Helo Indonesia

BPIP Sebut Pendidikan Harus Mampu Membahagiakan Anak-anak

Sabtu, 22 Juli 2023 13:25
    Bagikan  
 BPIP Sebut Pendidikan Harus Mampu Membahagiakan Anak-anak

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Antonius Benny Susetyo saat menyampaikan pentingnya pendidikan Pancasila bagi anak muda di Yogyakarta

YOGYAKARTA, HELOINDONESIA.COM - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), lewat Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Antonius Benny Susetyo, menegaskan, pendidikan Pancasila akan menciptakan karakter pancasilasi dalam anak-anak muda, dan mampu membahagiakan anak-anak.

Hal tersebut  dia sampaikan pada seminar dalam rangka Bulan Bung Karno dengan tema Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa Bernegara, di Jogja Green School, Sleman, DIY, Sabtu 22 Juli 2023.

Baca juga: Jateng Juara Umum Pornas Korpri 2023, Ini Klasemen Akhir Perolehan Medali

Benny, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa mulai pada tahun ajaran 2023-2024, pendidikan Pancasila diajarkan kepada murid-murid dari PAUD sampai dengan SMA.

"Pelajaran ini bisa mengajarkan anak-anak untuk memiliki cita rasa Pancasila, dan menjadi nilai keutamaan hidup. Ini tidak hafalan atau doktrinasi lagi, ini untuk membawa anak-anak menjadikan Pancasila menjadi nilai dalam kehidupannya," tuturnya.

"(Pelajaran Pancasila) memakai metode 70 persen pengalaman, 30 persen teori. Ini sesuai dengan nilai dari Ki Hajar Dewantara: pendidikan untuk menjadi. Bukan menghafal dan mengingat, tetapi anak-anak akan benar menjadi, menjadi insan profil Pancasila," jelasnya lagi.

Budayawan ini menyatakan lanjut garis besar isi pembelajaran mata ajar Pancasila.

"Anak-anak diajarkan keragaman, anak-anak sadar kalau mereka berbeda tetapi satu. Pancasila adalah ideologi yang menyatukan hal itu. Menghargai budaya lokal dan budaya orang lain, misalnya. Ini yang ditanamkan sejak dinii,'' tambahnya.

"Dari PAUD sampai SD, penekanan lebih kepada bagaimana hidup dengan nilai Pancasila dari hal-hal kecil dan mudah digunakan. Saat tingkat SMP, baru mulai diajarkan sejarah Pancasila dan Indonesia, serta pengenalan tokoh-tokoh. SMA, baru diajarkan dan mengenal soal konsep Pancasila. Jadi, semua sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing jenjang," katanya.

Hasil Survei

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP ini menyatakan urgensi pendidikan Pancasila, menyusul hasil survei dari Setara Institute kepada anak-anak muda di 5 kota besar di Indonesia.

Baca juga: Rapat Bareng Lima Menteri, Ganjar Siap Bereskan PR Penataan Candi Borobudur

"Sebanyak 83 persen, anak muda menyatakan Pancasila bukan ideologi permanen. Ini kan mengerikan. Pancasila padahal dielu-elukan oleh banyak tokoh internasional sebagai pemersatu yang ampuh. Imam dari Suriah pernah menyatakan Indonesia beruntung punya Pancasila, dimana menyatukan 700 lebih suku bangsanya; di Suriah, hanya sekitar 10 suku bangsa, tetapi bertikai. Kita tahu bagaimana keadaan Suriah sekarang. Pancasila itu bukan main-main, dan Pancasila benar menyatukan kita semua,'' bebernya.

Benny pun menyatakan bahwa dalam mengajarkan pelajaran Pancasila, harus ada perubahan paradigma penyampaian.
"Guru mampu memberikan inspirasi kepada murid agar dia memiliki kemandirian, kreativitas, dan kecakapan teknologi. Ubah paradigma, bukan monolog lagi. Anak-anak menggali sendiri pengetahuan, guru menjadi sahabat, teman, dan membantu. Paradigma guru harus diubah. Itulah yang ditunjukkan oleh Ki Hajar Dewantara," sebutnya.

Akhirnya, pada bagian penutup, pakar komunikasi politik ini menyampaikan bahwa BPIP menginginkan, dimulai dari pendidikan Pancasila, metode dan paradigma guru, orangtua, serta pihak terkait, dalam pengajaran, menjadi menyenangkan bagi anak-anak. (Aji)