BATANG, HELOINDONESIA.COM - Sebentar lagi, sebuah ikon budaya di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yaitu tradisi Nyadran Gunung Silurah di Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, akan digeber pada 28-30 November 2024.
Nyadran Gunung Silurah merupakan ritual yang khas dan sudah ratusan tahun terselenggara di Desa Silurah. Tradisi ini diadakan setiap Jumat Kliwon setiap bulan Jumadil Awal .
Tradisi yang juga disebut Jumadilawan Nyadran Gunung Rogo Kusumo tersebut juga merupakan wisata budaya yang masuk dalam Calendar of Event Disporapar Jawa Tengah.
Baca juga: KPU Kendal Distribusikan Logistik Pilkada, Lima Kecamatan Diprioritaskan
Acara tersebut identik dengan kirab hasil bumi, tanam pohon, penyebaran benih ikan, dan pentas seni seperti ronggeng dan wayang kulit yang digeber siang dan malam dengan lakon berbeda.
Menurut Kades Silurah Suroto, pada hari pertama Kamis (28/11) malam diadakan tasyakuran dan sarasehan. Pada hari itu digelar Baritan (selamatan malam Jumat Kliwon), pemutaran film Nyadran Gunung, dan penyerahan sertifikat Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, serta kesenian kuda lumping.

Selanjutnya mulai pukul 00.00, diadakan acara melakukan ider-ider desa atau mengelilingi desa sambil memanjatkan doa yang dipimpin kepala desa dan sesepuh yang ditokohkan.
‘’Kegiatan ini diikuti perangkat desa dan warga. Akan ada sambutan dan doa. Intinya agar desa Silurah dijauhkan dari bala bencana,’’ kata Suroto kepada Heloindonesia.com, Jumat 22 November 2024.
Sedangkan keesokan harinya Jumat (29/11) mulai pukul 06.00 – 11.00 WIB ada penyembelihan hewan. Menurut Suroto, tahun ini berbeda. Jika setiap tahun ada penyembelihan kambing kendit (kambing berbulu hitam dan ada warna putihnya di beberapa bagian), namun kali ini yang dipotong kebo bule atau kerbau bule karena memasuki tahun ketujuh. Artinya setiap tujuh tahun sekali kambing diganti dengan kebo bule.
Baca juga: Samsara, Film Bisu tentang Ritual Cinta Mistis di Bali yang Borong Piala Citra
Sebelumnya kebo bule diarak keliling desa. Setelah dipotong di kaki Gunung Rogo Kusumo, daging kebo bule dijadikan sesaji dan lainnya dimasak untuk disantap bersama warga. Sesaji inilah yang dibawa sesepuh adat ke atas gunung diiringi gendhing-gendhing Jawa. Terdapat titik-titik tertentu di gunung ini sebagai tempat untuk berdoa.
‘’Sembari menunggu hidangan, sesepuh, tokoh desa bersama perangkat dan warga naik ke gunung membawa sesaji untuk memberikan penghormatan dan mendoakan leluhur, juga kepada Sang Maha Pencipta atas keberkahan yang diberikan berupa hasil bumi, tanah, dan air,’’ tambahnya.
Dijelaskan dia, di luar acara kesakralan tersebut, ada rangkaian kegiatan agenda lain seperti penanaman pohon. Kegiatan ini, kata dia, bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat agar warga menjaga kelestarian alam.

Sedangkan hari terakhir Sabtu (30/11), berisikan pagelaran seni budaya. Diantaranya Tari Kolosal Nyadran Gunung dan gamelan Silurah.
Dia menambahkan tema dalam tradisi Nyadran Gunung Silurah ini adalah ‘’Merayakan Warisan Budaya Tak Benda’’. Kebetulan tahun 2024 ini, tradisi mendapatkan sertifikat Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Kementerian Kebudayaan RI.
"Nyadran Gunung Silurah boleh disebut momentum berkumpul bagi warga sekaligus mengenalkan Desa Silurah kepada dunia," ujarnya.
Bangga
Seperti dikutip dari laman rri.co.id, Bambang Suryantoro, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang mengaku bangga, tradisi ini diakui secara nasional, karena ini bukan hanya ritual, tetapi juga warisan untuk generasi mendatang.
Dijelaskan dia, tujuan tradisi Nyadran Gunung Silurah adalah mempererat kebersamaan masyarakat, menjaga hubungan dengan alam, dan mengenang jasa leluhur.
Selain itu, acara ini juga menjadi sarana promosi potensi desa dengan berbagai kegiatan seni budaya seperti pertunjukan musik tradisional dan bazar kuliner khas daerah seperti Gones, Teh Sangan, kopi, Nasi Jagung Sambal, dll. (Aji)
