Banyak Siswa Terdampak Konflik Pulau Rempang, Komnas HAM Gelar Investigasi di Sekolah

Sabtu, 16 September 2023 16:26
(Doc. Komnas HAM Foto : Ist

HELOINDONESIA.COM - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akan mengerahkan enam orang buntut bentrokan warga warga dengan petugas gabungan pada proses pengerjaan proyek strategis nasional (PSN) Rempang Eco-City di Tanjung Kertang, Kota Batam, Kepulauan Riau, Senin (7/9).

Nantinya tim Komnas HAM akan melakukan investigasi dan verifikasi laporan terkait adanya korban siswa dalam bentrokan tersebut.

Komisioner Mediasi Komnas HAM Prabianto Mukti Wibowo mengatakan, langkah investigasi dilakukan setelah pihaknya menelaah dan memverifikasi kejadian pada tanggal 7 September 2023 itu. 

Komnas HAM rencananya akan langsung menuju SMP Negeri 22 Batam dan SD Negeri 24 Galang, yang mana siswanya ada yang menjadi korban gas air mata pada saat kejadian.

Baca juga: Menuntut Penyelesaian Konflik di Tanah Rempang Galang, Begini Sikap dari Organisasi Bangsa Melayu

"Kejadian itu berdmpak juga pada para siswa dari yang kami ketahui lewat media massa. Selain itu kami juga mendapat laporan dari masyarakat, bahwa banyak siswa SMP dan SD terkena gas air mata. Hal ini menimbulkan traumatik kepada siswa," ujar dia dalam keteranganya, Sabtu.

Dia menjelaskan untuk mengetahui apakah ada pelanggaran dalam kasus tersebut, pihaknya sudah kepala sekolah maupun guru yang mengajar di sekolah tersebut.

Setelah itu, kata dia, pihaknya akan berkordinasi dengan pihak kepolisian terkait tindakan apa yang harus dilakukan Komnas HAM.

Baca juga: Laskar Lampung Kecam Relokasi 7500 Warga Pulau Rempang Usai Jokowi Pulang dari Cina

"Setelah mendapatkan penjelasan langsung dari kepala sekolah dan guru, nanti kami akan mendiskusikan dan membicarakan dengan Kepolisian terhadap tindakan yang dilakukan. Apakah ini dibenarkan sesuai SOP (standar operasional prosedur), apakah ini ada pelanggaran, ini membutuhkan penyelidikan lebih lanjut," kata dia.

Sementara, Komisioner Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM Putu Elvina mengajui trauma healinmg sudah pernah diberikan oleh pihak Kepolisian kepada para siswa yang menjadi korban gas airmata.

Namun imbuh dia, trauma healing yang hanya dilakukan satu kali Belum cukup untuk memastikan apakah siswa tersebut bisa terobati atau tidak.

"Terlalu cepat trauma healing kalau hanya satu kunjungan. Memang belum terlihat saat ini di permukaan, tapi saya yakin psikolog bisa mengetahui bagaimana penanganan trauma," ucap dia 

Baca juga: Rusuh Tanah Rempang Jatuh Korban, ini Tanggapan Mahfud MD

Dia menambahkan bahwa trauma healing tidak cukup hanya dengan melihat apakah mereka sudah tertawa, ceria, dan beraktivitas seperti biasa. Karena yang terdampak saat kejadian itu tidak sedikit.

"Jadi tidak sekali saja, harus melakuikan asesmen mendalam oleh lembaga yang memiliki peran memberikan trauma healing," kata dia.

Berita Terkini