Oleh Gufron Aziz Fuadi*
BEBERAPA waktu lalu, saya ke Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Sabtu dan Minggu (2-3/12/2023), saya ke Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara. Ada pemandangan yang sama di kedua ruas jalan, tidak ada baliho capres dan cawapres AMIN. Capres dan cawapres lainnya banyak.
Orang yang duduk di sebelah saya tanya: Kok nggak ada ya Mas (baleho AMIN)? Ya, saya jawab, harap maklum pengusung dan pendukung AMIN bukan partai kaya dan bukan para konglomerat atau oligarki.
Bahkan para pengusaha lokal pun, seperti pernah diceritakan Anies sendiri, mereka mendapat tekanan sehingga tak berani bantu buat baleho, jawab saya.
"Lah terus gimana mau menang?" tanyanya lagi. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya terpaksa "ngustadz" dengan jawaban "iman" dan otomatis mengurangi dalil logika.
Secara logika, pertanyaan tersebut agak sulit menjawabnya. Lha wong kita dana nya paling terbatas, koneksi dengan panitia juga paling lemah dan dukungan dari yang seharusnya netral juga minim. Saya tidak menyebut gubernur, bupati dan walikota apalagi TNI/Polri dan pejabat birokrasi karena secara UU kan memang seharusnya netral.
Baca juga: Gubernur Arinal Luncurkan Beras Medium Berjaya
Karena itu, tanpa mengabaikan variabel tersebut, kita harus serius dengan variabel keimanan bahwa menang kalah itu urusan Allah SWT, hak prerogratif Allah. Kewajiban kita hanya berjuang dan berdoa menggantungkan harapan kepada Allah Yang Maha Penolong dan Maha Kuasa.
Lagi kita punya dana, koneksi dan kuasa saja masih harus bergantung kepada Allah, apalagi saat kita miskin koneksi dan sumber daya. Kita ini sering keliru, sudah jelas tidak punya sumberdaya yang memadai kok mau bersaing dengan sumber daya kompetitor.
Seperti di perjalanan terakhir, saat saya tanya bagaimana peluang mendapatkan kursi di dapil sini (DPRD kabupaten)? Katanya, peluangnya cukup besar, insya Allah kursi ke empat atau kelima dari enam kursi.
Bagaimana kompetitornya?
Lumayan berat, katanya. Karena ada enam incumbent, ada 7 caleg baru yang siap modal 1 M an, dan ada dua yang menyiapkan 2 M, yang orang tuanya punya pom bensin yang disana dan yang disitu.
Baca juga: Ketua TP-PKK Lambar Terima Penghargaan Adi Bhakti Pratama
Terus sekarang ente nyatet daftar calon pemilih yang nantinya akan diberi bingkisan agar memilih ente gitu?
Ora sumbud, nggak sepadan.
Mengapa kita harus meniru pihak lain yang jelas jelas punya kelebihan dibidang itu dibanding kita.
Mengapa kita tidak lebih memprioritaskan kelebihan kita, tanpa melupakan kerja pada bidang lain. Ini kok seperti parikan Campur Sari,
Buto ijo katoke suwek/ Tuku blangkon nggo kondangan/ Karo bojone dewe malah cuek/ Karo bojone wong kok malah perhatian. Yang kita miliki dicuekin, tidak diprioritaskan, malah jatuh bangun untuk yang jelas jelas tidak kita miliki.
Berjuang dengan segala dan upaya adalah kewajiban yang harus dilakukan, tetapi mendekat dan bergantung bergantung kepada Rabbul asbab harus lebih dikuatkan. Jangan sudah nggak punya dana dan sumberdaya, malah Allah dijauhi. Harus terus ditanamkan rasa "Allahu ma'i..."
Untuk itu coba renungkan, tadhabur ayat 45 sd 47 surat al Anfal,
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka (1)berteguh hatilah dan (2) sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung.
Baca juga: Sekdaprov Fahrizal Buka Temu Kader PKK se-Provinsi Lampung Tahun 2023
Dan (3) taatilah Allah dan Rasul-Nya dan (4) janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang. Dan (5) bersabarlah, sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan (6) rasa angkuh dan (7) ingin dipuji orang (riya’) serta (8) menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan."
Sayang nya, puncak ma'rokah yang tinggal 80 an hari lagi, masih banyak yang belum merapat dan mendekat kepada Rabbul Asbab. Prosentase yang dawam membaca Alquran satu hari se-juz, dzukir matsurat pagi dan petang, berdoa untuk kemenangan dan amal yaumian lain hanya dikisaran 30%.
Baca juga: Bupati Dendi Lantik Baznas Pesawaran 2023-2028
Maksiat akan menjauhkan datangnya pertolongan Allah. Kata guru kita dulu, maksiat bagi masyarakat awam adalah saat mereka tidak salat, minum minuman keras, pacaran, menipu dan sebagainya.
Tetapi bagi aktivis dakwah disebut maksiat bila kita tidak khatam Alquran setiap 30 hari, jarang puasa sunah, jarang shalat malam, malas berinfak, malas berdoa dan berdzikir.
Kalau pun berdoa pun egois, hanya untuk dirinya dan keluarganya saja tanpa mendoakan kemenangan dan tegaknya Izzah Islam. Apalagi mendoakan menang pemilu, wong dirinya bukan caleg kok.
Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)