HELOINDONESIA.COM - Seorang kader GP Ansor dan Banser bernama Afif Fuad Saidi menjadi sorotan warganet setelah postingan menohoknya terhadap sekelompok orang yang menyeret-nyeret Nahdlatul Ulama (NU) untuk bersatu dengan PKS dalam merebut kekuasaan di Pilpres 2024.
Postingan yang diunggah akun medsos X (at)AfifFuadS pada Kamis (14/9/2023) itu memperlihatkan ketidaksukaannya mereka yang membawa-bawa NU bergandeng tangan dengan PKS dalam koalisi Perubahan Capres Anies Baswedan dan Cak Imin.
Dia mengingatkan tentang dawuh dari almarhum KHR. Fawaid As`ad Syamsul Arifin, putera kinasih almarhum KHR. As`ad Syamsul Arifin.
Menurutnya, dalam satu kesempatan, dawuhnya begini: “Billahi engkok ta` ride`, santrena Kiai As`ad nurok PKS”.
Baca juga: Mesin Super Kuat dan Desain Trendi, Begini Spek Uwinfly X6 Kendaraan Anak Muda Masa Kini
"Artinya, Wallahi saya tidak rido, ada santrinya Kiai As`ad yang ikut PKS," kata Afif.
Kemudian, lanjutnya, ada satu lagi dawuh yang disampaikan Kiai Marzuki Mustamar. Bunyinya begini: “Jika ada pengurus NU, Muslimat, Ansor dan Banom lainnya ikut PKS dan PAN, maka batal baiatnya.”
"Jika banyak yang bertanya kenapa bisa sampai beliau berdua dawuh seperti itu? Jawabannya jelas, ini semata-mata ideologi. Jika PAN jelas, lahir dari rahim Muhammadiyah yang berbeda dalam banyak hal furu`iyah dengan NU. Namun dengan PKS, kita paham siapa PKS? Siapa yang bisa membantah perkataan salah satu pendirinya, Yusuf Supendi," papar Afif.
Afif mengatakan bahwa Yusuf Supendi memastikan awal pendirian partai itu pada Juli 1998 dibantu oleh banyak tokoh Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir dan Timur Tengah.
"Jelas, PKS adalah ikhwanul Musliminnya indonesia, itu bukan saya yang bicara, namun salah satu pendirinya bahkan," kata Afif.
Baca juga: DPD RI Bustami dan Wamenaker Nilai Kuli Bongkar Muat Masih Penting
Afif pun mengatakan siapa saja mereka yang tergabung dalam Ikhwanul Muslimin.
"Cari saja, negara mana saja yang memasukkan IM sebagai kelompok teroris," tambahnya.
Secara idelogi, tuturnya, PKS berkiblat pada Ikhwanul Muslimin, dengan tarbiahnya misalnya.
"Kata Yai Fawaid, ideologi PKS itu mbahnya Wahabi," jelas Afif.
Afif mengingatkan bahwa PKS di tahun 2013 bersikukuh menolak asas tunggal Pancasila di RUU Ormas.
"Ya karena IM semangatnya adalah Islam berkuasa, tidak ada sekat2 nasionalisme, yang ada hanya ukhuwah Islamiyah. Makanya PKS cocok dengang HTI," tambahnya.
Kemudian, Afif mengingatkan juga ucapan Daniel Johan pada 2018 saat menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Daniel menegaskan, kultur dan ideologi NU sangat berbeda dengan PKS. Seperti minyak dan air, meski sama-sana benda cair tapi punya sifat yang berbeda.
Baca juga: Ridwan Kamil Ganggu Pencalonan Cagub Ahmed Zaki, Golkar DKI Meradang
Dia juga mengungkapkan soal hasil survei SMRC tahun 2017 bahwa 34,3 % simpatisan PKS setuju dengan perjuangan HTI.
"Tahun 2018 PKS mendukung HTI ajukan banding putusan PTUN. Lha itu semua apa tidak berbahaya? NU bukan atas dasar suka tidak suka pada PKS. Namun pada semangat ideologi kebangsaan memang sudah berbeda dengan apa yang diperjuangkan dengan NU selama ini bagi Indonesia. Bahkan sejak sebelum meredekanya bangsa ini," papar kader NU yang sudah menganut Islam rahmatan lil alamin sejak embrio.
Afif mengaku apa yang disampaikannya karena untuk menegaskan bahwa NU mejaga NKRI dan Pancasila.
"Yang dijaga adalah Bhineka Tunggal Ika, yang dijaga adalah Islam di Indoesia adalah islam yang ramah, menjadi payung teguh bagi saudara-saudara kita yang lain iman," urainya.
Afif heran dengan mereka yang memaksakan NU dengan PKS hanya karena soal elektoral politik (Pilpres 2024).
Baca juga: Gawat! Mendekati Laga Lawan Persija, Dua Pemain Andalan Persik Masih Belum Pasti Ikut Merumput
"Belum lagi soal bagaimana nyinyiran kebencian PKS pada NU, itu sudah tak terhitung jumlahnya. Sampai kadernya bikin hoaks ke Kiai Said Aqil saat menjabat Ketua Umum PBNU ya ada. Jika pemilu-pemilu lalu PKS hanya SKSD dengan NU, malah sekarang ada yang menyeret NU untuk bersatu dengan PKS merebut kekuasaan," jelasnya.
Afif menyesalkan hanya karena demi ambisi kekuasaan seseorang, sampai menggadaikan ideologi dengan bahu membahu dengan PKS yang jelas-jelas berlawanan arah dengan idelogi NU.
"Bukan soal kekhawatiran kemenangan mereka, mustahil dua ideologi berbeda bisa mendapatkan hasil elekotral yang maksimal jika tidak boleh dibilang mustahil," ujarnya.
Baca juga: Wow, Sultan Wajib Punya TV LG MAGNIT 118” 4K Ultra HD, Harganya Tembus Rp 3,5 Miliar
Akrabnya NU dengan PKS ini, sambung Afif, membuka ruang bagi mereka untuk masuk pada basis-basis NU, pesantren-pesantren NU, menggerogoti idelogi warga NU.
"PKS dianggap tidak berbahaya, menyusup, lalu merebut. Cukup sudah masjidnya saja yang mereka serobot. Ga bahaya ta?" tandasnya.