Helo Indonesia

UBL Dorong Lampung Jadi Pelopor Talent Matching Ecosystem di Indonesia

Prty - Teknologi
1 jam 42 menit lalu
    Bagikan  
UBL Dorong Lampung Jadi Pelopor Talent Matching Ecosystem di Indonesia

Prof. Dr. Ir. M. Yusuf S. Barusman, MBA,

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ----Universitas Bandar Lampung (UBL) mendorong Lampung menjadi pelopor pengembangan Talent Matching Ecosystem di Indonesia. Gagasan ini menekankan pentingnya perubahan paradigma pendidikan nasional, dari sekadar menghasilkan lulusan menjadi sistem yang mampu menemukan, mengembangkan, dan mencocokkan talenta anak bangsa dengan masa depan yang tepat.

Gagasan tersebut disampaikan Rektor Universitas Bandar Lampung, Prof. Dr. Ir. M. Yusuf S. Barusman, MBA, dalam paparan bertajuk “Membangun Pendidikan Holistik Melalui Talent Matching Ecosystem: Menyiapkan Generasi Indonesia Emas 2045” pada Lampung Post Executive Forum II 2026, Kamis, 18 Juni 2026, di Gedung Mahligai Agung Pascasarjana UBL.
Forum yang mengangkat tema “Meningkatkan APK Pendidikan Tinggi Lampung Menuju Indonesia Emas 2045” itu turut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A.

undefined

Dalam paparannya, Prof. Yusuf menegaskan bahwa tantangan pendidikan Indonesia tidak lagi cukup dijawab dengan memperbanyak jumlah lulusan. Pendidikan, menurutnya, harus mampu memastikan setiap lulusan memiliki kompetensi, karakter, dan kecocokan talenta dengan kebutuhan industri serta arah pembangunan nasional.

Menurutnya, persoalan pendidikan hari ini tidak hanya terletak pada angka kelulusan atau perluasan akses, tetapi juga pada ketidaksesuaian antara pendidikan, pilihan karier, dan potensi individu. “Banyak anak berhasil lulus, tetapi belum berhasil menemukan dirinya. Inilah akar persoalan yang harus kita jawab bersama,” ujar Prof. Yusuf.

undefined

Ia menjelaskan, Indonesia saat ini menghadapi triple mismatch, yakni education mismatch, career mismatch, dan talent mismatch. Kurikulum belum sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan industri, pilihan jurusan tidak selalu berujung pada karier yang relevan, sementara bakat dan kekuatan unik peserta didik belum teridentifikasi secara sistematis.

Kondisi tersebut berdampak pada tingginya tantangan pengangguran terdidik dan rendahnya produktivitas sumber daya manusia. Dalam materi yang dipaparkan, disebutkan bahwa meskipun Indonesia memiliki jutaan angkatan kerja produktif, dunia usaha dan industri masih menghadapi kesulitan menemukan kandidat yang sesuai dengan kebutuhan.

“Persoalan utama bukan sekadar kekurangan sumber daya manusia, tetapi kekurangan talenta yang tepat untuk menjawab kebutuhan zaman,” tegasnya.
Bagi Lampung, tantangan tersebut dinilai semakin strategis. Sebagai pintu gerbang Sumatera dengan populasi lebih dari sembilan juta jiwa, Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan talenta. Namun, daerah ini masih menghadapi persoalan talent outflow, yakni ketika anak-anak terbaik Lampung melanjutkan pendidikan atau bekerja di luar daerah dan tidak kembali membangun daerah asalnya.

Selain itu, angka partisipasi kasar perguruan tinggi Lampung disebut masih berada pada angka 24,38 persen, di bawah target nasional pemerintah sebesar 32,85 persen. Kondisi ini menunjukkan masih banyak lulusan SMA/SMK yang belum melanjutkan pendidikan tinggi atau mengikuti pelatihan kompetensi lanjutan.

Prof. Yusuf menilai rendahnya partisipasi pendidikan tinggi tidak selalu disebabkan oleh keterbatasan kampus atau biaya. Akar persoalan yang lebih mendasar adalah belum kuatnya kesadaran siswa terhadap hubungan antara potensi diri, pilihan pendidikan, profesi, dan masa depan. “Pendidikan tinggi harus mampu menjawab pertanyaan besar anak muda: siapa dirinya, ingin menjadi apa, dan mengapa pendidikan penting bagi masa depannya,” katanya.

Sebagai solusi, UBL mendorong penguatan Talent Matching Ecosystem, yaitu sistem terintegrasi yang menghubungkan potensi siswa dengan jalur pendidikan, pilihan profesi, kebutuhan industri, dan pembangunan daerah.
Ekosistem ini dirancang agar setiap anak tidak hanya belajar, tetapi juga mampu memahami bakat, karakter, aspirasi karier, serta jalur pengembangan dirinya secara lebih terarah.

Konsep tersebut dibangun melalui empat tahapan utama. Pertama, Lampung Talent Mapping, yakni pemetaan bakat, karakter, dan minat karier siswa SMA/SMK sejak kelas X. Kedua, Career Discovery Program bagi siswa kelas XI untuk membantu mereka menyusun peta jalan karier personal.
Ketiga, Talent Matching Platform, yaitu platform digital provinsi yang memberikan rekomendasi jurusan, sertifikasi, magang, hingga profesi masa depan berbasis data talenta. Keempat, pembentukan Lampung Talent Ecosystem yang melibatkan pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, industri, dan dunia usaha.

Dalam ekosistem tersebut, pemerintah berperan sebagai orkestrator kebijakan, sekolah menjadi pusat penemuan talenta, perguruan tinggi bertindak sebagai akselerator pengembangan talenta, industri menjadi pengguna sekaligus perancang bersama kurikulum, dan dunia usaha berperan sebagai investor pengembangan sumber daya manusia.

Prof. Yusuf menegaskan bahwa abad ke-21 menuntut pendidikan yang lebih holistik. Jika abad ke-20 merupakan era pemerataan akses pendidikan, maka abad ke-21 harus menjadi era pemerataan kesempatan bagi setiap anak untuk menemukan dan mengembangkan talentanya.

“Pendidikan masa depan bukan lagi tentang membuat semua anak belajar hal yang sama, tetapi membantu setiap anak menemukan siapa dirinya, mengembangkan potensinya, dan menghubungkannya dengan masa depan yang paling tepat,” pungkasnya.

Melalui gagasan Talent Matching Ecosystem, UBL mendorong Lampung menjadi daerah pelopor dalam pengembangan talenta berbasis data di Indonesia. Model ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi unggul, produktif, dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045.(rls)