah potensi yang mulai dipetakan meliputi kawasan kampung tua, rumah-rumah tua peninggalan masyarakat, makam yang memiliki nilai sejarah dan religi, potensi wisata susur sungai, kuliner tradisional, serta cerita sejarah dan kearifan lokal.
Berbagai potensi tersebut akan menjadi bahan inventarisasi untuk menentukan arah pengembangan wisata budaya yang sesuai dengan karakter dan kondisi masyarakat setempat.
Deswanto menegaskan, pengembangan wisata budaya tidak boleh berhenti pada pembangunan fasilitas fisik atau penciptaan objek wisata semata. Lebih dari itu, upaya tersebut harus menjadi bagian dari pelestarian sejarah, penguatan identitas lokal, dan pewarisan nilai budaya kepada generasi mendatang.
“Perangkat dan instrumen pendukung di tingkat tiyuh juga akan kami dorong untuk disiapkan. Kita ingin pengembangan ini bukan sekadar membuat tempat wisata, tetapi bagaimana identitas, sejarah dan budaya Pagar Dewa tetap hidup dan bisa diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Deswanto menilai, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pengembangan wisata budaya.
Pemerintah kecamatan, menurutnya, perlu membangun kolaborasi dengan pemerintah tiyuh, tokoh adat, tokoh masyarakat, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta generasi muda agar upaya pelestarian dan pengembangan destinasi berjalan berkelanjutan.
“Kita ingin masyarakat menjadi bagian utama dari proses ini. Karena yang memiliki cerita, budaya dan sejarahnya adalah masyarakat itu sendiri. Pemerintah hadir untuk memfasilitasi, mengoordinasikan dan membuka ruang agar potensi tersebut dapat dikembangkan,” ujarnya.
Ia juga berharap dukungan Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat dapat terus berlanjut, terutama melalui pembinaan, penguatan kelembagaan, promosi, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pengembangan sarana dan prasarana pendukung.
Menurutnya, sinergi lintas pemerintahan dan partisipasi masyarakat diperlukan agar potensi yang telah teridentifikasi dapat dikembangkan menjadi destinasi yang memiliki daya tarik sekaligus memberikan manfaat nyata bagi warga.
Kegiatan koordinasi tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Tulang Bawang Barat, jajaran Pemerintah Kecamatan Pagar Dewa, Kepala Tiyuh Pagar Dewa, Ketua Pokdarwis, tokoh masyarakat, serta sejumlah unsur masyarakat setempat.
Pertemuan itu menjadi langkah awal untuk menyatukan pandangan mengenai potensi wisata budaya yang dapat dikembangkan, sekaligus memperkuat upaya pelestarian berbagai peninggalan sejarah dan tradisi lokal.
Ke depan, Pemerintah Kecamatan Pagar Dewa akan melanjutkan inventarisasi dan pemetaan potensi dengan mendorong keterlibatan masyarakat sebagai pemilik sekaligus penjaga warisan budaya tersebut.
Jika dikembangkan secara terarah dan berkelanjutan, Pagar Dewa berpeluang menjadikan kekayaan sejarah dan budayanya sebagai daya tarik wisata yang memiliki identitas tersendiri.
Lebih dari sekadar destinasi kunjungan, pengembangan wisata budaya diharapkan mampu membuka peluang usaha bagi masyarakat, menggerakkan ekonomi lokal, dan memastikan warisan leluhur tetap terjaga di tengah perubahan zaman.
Bagi Pagar Dewa, masa depan pariwisata bukan semata-mata tentang membangun sesuatu yang baru, melainkan bagaimana merawat kekayaan yang telah diwariskan agar tetap bernilai bagi generasi sekarang dan mendatang.
(Rohman).
