LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Ketua Umum Dewan Kesenian Lampung (DKL) Prof. Dr Satria Bangsawan. SE, Msi membuka Pameran Seni Rupa "Pamer Pamor" di Gedung DKL, PKOR Wayhalim, Kota Bandarlampung, Sabtu (29/11/2025).
Pada saat pembukaan pameran, Edy Samudra Kartagama yang berjuluk "Nabi Sastra" menghangatkan suasana lewat pembacakan puisi karyanya: Teka Teki di Sudut Ruang dan Marsinah dalam Nyanyian Sunyi.
Baca juga: Pamer PAMOR 46 Lukisan Masa Kini di Gedung DKL Lampung
Para sesepuh seni rupa daerah hadir pada pembukaan pameran, antara lain Pulung Swandaru, Helmy Azeharie, dan dr. Wiradi. Dari Pemprov Lampung, ada wakil dari Perpustakaan Daerah, Dinas Pariwisata, dan UPTD Taman Budaya Lampung.
Menurut Ketua Panitia Damsi Tarmizi, pameran kali ini merupakan presentasi lintas generasi, berbagai aliran, dan teknik. Perupa luar daerah yang berpartisipasi datang dari Kalimantan Timur, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Jambi dan Bengkulu.
"Karya-karya mereka sangat kuat dengan konsep karya, teknik penggarapannya, hingga memunculkan pamornya," katanya.
Ketua Komite Seni Rupa DKL Sapto Wibowo menambahkan pameran kali 46 karya seni terdiri dari 43 karya lukis dan 4 karya instalasi mengutamakan kwalitas, bukan kwantitas.
Baca juga: Perupa Menjelajah Waktu Lewat Pameran Lukisan Pamor DKL
Keempat karya instalasi yang: Retak karya Dewa Nizar, Siapa Kita karya Ari Susiwa Manangisi, The Dialogue karya kolaborasi Alif Priyono dan Nizar, Bermuara ke Tanah Sumatera karya kreatif kolaborasi "art corner."
David sebagai kurator pameran menjelaskan karya-karya yang sedang dipamerankan cukup seimbang, mulai dari karya-karya kontemporer, realisme, naturalisme, instalasi, dan kekinian/pop art, mulai dari pelukis profesional hingga pelukis muda.
Mereka semua hadir dalam satu ruang presentasi karya dengan satu tujuan menampilkan pamor dari karya-karyanya, jelasnya. Dia juga melihat apresiasi masyarakat Lampung tumbuh didominasi oleh para mahasiswa.
"Semoga kedepan apresiasi masyarakat luas khususnya masyarakat Lampung apresiasi terhadap karya seni bukan hanya berkunjung saja tapi mengkoleksi karya-karya yang dipamerakan," pungkasnya. (Rls/HBM)
---
-
