LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Tak seperti biasa, tepian sungai Way Tulung Nago Ulluan Nughik, Kelurahan Panaragan Jaya, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung, terlihat banyak warga dari remaja hingga orang dewasa berbaris memancing ikan baung (ikan endemik) sejak pagi.
Direktur Sekolah Seni Tubaba, Semi Ikra Anggara menjelaskan bahwa memancing bukan sembarang memancing, karena lemparan pancing pertama dimulai dengan baca puisi. Laku simbolik ini seperti mengembalikan puisi atau sastra ke alam, tempat kata-kata dan syair ditemukan.
Demikian, pembukaan kegiatan “Pesta Sastra Tubaba” yang digelar pada Jumat, 31 Oktober 2025 di Kota Budaya Ulluan Nughik, Panaragan. Kegiatan yang digelar sehari penuh dari pukul 08.00 WIB- pukul 20.00 WIB.
Hari itu, kata Semi banyak sekali konten acara diantaranya:
Lomba Baca Puisi, Parade Puisi, diskusi buku sastra, hingga pertunjukan alih wahana puisi ke dalam musik balada dan musikalisasi puisi. Diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Seni dan Ekologi (Sekolah Seni Tubaba) sebagai bagian program Penguatan Komunitas Sastra yang digagas Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan.
“Pesta Sastra Tubaba merupakan kegiatan inklusif yang melibatkan para sastrawan, pelajar dan masyarakat di kawasan Ulluan Nughik. Kegiatan ini bukan perayaan biasa, melainkan sebuah laku sadar menjadikan sastra sebagai cara berpikir dan bertindak dalam membangun kebudayaan masa depan,”jelasnya, Kamis (06/11/2025).
Selain itu, menjadi ruang bagi semua orang mengenali kembali diri lewat bahasa dan lewat bahasa itulah imajinasi masa depan dibangun. Setiap kata, setiap kisah selalu ada kemungkinan untuk lahir kembali dan baru.
Sementara itu, seorang pemuda asal Tiyuh (Desa) Mulya Asri, Kecamatan TBT, Kabupaten Tubaba, mengapresiasi gagasan yang digelar oleh ketua pelaksana.”kegiatan ini membuatnya sangat bahagia, sebagai seorang pecinta sastra dan pemancing, saya merasa selama ini kegiatan sastra di kotanya hanya sekedar urusan personal yang sibuk dengan kesunyian masing-masing,”ujarnya.
Berkat pesta sastra, lanjutnya, dia bisa bertemu banyak orang, para pecinta sastra seusia, juga para sastrawan favorit. Selain ia menyatakan rasa suka citanya karena terbantu mendapatkan buku secara gratis, sebab selama ini buku sastra hanya tersedia di kota Bandar Lampung.
Meskipun Ujang juga mengaku, bahwa dia pernah mendapatkan sebuah buku karangan Seno Gumira Ajidarma lewat toko buku online yang dibelinya melalui platform tik tok pay letter.
Setelah Ujang membaca puisi dan berhasil meraih strike dengan mendapatkan ikan Baung berukuran jumbo di Sungai Way Tulung Nago, acara bergeser ke Panggung Selasar Tiyuh-tiyuh Ulluan Nugik, digelar “Lomba Baca Puisi Berhadiah Ayam Jago” dari pukul 09:00 WIB – 11:30 WIB. Diikuti oleh 35 peserta ragam usia dari siswa SMA/SMK/MA di Tubaba hingga ibu rumah tangga.
Selain membacakan puisi-puisi karya para penyair Indonesia, para peserta diperbolehkan membaca puisi yang ditulisnya sendiri.
Selain memancing dan lomba baca puisi, pada jam yang sama digelar pula “Sedekah 101 Buku Sastra” bagi-bagi buku sastra secara gratis untuk semua peserta Pesta Sastra. Bagi-bagi buku sastra ini, seakan menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah milik seseorang, tapi milik semua, hak semua orang untuk mendapatkan akses.
Semua orang boleh memilih satu buku sastra favoritnya untuk dibawa pulang dan dibaca di rumah. Bagi-bagi buku ini dilaksanakan sepanjang kegiatan berlangsung.
Salah satu bagian penting dari kegiatan ini adalah diskusi buku “Empedu Tanah” karya Inggit Putria Marga dan “Rahasia Kesaktian Raja Tua” karya Zen Hae. Diskusi ini digelar di Nughik Space Kawasan Ulluan Nughik dari pukul 13:00 WIB – 16:00 WIB, dengan pembicara: Hilmi Faiq (Redaktur Budaya, Kompas) dan Arman Az (sastrawan dan sejarawan Lampung), dengan moderator Alexander Gebe (penulis dan aktor teater).
Diskusi diselingi parade puisi dari sejumlah seniman, di antaranya Jhon Heryanto, Mike Fena Firdania, dan Sekar Harma Delima, umumnya mereka membaca puisi dari antologi “Empedu Tanah” karya Inggit Putria Marga.
Dalam “Empedu Tanah”, Inggit Putria Marga menulis tentang kepahitan hidup manusia dengan latar agraris. Diksi-diksi alam dalam puisinya mencerminkan cara pandang masyarakat yang intim dengan tanah dan kesakitan hidup.
Buku ini menjadi jembatan antara pengalaman pribadi dan lanskap sosial-ekologis Lampung. Sementara itu, “Rahasia Kesaktian Raja Tua” karya Zen Hae menulis ulang mitologi dan kisah lisan masyarakat Tubaba ke dalam bentuk novel modern. Proses ini dapat dibaca sebagai upaya translasi kultural—dari lisan ke tulisan, dari arsip tubuh ke arsi
(Rohman).