OLEH DAVID*
KARYA SENI terus berkembang hingga menyusup ke seni rupa. Para seniman melahirkan goresan-goresan jejak seni rupa dari tahun ke tahun. Lewat Pameran Lukisan "Pamer Pamor", dinamika itu akan terlihat di Gedung Presentasi Dewan Kesenian Lampung (DKL), 29 Nov hingga 4 Des 2025.
Karya seni terus berkembang dari generasi ke generasi, dari tahun ke tahun dengan kekhasan dan isme yang berbeda-beda. Namun, dinamika itu tetap membutuhkan keseimbangan dan kesetaraan agar melahirkan harmonisasi, dalam ruang pameran.
Hal ini perlu managemen pameran agar terlaksana dengan baik mulai dari tematik, penelaahan penciptaan karya seni, butuh waktu yang tidak sebentar, penghayatan, pendalaman, penglihatan secara seksama agar dapat memperlihatkan dinamika jejak karya seni rupa.
Sejak pemikiran modern mulai berkembang di Indonesia awal Abad ke-20, beberapa perupa memilih untuk benar-benar meninggalkan tradisi meski dialektikanya tidak lantas mematikan kesenian lama bahkan terus berkembang dengan teknik dan ismenya.
MENJELAJAH
“Pamer Pamor” menjelajah waktu dengan berbagai dinamika yang ada dengan kesetaraan dan satu tujuan membentuk ekosistem seni rupa di Provinsi Lampung. Euforia presentasi karya, berpameran dengan kerja-kerja kolektif cukup membaik dengan hadirnya karya-karya perupa muda .
Mereka membentuk keseimbangan lintas usia, kesetaraan dalam ruang apresiasi tidak membedakan latar belakang pendidikan, akademi. Berbagai isme/aliran karya dua dimensi membentuk “Pamer Pamor” yang bukan sekadar garis, warna dan makna.
Seni rupa bukanlah praktik di ruang kosong. Disadari atau tidak, praktik seni rupa niscaya menimba inspirasinya dari kenyataan sekitar dan karenanya setiap karya seni merupakan reservoir dari kesan sang perupa terhadap lingkungannya.
Atas dasar itu, karya seni rupa selalu dapat didekati sebagai dokumen sosio-historis. Di sana kita temukan kegelisahan batin sang perupa dan harapan tersembunyinya atas dunia yang ia hidupi, baik itu dunia perupaan yang sempit maupun dunia sosial yang lebih luas.
Karya seni adalah sumber sejarah.
Capaian-capaian karya seni yang di pamerkan tentu saja bukan hal tentang sold/terjual”, tetapi bagaimana karya seni tersebut terapresiasi dengan baik dengan kunjungan-kunjungan masyarakat pecinta seni sehingga terbentuk dialektika antara apresiator dan karya seni dalam satu ruang presnetasi sehingga terapresiasi dengan baik karya tersebut.
Fenomena baru dikalangan masyarakat umum, dengan hadirnya kegiatan pameran seni rupa pada umumnya ruang pamer dijadikan ajang menciptakan konten oleh sang creator untuk mendapatkan moment-moment sesaat, untuk mendapatkan viewer, like dan komen dimedia sosialnya, bukan menjadi ajang riset tentang kekaryaan, proses perjalanan membentuk kanvas kosong menjadi karya seni yang bernilai tinggi.
Namun hal tersebut menjadi dokumentasi dan kebanggan tersendiri bagi kalangan perupa secara tidak langsung, dengan karya seninya terekspose dimedia social, namun secara tidak langsung tidak disadari tentang bahaya yang mengancam karya tersebut, tergores, tersentuh oleh masyarakat yang tidak faham tentang SOP dalam ruang pameran.
Waktu
Waktu terus berjalan sesuai pada porosnya, seni rupa Lampung terus berproses menciptakan moment-moment sejarah seni rupa, pendanda dan goresan-goresan penciptaan karya seni terus dilakukan, me-regenerasi dari tahun ketahun selalu berubah-ubah dengan ke-khasan dan isme yang berbeda-beda.
Era tahun 90 an dengan pendekatan karya – karya kontemporer pada zamannya, masuk era 2000 an muncul perupa-perupa muda yang asik bermain-main di isme realisme dengan visual pendekatan naturalism, kini di era digitalisasi muncul kembali karya-karya kontemporer dan suryalisme di era perupa –perupa muda dengan sentuhan dan konsep teransformasi budaya.
Namun dibalik semua itu sangat minim keberadaaanya yang disebut sebagai kolektor seni untuk menciptakan, keseimbangan dan kesejahteraan bagi perupa yang terus menciptakan, menggoreskan sejarah untuk Provinsi Lampung yang kita cintai ini.
Padahal berkembangnya kesenian lebih terkhusus seni rupa disebuah daerah harus ada keseimbangan antara creator dan kolektor yang menopang pergerakan kesenian dalam penciptaan karya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai karya seni, mengapresiasi karya seni dengan mendukung mengkoleksi karya tersebut.(*)
* Kurator Seni Rupa Lampung
-
