HELOINDONESIA.COM -Proses asimilasi kultural antara budaya Tiongkok dan budaya Melayu di abad 14 hingga 16 Masehi meninggalkan jejak sejarah dengan adanya tradisi Kesehatan Peranakan Semarang.
Pakar Gizi, Dr med Dr Maya Surjadjaja, dari International Anti Aging Fellowship seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Selasa (28/1/2025) mengungkapkan bahwa kultur Peranakan Semarang ini juga sebetulnya sangat menyatu dengan anti aging.
"Dengan apa yang kita sebut sebagai pilar-pilar nutrisi, olahraga, pilar hormon dan tentunya bagaimana regeneratif atau dengan Stem Cell," tambahnya.
Dengan melestarikan budaya Peranakan Semarang, menurut Dr Maya, dapat memperoleh manfaat kesehatan dan manfaat lainnya yang secara kultural.
Baca juga: Rumah Kepala Inspektorat Tuba Dibobol Maling, Emas Senilai Rp3, 5 M Raib
"Ketika membahas Peranakan story kita nggak mungkin cerita peranakan kalau tidak tahu story nya peranakan itu seperti apa," ujarnya.
Alasan mengapa Peranakan disebut sebagai Peranakan Semarang karena memang sejarah lahirnya tradisi ini dari Semarang.
"Nah story dari Peranakan kalau kita bilang peranakan, orang yang nggak ngerti dikiranya peranakan itu turun, peranakan "ngenshot", peranakan tubuh, uterus tempat lahirnya," cetusnya.
Ditegaskan Dr Maya bahwa Peranakan itu ada di Indonesia juga dan sebagai tempat lahirnya di Kota Semarang.
Baca juga: FKPPIB Apresiasi TNI-Polri Bebaskan Lahan PTPN dari Mafia Tanah
"Spa peranakan, apa sih sebetulnya healing filosofi dari peranakan itu. Karena setiap etnik pasti ada filosofi yang yang mendasarinya," ujarnya.
Tentu saja, karena bicaranya story dari Peranakan, tentunya bicara confinement. Di situ ada untuk mom berupa teknik scrub, massage, bath dan wrap.
"Untuk baby-nya bagaimana dengan mandinya, massage bayinya kemudian bagaimana breast feedingnya. Ditambah juga makanan-makanan apa yang disiapkan untuk ibu-ibu pada masa nifas," paparnya.
Menurutnya, banyak peninggalan jejak sejarah dan tersisa hingga kini tentang budaya Peranakan Semarang.
Baca juga: FKPPIB Apresiasi TNI-Polri Bebaskan Lahan PTPN dari Mafia Tanah
Ini bisa dilihat dari sebuah rumah sejarah peninggalan budaya Peranakan. Di sebuah rumah yang menjadi story dari Peranakan itu akan terlihat banyak porselennya.
"Biasanya dihiasi keramik yang bercorak warna ceria, warna merah, kuning dan ada hijaunya. Dan bisa dilihat di sini, nyonya atau nonanya duduk di hallnya. Karena mereka biasa mempunyai hall yang besar," terang Dr Maya.
Kemudian juga rumah tersebut hiasannya sangat kental pengaruh Tiongkoknya.
"Tapi jangan salah bajunya ini sudah baju mix. Bukan baju Tiongkok lagi. Artinya sudah akulturasi budaya dengan budaya lokal," ungkap Dr Maya.
Baca juga: PWI DIY Tegak Lurus ke Hendry Ch Bangun, Pastikan Hadiri HPN 2025 di Banjarmasin Kalsel
Jadi, lanjutnya, Peranakan Story adalah pengaruh dari Tiongkok dan itu dimulai dari 2000 tahun lalu.
"Jika melihat di Malaysia, Singapur, Filipina dan beberapa tempat, kita culturenya unique vibrant. Sehingga ada pengaruh Eropa. Bisa dilihat ada karangan bunganya dari kultur Eropa," tambahnya.
Jadi Peranakan ini, sambung salah satu aktivis di Indonesian Wellness Master Association (IWMA) sebetulnya mengadopsi beberapa kultur, tapi yang bagus-bagus.
"Karena terabsorsi pada waktu itu menjadi kohesif, united, dan menjadi satu dengan identitas Peranakan itu sendiri," katanya.
Baca juga: Satu Komando ke Hendry Ch Bangun, PWI Kaltim Bawa 55 Pengurus Hadiri HPN Kalimantan Selatan 2025
Dikatakan Dr Maya, di abad 15 di Semenanjung Malaysia, ada banyak kerajaan. Banyak kota-kotanya. Misalnya Siam (Thailand) dan mereka itu punya relasi dengan Tiongkok.
Kemudian di Jawa, saat Admiral Cheng Ho, Chinese muslim datang ke Malaka dan Jawa dari tahun 1405-1433 dengan menggunakan kapal.
Dan tahun 1459, kerajaan dari China memberikan satu princes pilihan bernama Hang Li Po sebagai hadiah kepada Sultan Malaka.
Dikutip dari Malay Annals, Hang Li Po dikirim oleh Dinasti Ming untuk menikahi Sultan Malaka bernama Mansur Shah.
Baca juga: Tetap Solid dan Satu Komando ke Hendry Ch Bangun, PWI Bengkulu Siap Hadiri HPN Kalsel 2025
"Hang Li Po ini bukan datang sendiri. Princes nya dikirim dengan juga membawa bangsawan dan pembantunya. Jadi datang sepaket," ujarnya.
Dan Hang Li Po ini beranak pinak dan memberikan keturunan-keturunan, sehingga menjadi ras tersendiri.
"Itulah yang dinamakan Peranakan.Dan terjadilah asimilasi budaya. Dan peranakan-peranakan ini pun terjadi migrasi antara Indonesia, Malaysia dan Singapura. Dan mereka memiliki kultur Peranakannya yang sama banget," ujarnya.
Di Indonesia, term ini sudah dipakai untuk keturunan di abad 16. Mereka datang ke Nusantara dan mereka sangat social pervilage, kelasnya lebih tinggi dan disebut cabang atas.
Baca juga: DeepSeek Aplikasi asal China Mengguncang Sektor AI Amerika
Karena waktu itu ras Peranakan mengikuti sistem politik dan ekonomi pemerintahan yang ada. Kalau di Malaya tinggal di rumah-rumah British.
"Karena memang sosial ekonominya lebih baik dan di beberapa lokasi yang lain. Dan mereka mengadopsi kultur Nusantara secara custom dan berasimilasi sehingga menjadi budaya khas yang disebut Peranakan," tandasnya.
