Helo Indonesia

Berebut Pengaruh Jokowi, Prabowo dan Ganjar Disebut Sebagai Figur Lemah

Winoto Anung - Nasional -> Politik
Kamis, 31 Agustus 2023 08:50
    Bagikan  
Ganjar Pranowo, Prabowo
X / @saidiman

Ganjar Pranowo, Prabowo - Bakal capres Ganjar Pranowo dan Prabowo. Kolase foto. (Foto: X / @saidiman)

HELOINDONESIA.COM - Pidato Prabowo Subianto saat HUT ke-25 PAN Senin lalu, kembali menggelorakan tekadnya meneruskan program-program Presiden Jokowi.

Di sisi lain, Ganjar Pranowo juga berkeinginan sama. Singkat kata, kedua bakal capres, Prabowo dan Ganjar berebut pengaruh Jokowi, coat tail effect Jokowi.

Belum lagi soal perebutan Gibran Rakabuming, Putera Presiden Jokowi, untuk menjadi bakal cawapres, juga dilakukan kedua belah pihak. Dalam waktu yang sama, PDIP melalui Puan, mengatakan, membuka peluang Gibran  sebagai Bacawapres Ganjar.

Di berita lain, ada baliho bergambar foto Prabowo-Gibran di Labuhan Bajo, NTT. Bahkan, ada yang mengabarkan, mengabarkan, pasangan Prabowo-Gibran, sebentar lagi rampung.

Baca juga: Hasil Survei: PDIP, Golkar, Demokrat Alami Penurunan, Gerindra dan PKB Naik, Satu Parpol Diprediksi Keluar dari DPR

“Dua entitas politik papan atas, terlihat berebutan memasangkan Gibran sebagai Bacawapres. Kendatipun, dengan demikian, terlihat Bacawapres keduanya tampak premature,” ungkap pengamat ekonomi-politik Munir.

Menurutnya, sekilas terlihat, cepat-cepatan merebut Gibran sebagai Bacawapres, menggambarkan betapa dua entitas politik papan atas ini, begitu mudah bertekuk di bawah kekuatan pengaruh Jokowi. Meskipun sebentar lagi juga Jokowi hanya rakyat sipil biasa.

Padahal Gibran belum tentu menjadi mesin elektoral keduanya. Dalam berbagai survei, nama Gibran jarang muncul dalam bursa Bacawapres 2024. Namun gelagat Prabowo bersama Gibran, disusul Ganjar + PDIP, menggambarkan soal lain yang perlu diraba, apa gerangan?” ujarnya.

Baca juga: Persiapan Piala Dunia U-17, Erick Thohir Nilai Timnas Indonesia Alami Perkembangan Meski Kalah dari Korsel

“Bila yang dipertimbangkan adalah efek ekor jas Jokowi, mestinya Ganjar dan PDIP yang paling banyak mendulang Jokowi efek. Karena Jokowi kader PDIP dan sebagai endorser Ganjar,” lanjut dia.

Namun, dia menyebut, elektabilitas Ganjar yang mangkrak di bawah Prabowo dalam beberapa survei, menggambarkan, efek ekor jas Jokowi tak begitu ngefek ke elektabilitas Ganjar.

Sebaliknya, elektabilitas Prabowo yang berada di posisi puncak, diam-diam disebutkan sebagai Jokowi effect. Namun ini pun perlu disagregasi lebih detail, apakah elektabilitas Jokowi adalah limpahan dari Jokowi effect?

Baca juga: Bentuk Koalisi Indonesia Maju, Prabowo Dituding Cari Muka ke Jokowi Supaya Dapat Dukungan

“Menarik untuk menyimak hasil survei Indopol, bahwa sebesar 56,6 persen publik tidak akan memilih capres yang di-endorse Jokowi, dan hanya 19,3persen yang akan mengikuti pilihan Jokowi. Jadi Jokowi effect  atau efek ekor jas Jokowi, bukan variabel penentu kemenangan di Pilpres 2024,” ujar Munir lagi.

Apalagi efek ekor jas Jokowi, sangat mungkin tergerus oleh dinamika politik aktual. Dan seiring waktu, Jokowi influence bisa tergerus oleh posisi Jokowi sebagai lame duck alias bebek lumpuh.

Baca juga: Presiden Jokowi Kagumi Sekolah Gratis Rintisan Ganjar, Akan Diterapkan Nasional

“Menurunnya loyalitas pengikut dan degradasi pengaruh adalah factor yang bisa menyebabkan erosi terhadap efek ekor jas Jokowi,” tandasnya.

Berbeda dengan Anies R Baswedan

Menurut Munir, berbeda dengan bacapres Anies R Baswedan, kedua figur ini (Prabowo dan Ganjar) menjadi sangat bergantung pada Jokowi effect.

 Dengan demikian, statistik elektabilitas keduanya, adalah angka-angka yang belum mendekati realitas politik sesungguhnya. Belum ada suatu variabel yang persisten menegaskan kuatnya positioning figur Prabowo dan Ganjar.

Baca juga: KH Miftachul Akhyar: Dalam Sehari Semalam Ada Saat Mustajabah, Maka Jangan Berdoa yang Jelek, Bisa Jadi Malapetaka

Anies tidak ikut berebut pengaruh, dia mandiri, dan malah ada yang menyebut antitesa Jokowi. Anies teriak mengkritik kebijakan Jokowi. Sedangkan kedua bakal capres itu selalu memuji-muji.

“Dengan posisi Anies yang tidak di-endorse oleh Presiden dan infrastruktur kekuasaan di sekitar Presiden, posisi dan angka elektabilitas Anies, bisa dikatakan  mewakili kondisi faktual dukungan. Apalagi banyak sekali variabel pengganggu,” ujarnya.

Dari beberapa survei dalam lima bulan terakhir, rata-rata elektabilitas Anies adalah 24,2 persen. Tren elektabilitas hingga Juli 2023, menunjukan peningkatan. Elektabilitas Anies meningkat 4,2 persen dari sebelumnya, selama 4 bulan beruntun berada elektabilitas 20  persen.

“Tentu saja, dengan mengusung jargon Perubahan, Anies akan berlawanan dengan arus besar politik rezim yang berkutat pada status quo berkemasan ‘Lanjutkan’.  Tentu ini menjadi variabel pengganggu Anies, karena memiliki resources yang besar,” tutur Munir.

Dikatakannya, perebutan efek ekor jas Jokowi antara Prabowo dan Ganjar, sesungguhnya menggambarkan kelemahan kedua figur. Dan Anies yang melawan arus politik rezim dengan elektabilitas yang terus menanjak, menggambarkan kans Anies lebih baik dari Ganjar dan Prabowo. (**)