LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Duet dua putra Provinsi Lampung, Fikri Yasin dan Rudi Setiawan, mengagetkan Indonesia atas ketegasan keduanya membongkar persoalan fasilitas khusus di Lapas Kelas IIA Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Anggota Ombudsman RI Fikri Yasin merupakan kelahiran Lampung Timur, sedangkan Inspektur Jenderal Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Rudi Setiawan kelahiran Kalianda, Lampung Selatan.
Dua daerah itu bertetangga, sama-sama berada di bagian timur dan selatan Provinsi Lampung, tetapi jejak pengabdian keduanya membawa nama daerah itu hingga ke panggung nasional.
Episode ini dimulai Fikri, Rabu (23/9/2026), berkat gebrakannya dengan anggota Ombudsman RI lainnya untuk mengetahui rahasia besar yang disembunyikan para pejabat di balik Lapas Kelas II A Cibinong. Temuannya luar biasa, fasilitas "sultan" bagi para napi tajir.
Indonesia langsung hiruk-pikuk, para pejabat terkait terkesan mati-matian menutupinya, Rudi Setiawan datang langsung "menyapu" para jagoannya. Lima pejabat langsung dinonaktifkannya, 52 warga binaan dan 54 pegawai lapas diperiksa.
Langkah Rudi tak berhenti sampai di situ. Dia mengatakan akan mengejar sampai ke akar-akarnya tentang 13 rumah berfasilitas bak apartemen sampai ke mendadak lenyapnya semua fasilitas tersebut dalam waktu semalam.
Rudi Setiawan ingin tahu siapa yang memindahkan dan atas perintah siapa? Fikri Yasin tak kalah tegas. Dirinya siap untuk bertarung membuktikan adanya fasilitas mewah bagi napi tajir di Lapas Kelas II A Cibinong.
Saat penggerebekan, Fikri Yasin dan kawan-kawan menemukan narapidana di dalam bangunan mewah tersebut, salah satunya diduga Jimmy Masrin pada Rabu (23/9/2026). Ia terlihat dalam rekaman sidak bangunan menyerupai apartemen di kawasan lapas.
FIKRI YASIN
Fikri Yasin, S.I.Kom., M.I.Kom. lahir di Lampung Timur pada 10 Agustus 1971. Sebelum dipercaya masuk ke lembaga pengawas pelayanan publik, Ombudsman RI, memiliki pengalaman di pemerintahan dan organisasi kemasyarakatan: tenaga ahli di MPR RI, Wasekjen DPP PAN.
RUDI SETIAWAN
Komjen Pol. Dr. Rudi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H. lahir di Kalianda, Lampung Selatan, 9 November 1968. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian 1993 dan kemudian menjalani perjalanan panjang di bidang reserse dan penegakan hukum.
Karier Rudi antara lain pernah membawanya menjadi Kapolres Indramayu, Metro Bekasi Kota, Kapolrestabes Surabaya, Wakapolda Lampung, Wakapolda Sumatera Selatan, hingga Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK.
Ia kemudian dipercaya menjadi Kapolda Jawa Barat sebelum pada 15 Juli 2026 dilantik sebagai Inspektur Jenderal Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Pada Juni 2026, Rudi juga naik pangkat menjadi Komisaris Jenderal Polisi.
Dari Lampung, Berhadapan dengan Persoalan Cibinong
Dua putra Lampung itu kemudian bertemu dalam satu episode yang sama. Fikri berada di garis depan pemeriksaan Ombudsman terhadap kondisi Lapas Cibinong, sedangkan Rudi, sebagai Irjen Kemenimipas, berada dalam posisi melakukan pengawasan internal atas jajaran kementeriannya.
Ombudsman menyebut menemukan lebih dari 10 bangunan di kawasan lapas yang diduga dihuni warga binaan, dengan salah satu bangunan memiliki ruang tamu, kamar, televisi, kulkas dan fasilitas lainnya. Temuan tersebut kemudian menjadi perhatian publik dan ditindaklanjuti dari sisi internal Kemenimipas.
Dari Lampung Timur dan Lampung Selatan, dua nama itu kini berada pada dua jalur pengawasan yang berbeda. Fikri membawa mandat Ombudsman untuk mengawasi pelayanan publik, sementara Rudi membawa mandat pengawasan internal Kemenimipas.
Di Cibinong, kedua jalur itu bersinggungan pada satu pertanyaan besar: bagaimana fasilitas khusus bagi warga binaan bisa muncul, siapa yang mengetahui, dan bagaimana pengawasan berjalan sebelumnya?HBM
NAPI TAJIR
Di lapas tersebut, ada juga setidaknya napi tajir lainnya, yakni Ferdy Sambo (eks Kadiv Propam Polri), Kuat Ma'ruf (terpidana pembunuhan Yosua), Ricky Rizal (terpidana pembunuhan Yosua), Harvey Mois (terpidana korupsi dan TPPU), Surya Darmadi (terpidana korupsi dan TPPU), Aulia Imran Maghbbi (suap eks Dirjen Pajak), Winoto Kartono Then (kasus pemalsuan dokumen), Rochmadi Saptogiri (eks auditor BPK), Agus Winoto (eks Aspidum Kejati DKI), Andra Yastrialayah Agussalam (eks direktur Keuangan PT Angkasa Pura II), Suharjito (siap Edy Prabowo), Rizal Djalil (eks anggota BPK), I Ketut Suarbawa (eks pejabat Wijaya Karya) Elviyanto (kasus suap bawang putih), Rahmat Effendi alias Pepen (eks wali Kota Bekasi), Suparta (eks Dirut PT Refined Bangka Tin), Sintang Coin Manurung (eks Kepala Kantor Pertanahan).