Kampus Vokasi Kopi di Sumatra, Mana Aja?

Senin, 2 Februari 2026 16:10
Logo dan gerbang kampus UPP Rejang Lebong, Polinela, dan ITERA. dok/Muzzamil/Helo Indonesia

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Paling tidak, 10 PTN/PTS pengampu perkuliahan vokasional spesialis perkopian dan penaja fasilitasi akademik pemajuan ekosistemnya di Indonesia. Di Sumatra, dua di antaranya di Lampung, Politeknik Negeri Lampung (Polinela) dan Institut Teknologi Sumatera (ITERA).

Sederet kampus ini merancang, menerapkan dan mengkinikan pengembangan kurikulum khusus atau program studi (Prodi) Sarjana Terapan (D4) dan S1 linifokus konsentrasi bidang hulu hilir perkopian: pembudidayaan, pengolahan, bisnis, hingga hilirisasi industri.

Kampusnya berpurwarupa meniti menata target mulai dari cakupan inovasi otentik pembelajaran, bidikan kompetensi akademik lulusan —kompetensi utama maupun teknis, kohesivitas kurikulum dengan dinamisasi kebutuhan riil industri dan pasar kerja.

Serta sebagaimana tampak, yang jadi simpul pemersatu, semuanya bermuara bidik target jitu agar alumninya: berdampak.

1. Universitas Pat Petulai Rejang Lebong
Universitas Pat Petulai (UPP), berkampus di Jl Basuki Rahmat 13, Desa Dwi Tunggal, Kecamatan Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu ini, mengampu Prodi S1 Sains Perkopian.

Bersama Prodi S1 Agroteknologi, Agribisnis, Akuntansi, dan Komputer; kelimanya prodi rintisan seiring UPP Rejang Lebong berdiri berdasar SK Menristekdikti 605/2019 tentang Izin Perubahan Bentuk STIPER Rejang Lebong Menjadi UPP (Juli 2019), sekaligus tahun akademik perdana dengan fasilitasi Beasiswa Bidik Misi (bantuan akademik Rp2,4 juta/tahun, uang saku Rp700 ribu/bulan) bagi 80 mahasiswa baru penerima latar keluarga tak mampu.

Buah jerih, era rektor Prof Dr Alnopri, Prodi S1 Sains Perkopian UPP Rejang Lebong pun beroperasi Februari 2020, menjadikannya Prodi Sains Perkopian pertama di Indonesia.

Sebelum diteruskan rektor 2021–2025 Hadi Suhermanto dan kini 2025–2029 Dr Rahiman Dani, pancawarsa silam Alnopri mewarta, pendirian prodi ini diharapkan bisa bantu pengembangan usaha ekonomi kebun kopi warga setempat baik lini pembudidayaan maupun pengolahan pascapanen.

Berpendekatan 'from farm to fork' di sentra penghasil Robusta unggulan, tujuan Prodi ini cetak ahli/agronomis kopi. Adapun, alumni angkatan pertama prodi ini turut jadi bagian dari total 117 sarjana angkatan pertama lima Prodi UPP Rejang Lebong yang diwisuda Agustus 2025.

2. Politeknik Negeri Lampung (Polinela)
Dari kampus Jl Soekarno Hatta 10 Rajabasa Raya Kecamatan Rajabasa Bandarlampung, Prodi D4 Pengelolaan Perkebunan Kopi pada Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan Polinela rintisan era direktur Dr Sarono, buka per tahun akademik 2021/2022.

Termasuk pertama di Sumatra, idem fokus pengembangan SDM kopi kompeten, prodi mengampu Visi 'Menjadi program terapan unggulan dalam hasilkan Sarjana Terapan pendidikan vokasi berkualitas, inovatif, unggul dalam iptek terapan industri kopi, berjiwa wirausaha, berdaya saing global'.

Dengan fokus perkuatan teknologi hulu hilir: budidaya, pengolahan, hingga manajemen bisnis. Prodi ini berkurikulum acuan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) —dasar penilaian dan sertifikasi profesi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan kurikulum standar nasional pendidikan tinggi vokasi (PTV).

Jua, diperkuat integrasi pendidikan dan industri misal Teaching Factory (Tefa) Kopi, Praktisi Mengajar, hingga pemagangan di dunia usaha dunia industri (DUDI).

Dibaluri 7 Misi: 1) melaksanakan pendidikan vokasi mengacu kurikulum SKKNI (Perpres 8/2012), Permendikbud 3/2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, dan SE Mendikbud tentang Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) didukung kerja sama industri; 2) melaksanakan penelitian terapan untuk hasilkan teknologi budidaya dan pengelolaan kopi.

3) melaksanakan pengabdian masyarakat dalam rangka pemindalihan iptek bidang perkebunan kopi untuk meningkatkan pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat; 4) melaksanakan pembelajaran berbasis kompetensi selaras kebutuhan pengguna lulusan bidang perkebunan kopi dengan suasana akademik yang kondusif.

5) membangun pusat pengkajian dan pengembangan teknologi kopi menjadi produk kopi olahan; 6) menyediakan sarana belajar dan alih teknologi bagi lulusan SMA/SMK dan pelaku usaha, pelatihan petani, pertukaran informasi dengan pelaku bisnis dan pemerintah; dan 7) membangun kerja sama dengan instansi pemerintah, BUMN, swasta, atau industri bidang komoditas kopi.

Gelar alumninya Sarjana Sains Terapan Pertanian (S.Tr.P). Sesuai kompetensi, alumni berpeluang karir menjadi asisten manajer perkebunan kopi, barista, field assistant manager (sektor jasa dan produk), konsultan agribisnis kopi, pengawas lapang (pestisida, pupuk, bahan tanam), wirausaha hulu hilir (coffeepreneur).

Sesuai gerak zaman —harus jua berdampak, direktur lama, Dr Sarono, November 2020 menyebut, Prodi Pengelolaan Perkebunan Kopi ini bagian agregasi kampus berinovasi dalam pengembangan peran fungsi institusi pendidikan tinggi berguna bagi khalayak.

Sebagaimana kini perlahan terbukti, Polinela memicing besaran peluang dan potensi, kebutuhan solusi sumber daya industri terapan, plus tautan keterhubungan dan keterkaitan (link and match) akademis yang disandangnya dengan DUDI dan dunia kerja (DUDIKA), lantas dieksekusi lewat prodi ini.

Kampus 8 Jurusan 35 Prodi, pengampu hotline 0721703995 dan 081278933860 ini genapi dengan pelipatgandaan penyediaan sumber daya: fasilitas Teaching Farm seperti Seed Teaching Farm (Stefa) Pusat Penelitian dan Benih Hibrida, SDM dosen, jejaring mitra pembelajaran pun pemagangan, lainnya.

Kini di era direktur Dr Dwi Puji Hartono, basis portofolionya jua terpantau kian dipertajam. Kata lain, Polinela makin related menara air. Bukan menara gading belaka.

Polinela mahfum, prodi ini bisa merangsek jadi bagian catu daya pentaheliks plus sisi hulu ekosistem perkebunan berkelanjutan dengan pemenuhan prasyarat integrasi pengelolaan lahan, efisiensi sumber daya, inovasi budidaya, bagian dari pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainability Development Goals (SDGs) didalamnya. Dan bakal ranum, performa maupun produk dan keluaran hasilnya.

Sadar eksisting Lampung dianugerahi Ilahi: dulu masyhur Bumi (Tanoh) Lada, kelak kini Bumi Robusta pun proyeksi kedepannya.

Polinela, relatif tampak sukses tak cuma dalam menilik data bin peluang, lebih jauh per faktual sukses jua 'gerayang' agregasi valuasi prospektus kewilayahan Lampung yang ternasbih sandang status provinsi sentra produksi kopi robusta terbesar kedua di Indonesia setelah Sumatra Selatan.

Pun kontribusi tak kalah kuat Robusta terhadap kinerja eksportasi komoditas black heaven ini (sekaligus kontribusi besarnya bagi devisa negara), sekuat aroma otentik khas kopinya; dengan Lampung Barat dan Tanggamus, wilayah kabupaten penghasil dan produsen tertinggi utama.

Didalamnya, kisah sukses Bupati Lampung Barat (Lambar) 2017–2022 dan 2025–2030 Parosil Mabsus karib Pakcik PM, yang ulah kegigihannya pada periode pertama, menaja pemajuan pertanian dan perkebunan kopi, dan pemuliaan petani/pekebun kopi Robusta setempat, salah satunya dengan dirikan Sekolah Kopi Lampung Barat (pertama di Indonesia) hingga digelari 'Bupati Kopi'.

Semua faktor di atas plus bentang data yang nanti kita ulas di artikel terpisah, tampaknya terpotret sempurna Polinela. Karena bicara target produk dan keluaran lulusan, bicara human capital investment, investasi SDM; kelak kita bakal saksikan buah jerih Polinela, mengampu Prodi Sarjana Terapan satu ini.

3. Institut Teknologi Sumatera (ITERA)
Selain Polinela, ada Prodi S1 Teknik Biosistem Fakultas Teknologi Industri ITERA berkampus Jl Terusan Ryacudu Way Huwi, Jati Agung, Lampung Selatan; dirian 2 Februari 2018 via SK 120/2018 berdasar Pangkalan Data Dikti (saat itu) Kemenristekdikti.

Dengan Visi "Menjadi Prodi yang unggul di bidang Keteknikan Biosistem dalam inovasi teknologi maju dan pengembangan SDM pada pengolahan potensi sumber daya alam di lingkungan Sumatra menuju industri yang berdaya saing global."

Dibaluti lima Misi: menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran efektif efisien untuk menghasilkan lulusan yang mandiri, berdaya saing, kreatif, dan berkarakter; melaksanakan penelitian berbasis teknologi modern yang inovatif untuk memecahkan masalah di masyarakat; mengembangkan penelitian antar disiplin ilmu demi perkaya khasanah keilmuan keteknikan biosistem.

Lalu, menciptakan atmosfer akademik yang 'smart, friendly and forest campus' dengan mengedepankan prinsip sustainability; dan memberikan kontribusi dengan menerapkan ilmu keteknikan biosistem dalam mendukung kemajuan wilayah Sumatra dan sekitarnya.

Prodi menarget tujuh tujuan, diharap mampu diwakilkan pada performa lulusan, yakni 1) menguasai pengetahuan dan prinsip-prinsip keteknikan dan mampu mengaplikasikannya untuk memecahkan persoalan pekerjaan dihadapi, 2) menguasai metode ilmiah untuk meneliti, menganalisis, memahami persoalan dihadapi untuk mendapatkan solusinya.

3) dapat terus menerus mengembangkan keilmuan biosistem dimiliki, baik formal pun informal, 4) mampu bekerja sama dan ikuti perkembangan cabang-cabang biosistem lainnya sehingga mempunyai pemahaman menyeluruh tentang suatu sistem baik bidang industri pun pertanian.

Lalu, 5) mempunyai kemampuan untuk menyampaikan pemikiran secara lisan maupun tulisan dalam media ilmiah maupun popular dan sesuai etika keprofesian, 6) bertanggung jawab atas pekerjaannya dalam kapasitas sebagai anggota maupun pemimpin tim, 7) mampu ambil keputusan dengan pertimbangan keilmuan dimiliki.

Prodi ini jadi bagian ikhtiar ITERA menjawab tantangan institusi pendidikan dalam permasalahan yang terjadi di Tanah Air khususnya Sumatra, dan industri global.

Kemunculan prodi, sebab adanya tuntutan keberlanjutan dalam proses pertanian dalam cakupan luas. Teknik Biosistem, disiplin ilmu bauran keilmuan matematika, fisika, kimia, biologi, dan segala prinsip keteknikan terkait pemecahan masalah lingkup pertanian dan hayati, energi dan lingkungan, dengan kedepankan spirit inovasi dan keberlanjutan.

Fokus kurikulum, inovasi teknologi pertanian dan sumber daya hayati berkelanjutan, yang bertopik inti pertanian presisi seperti irigasi cerdas, mekanisasi, sistem informasi pertanian; teknologi pascapanen dan pengolahan seperti ergonomi pertanian, teknik proses pangan, pengolahan limbah biomassa; energi, lingkungan (kembangkan energi terbarukan, konservasi tanah/air); berenergikan bauran keilmuan tadi.

Telah sedikitnya meluluskan tiga angkatan, prodi bertujuan hasilkan lulusan nan mampu kembangkan solusi inovatif pengelolaan alam melalui teknologi maju ini, turut diakui kian mendapat tempat di hati peminat, setidaknya berkat empat keunggulan.

Yakni, setia usung inovasi berkelanjutan (menerapkan teknologi maju solusi ramah lingkungan), linifokus potensi alam Sumatra untuk industri global menjadikannya relevan berbasis arif lokal, kompetensi lulusannya mampu bekerja di ragam sektor industri agro dan teknologi berkelanjutan, dan telah terakreditasi "Baik Sekali" oleh LAM Teknik.

Laman prodi menjelaskan, linifokus penelitian di prodi ini pada pengembangan solusi inovatif dan berkelanjutan bidang biosistem: pertanian presisi, ergonomi pertanian, pascapanen, mekanisasi dan rancang bangun sistem dan teknologi biosistem, energi terbarukan, sistem irigasi cerdas, dan pengolahan limbah biomassa.

Penelitiannya kolaboratif dua arah: dosen-mahasiswa, berpendekatan interdisipliner, bersinergi kebutuhan lokal hingga global. Hasilnya tak buat publikasi ilmiah saja, jua buat terapan praktis berdampak bagi lingkungan dan khalayak.

Enggan 'hening' sendiri dalam pengayaan pengembangan kurikulum juga prodi, prodi pimpinan Kaprodi Dr. Ikah Ning Prasetiowati Permanasari yang jua Kajur Sains diperkuat 27 dosen, 12 di antaranya doktor; selain libatkan dosen intern jua pakar luar misal Dr Edy Hartulistiyoso asal IPB University.

Terbaru, Kaprodi Teknik Biosistem serta Kajur, Kaprodi Teknologi Pangan, tim BMN, para Dekan, pimpinan lembaga, dan Warek Akademik dan Kemahasiswaan Prof Dr Eng. Khairurrijal; dampingi Rektor Prof Dr Nyoman Pugeg Aryantha sua Bupati Lambar Parosil Mabsus di Bandarlampung, 6 Januari 2026.

Sepakat "mari bersulang", ITERA bakal dampingi Pemkab Lambar optimalisasi potensi daerah dan komoditas unggulan via penguatan program vokasi Sekolah Kopi Lampung Barat khususnya.

ITERA bakal besut program pendampingan tata kelola meliputi penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja, sertifikasi lulusan, penerapan teknologi guna roketkan nilai tambah produk kopi —dari budidaya, pengolahan pascapanen misal sangrai optimal, pengembangan produk inovatif, pemasaran. Sejalan kompetensi kedua Prodi.

Pakcik PM didampingi unsur Badan Riset dan Inovasi Daerah, berharap ITERA jadikan Lambar nan kaya potensi; selain kopi, energi panas bumi, kawasan lindung, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, wisata tematik, rencana bangun Suoh Geopark; sebagai lokus Tridarma. Berbasis nilai unggul kompetensi ITERA.

Rektor Pugeg —berdarah Bali nun muslim ini, seperanggukan. ITERA bakal all out. Kerja Tridarma bantu Lambar gali lebih dalam potensi, sejalan kompetensi sivitas.

Sadar, Sekolah Kopi Lambar: sekolah kopi pertama di Indonesia, basis vokasi industri perkopian rakyat pencetak kader terampil wirausaha tani kopi yang meletak di Pekon (Desa) Sukajaya Kecamatan Sumberjaya, diresmikan Bupati Kopi Parosil Mabsus, 29 Desember 2020 silam; sukses terus berkibar.

"Sekolah Kopi telah berjalan, menjadi modal dasar. ITERA akan dampingi penyusunan kurikulum berbasis teknologi serta sertifikasi peserta hingga lulusan memiliki kompetensi dan siap masuki dunia kerja,” lugas Pugeg, publik nantikan kibasan sentuhan rancaknya.

Bukannya apa, dengan status Indonesia: penghasil biji kopi terbesar ke-4 di dunia setelah Brazil (persisten 150 tahun terakhir, dominan Arabika), Vietnam (idem Indonesia dominan Robusta), dan Kolombia (dominan Arabika); dengan rerata produksi RI 762 ribu sampai 795 ribu ton per tahun (2020–2025, setara 7% produksi kopi dunia), dengan Lampung penghasil terbesar ke-2 Indonesia.

Kini kelak, afirmasi sentuhan ragam program strategis membumi peningkatan tata kelola, produktivitas pertanian dan industri kopi berbasis potensi dan SDM perkopian hingga mampu serap banyak tenaga kerja, hidupi ribuan orang agar bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah, senyatanya dibutuhkan.

Membersamai ekosistem kelompok tani kebun kopi, DUDI perkopian, enthusiast, komunitas kopi, roaster, cupper, barista, coffee shopper, esmud, periset kopi, komunitas rantau, pejabat pemerintah, BUMN/swasta peduli kopi Lampung, warga umum, dan media massa.

Hilirisasi industri perkopian Lampung yang buka perspektif kopi sebagai industri punya efek domino luas bagi kesejahteraan petani hingga industrialis hilir, perlu sentuhan tajam usaha pengendalian produksi dan strategi pengembangan agar terus bernilai tambah.

Sebagai ilustrasi, studi kasus melorotnya jumlah produksi kopi kabupaten surga kopi ini pada 2021 silam.

Saat itu dilaporkan produksinya cuma 43.715 ton biji kering dari luasan 48.736 hektar (Ha) lahan, kurang dari tetapan target produksi 60.950 ton dengan produktivitas 1,15 ton/Ha.

Data Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) setempat, capaian produksi 2021 ini turun 28,28 persen dengan tingkat produktivitas 897 kilogram/Ha, dibanding 2020 setotal 57.930 ton dari luas lahan 50.926 Ha dengan produktivitas 1,138 ton/Ha.

Komposisi, total luas lahan perkebunan kopi di kabupaten yang telah dijadikan lokasi peta tematik perkebunan kopi dan kakao nasional ini 51.867 Ha, dengan 48.738 Ha telah menghasilkan, 2.236 Ha belum menghasilkan, sisanya 895 Ha rusak (sudah tak berproduksi, mayoritas di lahan miring).

Usut punya usut penyebab turunnya, karena tingginya curah hujan saat penyerbukan bunga kopi berlangsung. "Saat proses pembuahan banyak yang rontok akibat tingginya curah hujan," ujar Kadisbunnak kala itu Yudha Setiawan, Maret 2022.

Demi roketkan kembali produksi kopi, Pemkab Lambar tetap memotivasi petani agar lakukan perawatan dengan baik dan maksi, salah satunya dengan pemangkasan, penyambungan, pemeliharaan tepat waktu, melakukan pendampingan atau bimbingan pengendalian hama dan penyakit, melalui sarana maupun melalui petugas penyuluh.

Lima tahun berselang, teranyar dari kebun, Pemkab Lambar yang beroleh bantuan 200 ribu batang bibit kopi program peremajaan tanaman dari Kementan 2025 lalu mulai menyalurkannya 2026 ini, bagian antisipasi potensi penurunan produksi Robusta.

Pemkab sebut ini kabar baik bagi petani ditengah tantangan perubahan iklim yang berefek besar terhadap produktivitas kebun.
Apatah lagi diperparah rerata usia tanaman tergolong tua: ditanam era 80-90an dengan jenis bibit yang beda dengan kebutuhan era kini era iklim serba anomali, era penyakit serba serbi.

Misal, perubahan temperatur dan tren pola hujan yang pengaruhi fase pembungaan dan pembuahan dalam proses pertanaman.

Berimbas seperti di Lambar, kuantitas dan kualitas hasil panen condong kian menurun. Umur pohon lampaui masa produktif ideal, berimbas produktivitas memburuk. Dari itu, langkah strategis jaga keberlanjutan via peremajaan tanaman ini jua bagian jawaban.

Demi Robusta Lampung tak tersisa barang seseruput sekalipun, tak lengkap tak ulas ciri khas, karakteristik Robusta Lampung yang top identik cita rasa unik, tekstur lembut, asam pahit seimbang, beraroma nikmat dengan sentuhan rempah dan cokelat.

Kontributor didgaya ekspor kopi Indonesia ini senada jenis Robusta RI lainnya, pertama, punyai ciri khas pahit yang kuat dan pekat.

Namun analisa coffee taste versi industrialis Triple Black Heaven Indonesia, sensasi rasa pahit Robusta Lampung, jua karena tingkat kafeinnya tinggi, kadar gulanya rendah.

Meski begitu kepahitan Robusta Lampung bisa dibilang lumayan seimbang dengan tingkat keasamannya, beri cita rasa balance antara pahit dan asam, membuatnya salah satu kopi yang cocok untuk lintas kalangan.

Kedua, padupadan aroma kecokelatan dan sedikit rempah pada kopi Robusta Lampung acap ditemukenali cenderung berasal dari ujud dihasilkan saat proses penyangraian (roasting) biji kopi mentahnya, yang hasilkan senyawa kompleks seperti melanoidin dan karamelisasi. Proses roasting lama, condong kian mengeluarkan aroma cokelatnya.

Sedang aroma rempah khasnya dipengaruhi faktor geografis dan kondisi tanah media tanam seperti vulkanik dan pegunungan Lampung. Aroma ini punya beberapa note seperti cengkeh, kayu manis, lada hitam; beri kompleksitas cita rasa, ciptakan rasa berlapis dan aftertaste kaya, tahan lama.

Ketiga, tekstur halusnya, meski secara umum Robusta dianggap lebih “kasar” dibanding Arabika, nun Robusta Lampung nan diproses tepat dapat miliki tekstur lebih halus lembut, membuatnya salah satu kopi paling diminati.

Pemengaruh kualitas kehalusan ini, dari teknik pemetikan, fermentasi, pencucian, hingga roasting. Pengolahan nan hati-hati bisa bantu kurangi karakter kasar yang biasa ditemui di Robusta, memungkinkan minyak alami pada biji kopi lebih terjaga, hasilkan tekstur halus. Penyangraian yang terlalu, sebabkan rasa lebih pahit, tekstur lebih kasar. Dari itu roasting dilakukan hingga level medium atau medium-dark demi pertahankan kekayaan rasa dan tekstur.

Dari sekian subjenis yang dimiliki hampir semua jenis kopi Indonesia, sedikitnya ada lima subjenis Robusta Lampung, menonjol.

Ada, Robusta Liwa asal Lambar, dikenal akan proses roasting mutakhir dan disebut tinggi kualitas dan cita rasa. Ada, Robusta 'Semut' dijuluki itu ulah bentuk cenderung kecilnya, umumnya lebih lezat dicampursaji Arabika.

Ada Robusta Lanang/Jantan, si biji bulat yang per dulu-sekarang acap diasosiasikan dengan mitos peningkatan maskulinitas pria.

Jua, Super Finest Robusta si empunya rasa intens diperkaya sentuhan aroma rempah, cokelat, keasaman lebih rendah dari jenis lain. Serta Robusta Grade ELB-350 dengan aroma segarnya, di jajaran Robusta disebut jenis dengan kualitas terbaik di Indonesia.

Akan halnya kampus lainnya, di dua pulau berbeda, bersambung. (Muzzamil)

Berita Terkini