HELOINDONESIA.COM -Ada berbagai pendapat mengenai kecenderungan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ke arah militeristik. Beberapa pengamat menilai ada indikasi ke arah sana, sementara pihak lain membantahnya.
Indikasi Potensi Militeristik:
1. Penunjukan TNI/Polri, Aktif / Purnawirawan dalam Kabinet:
Prabowo merekrut sejumlah kolega dan orang kepercayaannya yang berlatar belakang militer dan kepolisian untuk mengisi posisi strategis di pemerintahan, mulai dari menteri, wakil menteri, kepala badan, hingga penasihat khusus presiden.
"Karena Pak Prabowo juga seorang militer yang sangat memahami bagaimana perilaku dan memberikan komando atau perintah kepada bawahannya," kata Asrinaldi dikutip Suara.com, Kamis (24/10/2024).
Contohnya, Luhut Binsar Pandjaitan, Wiranto, Dudung Abdurachman menjadi penasihat khusus presiden dengan latar belakang TNI. Mayor Inf. (Purn) Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY selaku Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan; Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin selaku Menteri Pertahanan; Lettu Inf. (Purn) Sugiono selaku Menteri Luar Negeri; dan Letkol (Purn) M. Iftitah Sulaiman selaku Menteri Transmigrasi, hingga Mayor Teddy Indra Wijaya yang menjabat sebagaii Sekretaris Kabinet.
Selain itu, terdapat juga purnawirawan Polri seperti Budi Gunawan dan Tito Karnavian yang menduduki posisi menteri. Terkini adalah Mayjen TNI Novi Helmy Prasetya baru saja didapuk menjadi Komandan Jenderal Akademi TNI dan sekaligus menjabat Dirut Bulog.
2. Pembekalan Kabinet di Akmil:
Prabowo memilih Akademi Militer (Akmil) sebagai lokasi pembekalan para menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih[1]. Pakar semiotika dari ITB, Acep Iwan Saidi, menilai bahwa keputusan ini mengirimkan kode militeristik, di mana para menteri akan masuk ke dalam suasana militeristik[1].
3. Pengerahan Militer dalam Urusan Negara:
Prabowo mengerahkan kembali tentara ke dalam banyak urusan negara, seperti penanganan lumbung pangan, penertiban kawasan hutan, program makan bergizi gratis, dan penyelenggaraan haji.
Sanggahan Prabowo Terhadap Tuduhan Militeristik:
1. Keluar dari Militer 25 Tahun Lalu
Presiden Prabowo sendiri menegaskan bahwa dirinya tidak akan menggunakan gaya kepemimpinan militeristik. Ia menyatakan bahwa dirinya telah keluar dari militer selama lebih dari 25 tahun dan gaya kepemimpinan militeristik tidak lagi relevan.
"Anda tahu, saya sudah keluar dari militer selama mungkin lebih dari 25 tahun. Jadi menurut saya hanya itu yang Anda sebut militeristik, itu tidak relevan, itu tidak ada hubungannya dengan apa pun," ujar Prabowo, dikutip dari Suara.com.
2. The Military Way
Prabowo menekankan bahwa retret di Akmil lebih pada penerapan The Military Way, yang menekankan disiplin dan kesetiaan kepada bangsa dan negara, bukan untuk membuat anggota kabinet menjadi militeristik
Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan, Dedek Prayudi, juga menjelaskan bahwa penggunaan cara-cara militer oleh Prabowo tidak bisa dilepaskan dari aspek historisnya sebagai seorang yang pernah mengorbankan jiwa dan raga untuk bangsa
"Hal yang seperti inilah bahwa beliau pernah mengorbankan jiwa dan raganya untuk kepentingan bangsa. Inilah yang ingin ditularkan kepada para anggota kabinet," kata Dedek, dikutip dari Tribune.
Terlepas ada niatan Militeristik atau tidak, Militeristik punya sisi negatif dan positifnya sebagai berikut.
Positif:
- Keamanan & Stabilitas: Pemerintahan militer sering membawa ketertiban di negara yang mengalami kekacauan politik.
- Efisiensi & Ketegasan: Keberadaan militer dan peralatan ada menyebar rata di wilayah Indonesia. Distribusi cepat dan efisien. Keputusan juga bisa diambil cepat tanpa birokrasi panjang.
- Patriotisme & Nasionalisme: Fokus pada kepentingan negara dan persatuan nasional, siap untuk berkorban bagi bangsa
Negatif:
- Otoritarianisme: Potensi pelanggaran HAM dan pembatasan kebebasan sipil.
- Kurangnya Akuntabilitas: Pemerintah militer cenderung tidak transparan.
- Ekonomi & Inovasi Terhambat: Fokus pada kontrol, kebijakan represif bisa menghambat investasi, anggaran tinggi tersedot oleh militer.***
